
Amarah Maria masih memuncak saat mengetahui jika Nada memilih untuk pergi dengan Pandu daripada dengan mereka. Sejak tadi ponsel Nada tak bisa dihubungi sama sekali. Kemana Pandu membawa Nada pergi? Maria hanya mondar-mandir tanpa memikirkan untuk memesan makanan apa. Perutnya tiba-tiba kenyang saat Cecyl datang membawa kabar yang mengerikan baginya.
Haruskah ia memberitahu Dewanto tentang ini? Tapi ia khawatir akan mempengaruhi hubungan Nada dan Dewanto. Tapi jika dibiarkan saja, apakah akan berakhir baik-baik saja? Semenjak mendengar kabar jika Pandu dan Nada bertemu lagi, perasaan Maria tidak tenang. Ia takut jika Nada akan melakukan hal bodoh sama seperti saat itu lagi.
Hampir saja ia kehilangan salah satu sahabatnya. Jika saja Maria terlambat satu menit saja, mungkin nyawa Nada tidak akan selamat. Saat itu, Nada pulang dari bekerja seperti biasanya. Ia memang terlihat lebih banyak melamun. Awalnya berfikir mungkin hanya kecapekan. Tapi beberapa menit setelah masuk kamar Nada tidak menunjukan pergerakan apapun. Bahkan lampu kamarnya dibiarkan dalam kondisi mati.
Karena khawatir Maria nekat memasuki kamar kos Nada. Anehnya pintu itu bahkan belum tertutup secara sempurna. Perasaan Maria semakin menjadi ketika melihat tas dan sepatu yang tadinya dipakai Nada tergeletak begitu saja di lantai. Nada bukan tipe wanita yang nyaman dengan kondisi rumah yang berantakan.
Maria memasuki ruang tengah dan terkejut saat melihat beberapa tetes darah segar berceceran di lantai. Jantungnya serasa berhenti memompa saat melihat Nada tergelatak tak berdaya dengan darah yang terus mengalir di pergelangan tangannya. Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi ambulan. Beruntung Nada masih bisa diselamatkan walaupun sempat kehilangan banyak darah.
Sedikitpun ia tak ingin hal mengerikan itu terjadi lagi. Saat itu Maria menemukan ponsel Nada yang memperlihatkan sebuah foto pernikahan Pandu dan Sasti. Saat itu, detik itu, Maria berjanji akan menjauhkan Nada dari Pandu apapun yang terjadi. Nada berhak untuk bahagia. Tapi bukan dengan Pandu.
“Duduklah dulu. Kita tunggu Nada kembali dengan tenang.” ucap Cecyl berusaha membujuk Maria yang masih panik. “Ia pasti kembali dengan keadaan baik-baik saja.”
Tiba-tiba pintu café terbuka dan Nada masuk sambil mencari keberadaan Maria dan Cecyl. Maria segera melambaikan tangannya dan Nada bergegas menghampiri mereka.
“Kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka? Apa yang Pandu lakukan padamu? kau tidak menangisi pria brengsek itu, kan?” Tanya Maria mulai mencecar dengan sejuta pertanyaan.
“Aku baik-baik saja. Untuk apa aku menangis? Dia hanya bercerita sedikit. Hanya sekedar ingin tahu kabarku. Itu saja.” jelas Nada sambil duduk dan mulai membuka buku menu. Perutnya sudah sangat lapar.
“Apa aku perlu mengatakan pada Dewanto jika Pandu baru saja menemuimu?”
Nada menatap Maria. “Tidak perlu sampai begitu. Sungguh tidak terjadi hal yang penting diantara kami. Hanya sebuah percakapan basa-basi kecil karena sudah lama tidak bertemu.”
__ADS_1
Maria terlihat masih tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan Nada. Cecyl menggenggam lengan Maria. Memberi isyarat agar menghentikan rasa khawatirnya. Asalkan Nada kembali dengan selamat dan tersenyum, bukankah itu sudah lebih dari cukup? Kali ini Maria memilih untuk melakukan gencatan senjata.
*******
Nada tidak menyukai ini. Sama sekali tidak. Hidupnya seolah seperti Roller Coaster semenjak ia bertemu kembali dengan Pandu. Setelah sekian lama ia berusaha untuk bisa lepas dari Pandu dan keluarganya. Kini ia harus kembali berurusan dengan mereka. Tidak terkecuali dengan wanita yang telah merebut Pandu darinya. Entah untuk tujuan apa wanita yang bernama Sasti itu muncul lagi dan bahkan berani mengajak Nada untuk bertemu.
Sebenarnya bisa saja Nada mengajak untuk bertemu di sebuah café atau restoran mahal. Tapi untuk apa? Hubungan diantara mereka tidak sebaik itu sampai harus menghabiskan makanan yang dipesan berlama-lama. Sebuah lobby rasanya sudah lebih dari cukup untuk pembicaraan yang sama sekali tidak menguntungkan baginya.
“Ada perlu apa mencariku?” Tanya Nada memulai pembicaraan. Ia sudah malas meladeni wanita penggoda di hadapannya ini. Sampai mendatangi ke kantor, sungguh tidak punya kerjaan sekali wanita penggoda ini.
“Kau tahu aku, kan? Aku istrinya Pandu.” ucap wanita itu sambil melipat kedua tangannya ke depan. Sikapnya terkesan sangat angkuh sekali.
“Lalu?” Tanya Nada dengan cuek.
