Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Girls talk about boy


__ADS_3

Dewanto melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup untuk membuat sekelilingnya menoleh karena penasaran dengan apa yang terjadi. Sesekali ia melirik penumpang di sampingnya yang terlihat mulai sedikit demi sedikit memejamkan kedua matanya. Khawatir gadis itu akan membenturkan kepalanya pada jendela mobil, ia memilih untuk mengurangi kecepatan mengemudinya.


Dewanto selalu tersenyum simpul setelah menatap wajah Nada yang sedang tertidur pulas. Bertanya-tanya dalam hati apakah gadis itu memang sangat ceroboh seperti ini? Bagaimana mungkin ia bisa tertidur nyenyak padahal disampingnya ada seorang pria yang baru saja dikenal? Tentu saja Dewanto adalah pria baik-baik yang tidak akan menyentuh seorang wanita yang sedang tertidur pulas.


Sejak kecil Dewanto selalu diajarkan oleh Ayahnya untuk menghormati seorang wanita. Bagi Ayahnya, seorang wanita seperti layaknya mahkota yang harus dijaga dan dihormati. Hal itulah yang melekat pada diri Dewanto sampai saat ini. Betapa ia begitu menghormati seorang wanita sampai tidak ada yang berani mendekatinya dan hanya bisa mengagumi dari jarak jauh.


Tidak sedikit wanita yang pernah mendekati Dewanto namun selalu berakhir dengan rasa malu dan sungkan karena Dewanto terlalu menghormati seorang wanita. Sedangkan mereka mendekati Dewanto dengan penuh tipu muslihat. Tapi entah kenapa di depan Nada, ia merasakan hal yang berbeda. Rasa menghormati yang biasanya ia lakukan pada setiap wanita, berubah menjadi rasa ingin melindungi setiap bersama Nada.


Dewanto segera menepikan mobilnya untuk mencari lokasi parkir yang pas. Rumah kos yang cukup besar. Tapi kenapa Nada memilih untuk kos? Apa orang tuanya tinggal di luar kota? ragu-ragu ia membangunkan gadis di sebelahnya. Apa tindakannya sopan? Atau justru ini sikap yang kurang ajar? Dewanto bergelut dengan pikirannya sendiri. Tapi sesaat kemudian ia mengambil langkah untuk membangunkan Nada yang masih nyenyak tertidur.


“Nada? Kita sudah sampai. Bangunlah.” Ucap Dewanto sambil menyentuh bahu kecil Nada dengan lembut. Berusaha tidak sampai mengagetkan Nada ketika terbangun.


Gadis itu terlihat menggerakkan beberapa jari tangannya dan perlahan membuka matanya. Dewanto sangat bersyukur ia tidak sampai mengagetkan Nada. Terlihat gadis itu seperti membenarkan posisi duduknya dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran.


“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Dewanto dengan wajah tanpa dosa dan tersenyum bagaikan malaikat.


Nada sempat terkejut selama beberapa detik kemudian berteriak karena kaget. Usaha Dewanto untuk membangunkan Nada tanpa membuatnya kaget berakhir sia-sia. “Kenapa membiarkanku tertidur?”


“Kenapa lagi? Karena kulihat kamu kecapekan, jadi kubiarkan kamu tidur sebentar.” jawab Dewanto berusaha membuat Nada tenang. Tidak ingin tetangga sampai menyadari teriakan Nada barusan.

__ADS_1


Merasa sangat malu dan gengsi, Nada segera keluar dari mobil sambil membawa beberapa barang yang ia beli selama berjalan-jalan di mall. Ia buru-buru meninggalkan Dewanto yang masih dipenuhi tanda tanya. Tanpa berfikir panjang Dewanto segera menyusul Nada dan berusaha menjelaskan yang terjadi.


“Kau marah gara-gara aku membiarkanmu tertidur di mobil? Apa menurutmu itu tindakan yang salah?” Dewanto berusaha setengah berlari mengejar Nada yang mulai menaiki tangga menuju kamarnya. Ia menarik tangan Nada ketika hampir sampai depan kamarnya. “Katakan, apa yang salah? Jangan langsung pergi begitu saja.”


Nafas Nada memburu. Ia mencoba bernafas dengan baik tapi tangannya gemetar karena disentuh Dewanto. Ia mengalihkan pandangan dari tatapan Dewanto. “Bisa kau lepaskan tanganku? Aku tidak ingin orang lain yang melihat jadi salah paham.”


