Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Mengenal lebih dekat


__ADS_3

Nada tak pernah membayangkan sebelumnya akan menyetujui perjodohan konyol seperti ini. Ia bahkan hampir tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Bahkan sampai berakhir di dalam mobil berdua dengan pria yang “dipaksa berjodoh” dengannya. Nada melirik Dewanto yang penuh konsentrasi mengemudikan mobilnya. Sebenarnya pria di sebelahnya ini tidak terlalu buruk. Bahkan hampir sempurna di mata para wanita.


Tidak bisa dipungkiri jika Nada sempat tertarik sesaat oleh kharisma yang muncul dalam diri Dewanto. Nada mengingat lagi betapa bahagianya wajah yang dipancarkan oleh kedua keluarga saat Nada dan Dewanto kembali ke meja makan dan menyetujui rencana perjodohan itu. Acara itu kemudian berakhir dengan Dewanto mengantar Nada kembali ke kos.


“Kita punya waktu satu bulan untuk memutuskan melanjutkan pertunangan atau tidak. Jika selama satu bulan tidak ada perasaan cinta yang tumbuh dalam hatimu untukku, kau bisa membatalkan perjodohan ini.” ucap Dewanto memecah keheningan yang terjadi sejak mereka masuk mobil.


Nada hanya diam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Sejak awal sudah jelas jika perjodohan ini hanya sepihak. Hanya Dewanto yang menyetujui perjodohan konyol ini. Bisa dikatakan jika Nada hanya menyetujui sebesar 20 persen, sisanya demi kedua orang tua Nada.


“Mulai besok aku akan mengantar-jemput untuk berangkat kerja. Jadwalku bisa menyesuaikan jadwalmu. Kau bisa langsung hubungi ketika mau pulang kerja.” jelas Dewanto sambil sesekali melirik penumpang di sebelahnya. “Aku tahu jika ini bukan murni keinginanmu, tapi mohon kerjasamanya selama satu bulan ke depan. Setelah itu keputusan ada di tanganmu.”


Nada memandangi Dewanto dengan tatapan datar. Ia merasa seperti telah menandatangani kontrak perjodohan. Rasanya memang aneh, tapi ia sama sekali tidak menentangnya. “Mohon bantuannya juga.”


Perjalanan malam itu terasa jauh lebih lama karena tidak ada pembicaraan sama sekali diantara keduanya. Rasa canggung itu menghambat usaha Dewanto untuk mengenal Nada dengan lebih dekat. Atau mungkin ia hanya perlu memberi waktu untuk membiasakan diri dengan situasi satu bulan ke depan.


Nada membuka seat belt ketika mobil tepat berhenti di depan kosnya. Rasanya hari ini sangat lelah dan banyak pikiran.


“Terima kasih sudah bersedia datang malam ini. Istirahatlah. Besok aku akan menjemput pukul 7 pagi.”


Nada hanya mengangguk tanpa mengucapkan apapun. Ia pun keluar dari mobil dan langsung menaiki tangga menuju kamar kos. Ia meninggalkan Dewanto yang masih diam di dalam mobilnya. Berfikir apakah yang dilakukan ini sudah benar? Ataukah ia hanya mementingkan perasaannya sendiri tanpa bertanya perasaan Nada? Malam itu berakhir dengan pertanyaan yang bergemuruh dan perlahan menjadi pengantar tidur.


******


Sesuai yang dikatakan semalam, Dewanto benar-benar menjemput Nada tepat pada pukul 7. Benar-benar lelaki yang menepati janjinya. Suasana di dalam mobil masih sama dengan suasana kemarin malam tanpa ada perbedaan sedikitpun. Keduanya hanya berbicara seperlunya. Rasa canggung dan pikiran yang berkecamuk membuat keduanya sibuk dengan pendapat masing-masing.


Nada keluar dari mobil ketika sudah sampai di lobby kantornya. Hari ini Dewanto tidak akan mampir ke kantor itu karena banyak dokumen yang perlu mendapat persetujuannya. Ia hanya memberi isyarat pada Nada untuk menelpon ketika sudah waktunya pulang. Nada hanya mengangguk tanda mengerti dan menutup pintu mobil. Ia mulai memasuki kantornya dengan diawali dengan helaan nafas panjang.

__ADS_1


Bahkan masih pagi pun banyak gadis-gadis dan ibu-ibu yang berkumpul dan membicarakan sesuatu yang bahkan tidak membawa manfaat sedikitpun. Nada hanya tersenyum sambil menyapa para pegawai di lantai 1 yang ia temui. Sebagai manajer, tentu saja Nada harus menjaga sikap baik kepada sesame manajer maupun pegawai lainnya.


“Selamat Pagi !!” Sapa Nada ketika sampai di ruangan.


“Pagi !!” Semuanya menyambut dengan ramah.


Nada sama sekali tidak menganggap rekan kerjanya itu sebagai bawahan. Baginya, kedudukan dan jabatan yang ia dapatkan sekarang merupakan hasil kerja kerasnya. