
“Kau
ingin tahu mulai darimana?” Tanya Maria mempersilakan Dewanto untuk duduk.
Kamar
Maria memang tidak mempunyai perabotan rumah tangga yang lengkap seperti Nada.
Berlawanan jauh dengan Nada, dekorasi kamar Maria cenderung lebih terkesan
artistik. Ia mengusung konsep rumah minimalis dalam dekorasi kamarnya. Tema
monokrom menjadi hiasan utama yang membingkai kamar kos Maria. Nuansa puih abu
memberikan kesan luas pada kamarnya. Maria duduk di sebuah sofa putih yang
langsung berhadapan dengan televisi.
Dewanto
diam sesaat. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin diketahui. Darimana
seharusnya ia menanyakan tentang masa lalu Nada? Sebenarnya hal semacam ini
seolah bukan seperti Dewanto. Ia lebih memilih menanyakan langsung pada yang
bersangkutan. Akan tetapi, jika kondisinya seperti ini, terpaksa ia mencari
informasi dari berbagai sumber.
“Bagaimana
mereka berpisah?”
Maria
tertegun dengan pertanyaan pertama yang dilontarkan Dewanto. Sepertinya ia
sudah salah menilai pria di hadapannya ini. Maria bangkit dari duduknya dan
mengambil beberapa bungkus kopi instan dan gelas. Sepertinya pembicaraan itu
akan berlangsung lama. Tidak ada salahnya mengusir kantuk dengan segelas kopi.
“Kupikir
kau akan menanyakan bagaimana Nada selama bersama Pandu. Tapi ternyata kau
langsung bertanya bagaimana mereka putus.” ucap Maria sambil menuangkan air
panas ke dalam cangkir berisi kopi instan. “Kau benar-benar diluar dugaanku.”
Maria
menyerahkan secangkir kopi dan mempersilakan Dewanto untuk duduk dimana saja ia
mau. Cerita itu mungkin akan memakan waktu tapi Maria berusaha mempersingkat
namun tidak menghilangkan fakta-fakta penting.
“Itu
terjadi sekitar mungkin hampir lima tahun yang lalu. Saat itu Nada dan Pandu
masih berhubungan jarak jauh karena Nada kerja di luar kota dan Pandu kerja di
kota ini.” ucap Maria memulai ceerita panjang itu. “Saat itu Nada pulang dan
Pandu mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.”
“Alasannya?”
Maria
meneguk kopinya. “Sebelumnya memang mereka punya masalah karena orangtua Nada
kurang setuju dengan hubungan mereka. Tapi Nada berhasil meyakinkan kedua
orangtuanya untuk mempercayai Pandu. Tapi beberapa bulan kemudian Pandu
menggunakan alasan itu untuk mengakhiri hubungannya dengan Nada. Bahkan kedua
orangtua Pandu sempat marah saat mendengar hal itu dan menyuruh Pandu
memutuskan Nada.”
Dewanto
masih mendengarkan cerita Maria dengan seksama. Ia masih berusaha mencerna
__ADS_1
cerita itu dengan sudut pandangnya sendiri tanpa membela pihak manapun.
“Tapi
satu minggu setelah hubungan itu berakhir, Pandu mengganti foto profil pada
sosial media miliknya dengan foto seorang wanita yang kemudian diketahui
namanya adalah Sasti. Bahkan saat itu luka hati Nada belum kering, tapi seolah
semuanya terjawab dengan satu foto itu. Ya…Pandu mengkhianati Nada dengan
menjalin hubungan dengan Sasti.”
Dewanto
tetap diam sambil membawa cangkir kopi di tangan kanannya. Ia mencoba untuk
tidak menempatkan dirinya di posisi sebagai kakak dari Sasti. Kenyataan jika
adiknya sudah menghancurkan hubungan orang lain memang sangat mengejutkan
baginya. Tapi dalam hal ini Sasti tidak bersalah sepenuhnya. Ada campur tangan
Pandu.
“Selama
satu bulan Nada hanya keluar kamar kos untuk kepentingan pekerjaan. Selain itu
ia hanya berdiam diri di kamar. Karena khawatir, aku beberapa kali menengok.
Takut terjadi sesuatu. Tapi ia hanya tersenyum dan bilang ‘Aku masih punya
agama. Aku tidak akan melakukan hal bodoh.’ Tapi tetap saja ia seperti robot
yang berpura-pura tersenyum.”
Maria
melirik Dewanto yang hanya diam dan tetap mendengarkan dengan seksama. Ia
memang belum sepenuhnya mengenal seperti apa Dewanto tapi ia hanya bertaruh
jika pria yang ada di hadapannya itu tidak akan menyakiti Nada seperti yang
“Beberapa
bulan setelah itu, Nada masih sering dihubungi oleh kakak Pandu dan juga
orangtuanya. Kadang hanya menanyakan kabar, tapi sering juga menyuruh Nada
untuk ke rumah Pandu. Setiap kali aku mendengar Nada menceritakan itu, ingin
rasa memaki orangtuanya. Memangnya mereka tidak berfikir jika trauma yang
dialami Nada juga karena mereka? Apa maksudnya menyuruh Nada datang ke rumah?