Alis Dewanto berkerut. Ia merasa Nada akan berusaha lari jika genggamannya terlepas. “Aku akan melepaskannya, jika kau mau memberi tahu alasan kenapa kau tiba-tiba lari begitu saja. Katakan saja apa salahku.”


Nada bergeming merasakan genggaman Dewanto yang semakin kuat memegang lengannya. “Aku hanya…hanya malu.”


Dewanto seketika melepas genggaman tangannya. “Kenapa malu? Apa tertidur itu memalukan? Sisi mana yang menunjukan itu memalukan?” teriak Dewanto merasa aneh dengan alasan yang dibuat Nada.


“Kecilkan suaramu atau tetangga akan mendengarnya.” bisik Nada sambil melotot pada Dewanto. Sepertinya ia lupa jika pria di hadapannya adalah direktur yang akan menginvestasikan dana pada projek besar yang diadakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.


“Aku…aku tidak pernah tertidur di dekat orang yang baru dikenal.” ucap Nada tanpa menatap mata Dewanto. Ia hanya terus menunduk menahan rasa malu. “Aku hanya gugup.”


Dewanto tersenyum melihat Nada yang gugup. Ia mengetahui sisi lain dari gadis yang beberapa hari ini sudah menarik perhatiannya. Hari ini seperti sebuah jackpot baginya. Meski ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya. “Kenapa tadi siang kau menangis?”


Nada terkejut dengan satu pertanyaan itu. Berjuta pertanyaan terlintas dalam benaknya. Dari mana Dewanto tahu jika tadi ia menangis? Mungkinkah ia melihatnya?

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar terbuka. Sebuah kepala muncul dari dalam kamar. “Kau sudah pulang, Nada?” teriak Maria seperti biasanya tanpa menyadari masih ada Dewanto disana. “Ohh…ternyata ada tamu. Maaf ya, aku mengganggu. Silakan dilanjutkan.” ucap Maria sambil tersenyum penuh arti.


“Maria, tunggu !! ini bukan……” teriak Nada berusaha melepas genggaman Dewanto.


“Selamat malam, aku Dewanto. Maaf sudah mengantarkan Nada sampai larut malam. Aku meminta bantuannya untuk mencarikan kado ulangtahun adikku.”


“Ohh…pria yang sopan. Tidak apa. Sering-sering saja mengajak Nada pergi. Kasihan dia sudah berkarat saking lamanya menjomblo.” ucap Maria sambil tersenyum jahil.


Nada hanya melotot seakan ingin menerkam teman kosnya hidup-hidup. Dewanto melepas genggamannya dan segera berpamitan pada Maria. Di satu sisi ia berterima kasih pada Maria karena telah menyelamatkan dari pertanyaan terakhir Dewanto. Tak lama Dewanto segera turun dari tangga dan menaiki mobilnya. Waktu tidak bersahabat untuk membiarkannya mampir.


Nada segera masuk kamarnya dan diikuti oleh Maria. Sepertinya itu berupa sinyal jika gadis itu akan tidur di kamar Nada. Nada melepas jaket dan beberapa aksesoris yang menempel pada tubuhnya. Ia mengambil selembar kapas dan mulai menuangkan micellar water untuk membersihkan make up. Maria hanya memperhatikan setiap gerakan Nada tanpa mulai bertanya. Sebenarnya Nada sangat hafal dengan tingkah laku Maria yang seperti ini. Ia menunggu sampai Nada menyelesaikan sisa pekerjaannya. Gadis itu setia menunggu sampai Nada duduk di sebelahnya dan mengatakan “Kau ingin bertanya apa?’


Maria terkejut dengan pertanyaan itu. Bahkan Nada belum selesai membersihkan make up di wajahnya. “Bukannya tadi kau bertemu dengan direktur untuk membahas terkait laporan keuangan. Kenapa jadi berakhir dengan pria setampan itu?”


Gerakan mengusap terhenti seketika. Nada memang mengakui jika Dewanto adalah pria dewasa yang mempunyai kharisma dan daya tarik tersendiri. Bahkan Maria mengatakan bahwa dewanto adalah pria yang tampan. “Dia direktur yang aku maksud.”


Mata Maria membulat sempurna. “jadi dia direktur batubara yang akan menginvestasikan dana pada projek perusahaan tempatmu kerja? Dan kalian terlibat hubungan percintaan?”


“kau jangan membuat cerita sendiri !!”

__ADS_1


“Tapi kalian tadi bergandengan tangan. Apa aku salah mengartikan?”


Nada mengambil selimut dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia mulai mematikan lampu kamarnya. “Selamat tidur.”


__ADS_2