“Lebih tepatnya, Dia yang menemuiku. Kenapa? Ada masalah?” Tanya Nada tidak kalah menunjukkan sikap angkuhnya. Tentu saja ia tidak ingin bersaing dengan anak bau kencur sepertinya. Tapi Nada juga termakan dengan emosinya sendiri.
Sasti terlihat seperti sedang menahan emosinya. “Aku minta jangan pernah temui dia lagi. Dia sudah punya istri. Tidak seharusnya kau menemui seorang pria yang sudah beristri.”
Kali ini Nada terpaksa menatap mata wanita itu. Ia harus bisa mengendalikan emosinya. “Sebaiknya sebelum kau melakukan hal ini, periksa dulu suami tercintamu itu. Dia yang menemuiku, Dia yang menghubungiku, dan Dia sampai mendatangi kantorku. Apa itu berarti aku yang salah?”
Sasti menghela nafas. “Tentu saja kau juga salah. Jika saja kau tak pernah menanggapi Pandu, aku yakin dia tidak akan menemuimu. Jangan harap Kau bisa merebut Pandu dariku !!”
“Kau bilang apa? Aku merebut Pandu darimu? Kaulah yang merebut Pandu dariku.” Kali ini Nada mulai memanas. Susah payah ia menahan sakit hatinya sekaligus amarahnya. Tapi wanita ini terus saja memancing kemarahan Nada. “Kau tak perlu khawatirkan hal itu. Aku tidak akan pernah mengikuti jejak wanita penggoda sepertimu. Karena seorang pengkhianat seperti Pandu sudah sepantasnya bersama dengan penggoda sepertimu.”
__ADS_1
Sebuah tangan melayang menuju wajah Nada. Namun ia berhasil menepis tangan itu. Nada mencengkeram kuat tangan Sasti yang hendak menampar wajah Nada karena tidak terima dengan perkataan yang baru saja diucapkan Nada.
“Apa? Kau mau menamparku? Butuh waktu 100 tahun lagi bagimu untuk bisa menamparku.” Nada melempar tangan Sasti dengan keras. “kau bukanlah tandinganku. Karena aku tidak sudi bersaing dengan wanita rendahan sepertimu.”
Sasti mulai marah. “Kau….apa kau tahu jika kakakku adalah investor perusahaan ini? Aku bisa katakan pada kakakku untuk mencabut saham yang ia tanamkan pada perusahaan ini. Akan kubuat pegawai rendahan sepertimu dipecat karena terlibat skandal dengan kakakku. Sampai kapanpun tidak akan kurestui kalian.”
Nada bergeming. Haruskah ia meladeni anak kecil itu? Seorang yang tidak tahu apapun tapi bersikap sombong dan mengatakan seolah dia tahu segalanya. Ingin rasanya Nada memberinya pelajaran. Tapi wanita ini adalah adik kesayangan Dewanto. Tidak mungkin ia melakukannya.
“katakan saja. Buatlah seorang pegawai rendahan sepertiku dipecat karena terlibat skandal percintaan dengan seorang investor. Aku tidak takut !!” Tantang Nada mulai mengeluarkan tanduknya. “Jika kakakmu ingin mencabut saham investasinya, silakan saja. Itu tidak masalah bagi perusahaan ini.”
Nada melambaikan tangan pada salah seorang sekuriti yang tiba-tiba lewat di belakang mereka. Sekuriti itu segera mendatangi Nada. “Pak, bisa minta tolong antarkan wanita ini keluar? Kurasa pembicaraan kami sudah selesai.”
“baik, bu Nada. Mari Nyonya, saya antar keluar. Bu Nada masih harus kembali bekerja.” ucap sekuriti itu mencoba tetap bersikap sopan pada Sasti.
“Lihat saja!! Akan kukatakan jika kau sering bertemu dengan Pandu. Tidak akan kubiarkan kau bahagia dengan kakakku !!!” teriak Sasti sambil membanting salah satu vas bunga yang ada di meja tamu.
Nada terkejut. Ia memang sangat jarang melihat wanita yang marah bahkan sampai memberontak. Ada rasa kasihan terbesit dalam benaknya. Wanita itu pasti sangat tertekan karena harus berusaha mempertahankan pernikahannya seorang diri. Berusaha bertahan meskipun sebenarnya menyadari jika sudah hancur berkeping-keping.
Nada mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin berdebat terlalu lama dengan Sasti. Ia memilih meninggalkannya dan tidak akan berurusan lagi. Nada berjalan kembali memasuki ruangannya. Meninggalkan Sasti yang mulai dituntun keluar oleh sekuriti meskipun masih terlihat sedikit memberontak.
“Kenapa Bapak mau disuruh-suruh begitu sama wanita itu? Dia hanya pegawai biasa yang rendahan. Tidak perlu dipatuhi perintahnya.” ucap sasti sambil mengomel pada Bapak sekuriti.
“Maaf, Nyonya. Ibu Grenada itu Manajer keuangan di perusahaan ini. Saya tidak berani macam-macam dengan beliau. Selama hampir enam bulan ini perusahaan mengalami peningkatan yang cukup pesat semenjak keuangan dipimpin beliau. Selain ramah dan baik hati, beliau juga cantik dan cerdas.”
__ADS_1
Sasti semakin panas dengan penjelasan yang cenderung menjunjung nama baik Nada. Ia terkejut jika wanita itu adalah manajer keuangan perusahaan itu. Apa mungkin ia sudah membuat masalah dengan orang yang tidak tepat? Sasti terdiam sejenak dan memilih untuk pergi dari tempat itu agar tidak menimbulkan masalah lain.