Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Percaya atau Tinggalkan


__ADS_3

“Kau


ingin tahu mulai darimana?” Tanya Maria mempersilakan Dewanto untuk duduk.


Kamar


Maria memang tidak mempunyai perabotan rumah tangga yang lengkap seperti Nada.


Berlawanan jauh dengan Nada, dekorasi kamar Maria cenderung lebih terkesan


artistik. Ia mengusung konsep rumah minimalis dalam dekorasi kamarnya. Tema


monokrom menjadi hiasan utama yang membingkai kamar kos Maria. Nuansa puih abu


memberikan kesan luas pada kamarnya. Maria duduk di sebuah sofa putih yang


langsung berhadapan dengan televisi.


Dewanto


diam sesaat. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin diketahui. Darimana


seharusnya ia menanyakan tentang masa lalu Nada? Sebenarnya hal semacam ini


seolah bukan seperti Dewanto. Ia lebih memilih menanyakan langsung pada yang


bersangkutan. Akan tetapi, jika kondisinya seperti ini, terpaksa ia mencari


informasi dari berbagai sumber.


“Bagaimana


mereka berpisah?”


Maria


tertegun dengan pertanyaan pertama yang dilontarkan Dewanto. Sepertinya ia


sudah salah menilai pria di hadapannya ini. Maria bangkit dari duduknya dan


mengambil beberapa bungkus kopi instan dan gelas. Sepertinya pembicaraan itu


akan berlangsung lama. Tidak ada salahnya mengusir kantuk dengan segelas kopi.


“Kupikir


kau akan menanyakan bagaimana Nada selama bersama Pandu. Tapi ternyata kau


langsung bertanya bagaimana mereka putus.” ucap Maria sambil menuangkan air


panas ke dalam cangkir berisi kopi instan. “Kau benar-benar diluar dugaanku.”


Maria


menyerahkan secangkir kopi dan mempersilakan Dewanto untuk duduk dimana saja ia


mau. Cerita itu mungkin akan memakan waktu tapi Maria berusaha mempersingkat


namun tidak menghilangkan fakta-fakta penting.


“Itu


terjadi sekitar mungkin hampir lima tahun yang lalu. Saat itu Nada dan Pandu


masih berhubungan jarak jauh karena Nada kerja di luar kota dan Pandu kerja di


kota ini.” ucap Maria memulai ceerita panjang itu. “Saat itu Nada pulang dan


Pandu mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.”


“Alasannya?”


Maria


meneguk kopinya. “Sebelumnya memang mereka punya masalah karena orangtua Nada


kurang setuju dengan hubungan mereka. Tapi Nada berhasil meyakinkan kedua


orangtuanya untuk mempercayai Pandu. Tapi beberapa bulan kemudian Pandu


menggunakan alasan itu untuk mengakhiri hubungannya dengan Nada. Bahkan kedua


orangtua Pandu sempat marah saat mendengar hal itu dan menyuruh Pandu


memutuskan Nada.”


Dewanto


masih mendengarkan cerita Maria dengan seksama. Ia masih berusaha mencerna

__ADS_1


cerita itu dengan sudut pandangnya sendiri tanpa membela pihak manapun.


“Tapi


satu minggu setelah hubungan itu berakhir, Pandu mengganti foto profil pada


sosial media miliknya dengan foto seorang wanita yang kemudian diketahui


namanya adalah Sasti. Bahkan saat itu luka hati Nada belum kering, tapi seolah


semuanya terjawab dengan satu foto itu. Ya…Pandu mengkhianati Nada dengan


menjalin hubungan dengan Sasti.”


Dewanto


tetap diam sambil membawa cangkir kopi di tangan kanannya. Ia mencoba untuk


tidak menempatkan dirinya di posisi sebagai kakak dari Sasti. Kenyataan jika


adiknya sudah menghancurkan hubungan orang lain memang sangat mengejutkan


baginya. Tapi dalam hal ini Sasti tidak bersalah sepenuhnya. Ada campur tangan


Pandu.


“Selama


satu bulan Nada hanya keluar kamar kos untuk kepentingan pekerjaan. Selain itu


ia hanya berdiam diri di kamar. Karena khawatir, aku beberapa kali menengok.


Takut terjadi sesuatu. Tapi ia hanya tersenyum dan bilang ‘Aku masih punya


agama. Aku tidak akan melakukan hal bodoh.’ Tapi tetap saja ia seperti robot


yang berpura-pura tersenyum.”


