
Mobil Dewanto terparkir di depan kos Nada. Pintu kamarnya tertutup rapat seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ponselnya tak bisa dihubungi sejak tadi. Kenapa gadis itu bisa berlari dengan kencang meskipun menggunakan sepatu wedges? Ia segera turun dari mobil dan menaiki tangga menuju kamar Nada. Langkah kakinya terasa terburu-buru. Ia harus menanyakan segalanya atau selamanya akan terjadi salah paham.
Dewanto mengetuk pintu kamar Nada dengan ketukan yang keras. Ia tak lagi peduli dengan kata tetangga yang terganggu karena kebisingan ini. Dewanto terus mengetuk pintu kamar Nada beberapa kali tapi tak satupun disahut dari dalam. Ia juga tidak mendengar adanya pergerakan dalam kamar itu.
Terdengar suara pintu yang terbuka. Tentu saja itu bukan berasal dari kamar Nada, melainkan dari kamar Maria. Gadis itu melongok untuk memeriksa apa yang terjadi.
“Ada apa? Nada belum pulang.” ucap Maria dengan penampilan mengenakan kaos pendek dan celana hot pants yang memperlihatkan hampir seluruh kakinya yang putih bersih.
Mata Dewanto terbelalak. Gadis itu bahkan belum sampai kos. Kemana perginya? Mungkinkah ia pulang ke rumah orangtuanya? Dewanto hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Menerka-nerka karena Nada belum bisa dihubungi sama sekali.
“Bukankah dia bersamamu? Tadi sore itulah pesan yang ia kirim padaku. Katanya kalian akan makan malam keluarga. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Maria mulai khawatir terjadi sesuatu pada sahabatnya.
Dewanto hanya bisa diam. Ia tidak tahu harus menceritakan dari mana. Selain itu, Nada masih belum ketemu. Ia semakin merasa bersalah. Tapi, mendengar pendapat dari pihak Nada bukanlah hal buruk. Ia perlu menilai dari berbagai sisi agar bisa mengambil keputusan terbaik.
“Maria, apa kau tahu tentang mantan kekasih Nada yang bernama Pandu?”
Mata Maria terbelalak. Bagaimana mungkin Dewanto langsung menanyakan hal itu? Apa Nada yang menceritakannya? Tidak mungkin. Ia merupakan orang terdekat yang tahu seberapa kuat usaha Nada untuk melupakan Pandu. Pengorbanan apa yang dilakukan Nada agar terlepas dari segala hal tentang Pandu?
“Darimana kau tahu? Apa alasan ini yang membuatmu mencari Nada kemari?” suara Maria mulai terdengar berat. Ia paling tidak ingin membahas tentang Pandu pada orang lain. Apalagi Dewanto.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi, Pandu adalah adik iparku. Tadi Nada bertemu dengan Pandu dan juga istrinya.” jelas Dewanto mulai terlihat kebingungan.
__ADS_1
Maria menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tidak mungkin salah dengar kan? Bagaimana bisa dunia hanya seluas daun kelor? Sekuat apapun Nada berusaha lari dari Pandu, pada akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.
“Jadi….kau adalah kakak dari wanita yang sudah menghancurkan hubungan Nada dan Pandu? Yang membuat Nada mengalami trauma paling dalam sepanjang hidupnya?”
Dewanto membisu. Ia sama sekali belum pernah mendengar cerita ini. “Aku sama sekali tidak tahu hal itu. Aku juga baru saja tahu beberapa jam yang lalu.”
Maria terdiam. Raut wajah Dewanto terlihat sangat depresi. Ia tak bisa menyalahkan Dewanto atas kelakuan Sasti yang sudah merebut Pandu dari Nada. Cepat atau lambat Dewanto akan mengetahuinya. Jika memang pria ini yang terbaik, ia pasti takkan meninggalkan Nada. Ia pasti memilih untuk percaya pada Nada seperti apapun masa lalunya.
“Masuklah. Akan kuceritakan semuanya. Semua yang ingin kau ketahui.”
******
Nada membolak-balik halaman demi halaman. Ia hanya menggigit jari karena bingung harus memilih yang mana. ia selalu merasa geli ketika menggunakan aksesoris berupa kalung. Ia juga sering lupa jika menggunakan gelang. Satu-satunya yang menjadi pilihan terakhir adalah cincin. Tapi bagaimana dengan Pandu?