Dikira Nada itu wanita murahan yang masih mengejar pria yang sudah
membuangnya?!!” Maria mulai memanas setiap kali membicarakan tentang orangtua
Pandu. Ia selalu berfikir memangnya orangtuanya tidak tahu sama sekali jika
anaknya mengkhianati Nada. Sudah jelas jika mereka juga mendukung keberadaan
Sasti.
“Aku
yakin kamu pasti tidak terima karena adikmu berada di posisi seperti ini. Kau
bisa mencari tahu melalui adikmu sendiri. Tapi yang jelas, Nada berusaha keras
untuk tidak terlibat apapun dengan segala hal yang berkaitan dengan Pandu.
Jadi, setelah ini terserah padamu. Kau boleh percaya pada Nada atau bahkan
meninggalkannya. Akan jauh lebih baik jika kau cepat memberi keputusan.”
Dewanto
meletakkan cangkirnya. Ia rasa sudah cukup mendengar sekilas tentang masa lalu
Nada dan Pandu. Mungkin sudah saatnya ia mendengar dari segi Sasti dan Pandu.
Tentu saja itu sebagai bahan keputusannya esok hari. Nada pasti berangkat kerja
besok pagi.
__ADS_1
“Thanks
untuk infonya. Aku akan mengambil keputusan besok. Sepertinya malam ini Nada
tidak akan pulang ke kos. Jadi aku akan segera pulang.”
********
Dewanto
memasuki rumahnya yang terlihat sepi. Sepertinya makan malam tadi batal
berlangsung. Perutnya terasa kenyang tapi ia harus menelan sesuatu atau
penyakit asam lambung akan menyerang perutnya. Dewanto berjalan dengan santai
melewati ruang tamu. Berhenti sejenak saat melihat foto pernikahan Sasti dan
Pandu. Kenapa takdir harus membuat semua ini begitu rumit? Ia mencintai Nada,
tapi bagaimana dengan gadis itu? Melihat Nada menangis saat bertemu kembali
dengan Pandu membuatnya tersadar jika rasa itu masih ada di hati Nada.
“Ayah
dan Ibu kecewa karena tidak jadi makan malam keluarga. Untuk apa kau mengejar
wanita murahan itu?” Sasti sudah berdiri di bawah tangga menunggu Dewanto
kembali. “gara-gara wanita itu Pandu juga ikutan pergi.”
Dewanto
memang menyayangi Sasti, tapi jika kelakuan adiknya semakin keras kepala
seperti ini juga tidak baik. “Apa yang sudah kau lakukan di masa lalu? Kau tahu
jika sebelumnya Pandu sudah menjalin hubungan dengan Nada kan?”
Sasti
tertegun dan berjalan mendekati Dewanto. “Kakak tahu darimana? Pasti wanita
itu, kan? Dia cerita apa aja sampai kau menuduhku seperti itu?”
“Jawab
dulu pertanyaanku, lalu akan kujawab pertanyaanmu.” tegas Dewanto pada adiknya.
Sepertinya ia harus sedikit mendidik adiknya untuk tidak bersikap angkuh.
“Ya,
aku tahu. Waktu itu Pandu masih memakai cincin yang bertuliskan nama mereka.
Tapi Pandu bersedia meninggalkan wanita itu demi aku. Bukankah itu sudah jelas
jika Pandu lebih memilihku daripada wanita itu?”
“Tapi
karena kelakuanmu membuat orang lain menderita?!! Kau sadar jika yang kau
lakukan itu salah, seharusnya kau menjauhi Pandu karena dia menjalin hubungan
dengan orang lain. Bukan malah menantangnya seperti itu.”
“Kenapa
kau marah padaku?!!! Karena kau mencintai wanita murahan itu? Dengar kak, dia
beberapa kali menghubungi Pandu ketika kami sudah menikah. Sekarang Pandu akan
menceraikanku, pasti Pandu akan kembali pada wanita itu.”
Salah.
Ia sungguh tidak terpikirkan dengan kemungkinan ini. Di satu sisi ia senang
jika Pandu dan Sasti akan bercerai. Karena semenjak menikah, mereka hanya lebih
sering bertengkar satu sama lain. Tapi, ia melupakan kemungkinan jika
perceraian itu membuka jalan bagi Pandu untuk kembali pada Nada. Dewanto
memilih untuk kembali ke kamar dan melupakan tentang makan malam dan penyakit
asam lambungnya.
__ADS_1