Maria


melirik Dewanto yang hanya diam dan tetap mendengarkan dengan seksama. Ia


memang belum sepenuhnya mengenal seperti apa Dewanto tapi ia hanya bertaruh


jika pria yang ada di hadapannya itu tidak akan menyakiti Nada seperti yang


“Beberapa


bulan setelah itu, Nada masih sering dihubungi oleh kakak Pandu dan juga


orangtuanya. Kadang hanya menanyakan kabar, tapi sering juga menyuruh Nada


untuk ke rumah Pandu. Setiap kali aku mendengar Nada menceritakan itu, ingin


rasa memaki orangtuanya. Memangnya mereka tidak berfikir jika trauma yang


dialami Nada juga karena mereka? Apa maksudnya menyuruh Nada datang ke rumah?


Dikira Nada itu wanita murahan yang masih mengejar pria yang sudah


membuangnya?!!” Maria mulai memanas setiap kali membicarakan tentang orangtua


Pandu. Ia selalu berfikir memangnya orangtuanya tidak tahu sama sekali jika


anaknya mengkhianati Nada. Sudah jelas jika mereka juga mendukung keberadaan


Sasti.


“Aku


yakin kamu pasti tidak terima karena adikmu berada di posisi seperti ini. Kau


bisa mencari tahu melalui adikmu sendiri. Tapi yang jelas, Nada berusaha keras


untuk tidak terlibat apapun dengan segala hal yang berkaitan dengan Pandu.


Jadi, setelah ini terserah padamu. Kau boleh percaya pada Nada atau bahkan


meninggalkannya. Akan jauh lebih baik jika kau cepat memberi keputusan.”


Dewanto


meletakkan cangkirnya. Ia rasa sudah cukup mendengar sekilas tentang masa lalu


Nada dan Pandu. Mungkin sudah saatnya ia mendengar dari segi Sasti dan Pandu.


Tentu saja itu sebagai bahan keputusannya esok hari. Nada pasti berangkat kerja


besok pagi.

__ADS_1


“Thanks


untuk infonya. Aku akan mengambil keputusan besok. Sepertinya malam ini Nada


tidak akan pulang ke kos. Jadi aku akan segera pulang.”


********


Dewanto


memasuki rumahnya yang terlihat sepi. Sepertinya makan malam tadi batal


berlangsung. Perutnya terasa kenyang tapi ia harus menelan sesuatu atau


penyakit asam lambung akan menyerang perutnya. Dewanto berjalan dengan santai


melewati ruang tamu. Berhenti sejenak saat melihat foto pernikahan Sasti dan


Pandu. Kenapa takdir harus membuat semua ini begitu rumit? Ia mencintai Nada,


tapi bagaimana dengan gadis itu? Melihat Nada menangis saat bertemu kembali


dengan Pandu membuatnya tersadar jika rasa itu masih ada di hati Nada.


“Ayah


dan Ibu kecewa karena tidak jadi makan malam keluarga. Untuk apa kau mengejar


wanita murahan itu?” Sasti sudah berdiri di bawah tangga menunggu Dewanto


kembali. “gara-gara wanita itu Pandu juga ikutan pergi.”


Dewanto


memang menyayangi Sasti, tapi jika kelakuan adiknya semakin keras kepala


seperti ini juga tidak baik. “Apa yang sudah kau lakukan di masa lalu? Kau tahu


jika sebelumnya Pandu sudah menjalin hubungan dengan Nada kan?”


Sasti


tertegun dan berjalan mendekati Dewanto. “Kakak tahu darimana? Pasti wanita


itu, kan? Dia cerita apa aja sampai kau menuduhku seperti itu?”


“Jawab


dulu pertanyaanku, lalu akan kujawab pertanyaanmu.” tegas Dewanto pada adiknya.


Sepertinya ia harus sedikit mendidik adiknya untuk tidak bersikap angkuh.


“Ya,


aku tahu. Waktu itu Pandu masih memakai cincin yang bertuliskan nama mereka.


Tapi Pandu bersedia meninggalkan wanita itu demi aku. Bukankah itu sudah jelas


jika Pandu lebih memilihku daripada wanita itu?”


“Tapi


karena kelakuanmu membuat orang lain menderita?!! Kau sadar jika yang kau


lakukan itu salah, seharusnya kau menjauhi Pandu karena dia menjalin hubungan


dengan orang lain. Bukan malah menantangnya seperti itu.”


“Kenapa


kau marah padaku?!!! Karena kau mencintai wanita murahan itu? Dengar kak, dia


beberapa kali menghubungi Pandu ketika kami sudah menikah. Sekarang Pandu akan


menceraikanku, pasti Pandu akan kembali pada wanita itu.”


Salah.


Ia sungguh tidak terpikirkan dengan kemungkinan ini. Di satu sisi ia senang


jika Pandu dan Sasti akan bercerai. Karena semenjak menikah, mereka hanya lebih


sering bertengkar satu sama lain. Tapi, ia melupakan kemungkinan jika


perceraian itu membuka jalan bagi Pandu untuk kembali pada Nada. Dewanto


memilih untuk kembali ke kamar dan melupakan tentang makan malam dan penyakit


asam lambungnya.

__ADS_1


__ADS_2