Kali ini Nada benar-benar kebingungan. Tapi pilihan terkuat jatuh pada cincin. Jari telunjuknya mulai bergerak untuk memilih model cincin. Beberapa detik kemudian jarinya sudah mendarat pada sebuah model cincin dimana sisi kanan dan kiri saling bertautan.
“Untuk ukiran namanya silakan ditulis di sebelah gambar cincin. Untuk ukuran cincin juga tolong disertakan.” ucap petugas toko yang melayani para pelanggan mereka.
Nada dan Pandu saling bertatapan. Mereka bahkan tidak tahu ukuran jari masing-masing. Tapi karena tak mungkin mengatakan tidak tahu ukuran masing-masing, Pandu segera menuliskan angka yang ia perkirakan sendiri. Karena jari-jari Nada terlihat sangat kecil, ia memesan nomor paling kecil untuk milik Nada. Sedangkan satu ukuran lebih besar untuk dirinya. Nada hanya terbengong dengan keputusan Pandu yang tiba-tiba itu.
Keduanya pergi dari toko itu setelah membayar uang muka pembuatan cincin. Nada hanya menatap terus wajah Pandu yang terlihat riang gembira. “Kenapa? Memangnya kau tahu tentang ukuran cincin?”
__ADS_1
“Tidak.” Jawab Pandu singkat padat dan jelas dengan tampang tanpa dosa.
“Kenapa seenaknya memesan ukuran tanpa tahu apa-apa?” celoteh Nada dengan kesal. Tentu saja ia kesal karena Pandu dengan santainya memutuskan tanpa tahu apa-apa.
Pandu segera merangkul pundak Nada. “Ayolah, aku yakin dengan ukuran itu. Kau tidak usah khawatir, sayang.”
Nada hanya menampakan wajah cemberut dan Pandu selalu mencubit pipi tembem itu.
******
Nada memasuki rumahnya dengan langkah yang berat. Ia terus saja terbayang wajah depresi yang nampak dari wajah Pandu. Ibu Nada menyambut putri satu-satunya dengan penuh kerinduan. Sejak memutuskan untuk hidup mandiri di kos, Nada sangat jarang pulang ke rumah. Ia hanya akan pulang ketika Ibu atau Ayahnya memanggil karena ada kondisi darurat. Selain itu, ia tak pernah punya niat untuk pulang.
”Apa kau sudah makan? Ada apa? Kenapa pulang tidak memberitahu Ibu dulu?” Tanya Ibu yang langsung menyambut dengan wajah khawatir.
“Aku perlu mengambil sesuatu. Tapi malam ini boleh aku menginap disini, bu?”
Ibu Nada tersenyum melihat pertanyaan aneh anaknya. Beliau merangkul anaknya dengan erat. Seolah mengerti ada suatu perasaan aneh yang terlintas dalam raut wajah Nada saat ini. “Kau boleh pulang kapan saja. Kau boleh tinggal kapan saja. Kau boleh lakukan apa saja.”
Nada tersenyum. Ia memang membutuhkan kasih sayang yang hangat dari Ibunya. Meski tak sanggup menceritakan semuanya, dengan pelukan erat dari Ibunya sudah mampu menenangkan hati Nada untuk sesaat. Yang ia butuhkan hanya ketenangan hati dan pikiran. Ia harus memikirkan kembali segala hal yang terjadi hari ini.
Kamar yang sudah cukup lama ia tinggalkan dan hanya ia tempati sesekali namun tetap terlihat rapid an bersih. Tentu saja Ibu selalu membersihkan kamar itu seminggu sekali. Bingkai foto yang tergantung di tembok bahkan tanpa ada debu sama sekali padahal sudah ditinggal penghuninya selama beberapa bulan.
__ADS_1
Nada merebahkan tubuhnya. Rasa lelah seolah benar-benar menguasai seluruh sendi-sendi pada tubuhnya. Ia mengambil ponsel dari dalam tas dan masih dalam keadaan berbaring. Untuk sesaat, ia sudah melupakan tentang ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan terlihat pada layar locksreen. Namun, setiap kali Nada mengingat kejadian di rumah Dewanto membuatnya enggan untuk membalas pesan tersebut. Ia memilih diam sesaat sampai hatinya kembali tenang. Menjauh dari Dewanto mungkin salah satu keputusan terbaik saat ini. Karena Dewanto ada kaitannya dengan Pandu dan Sasti.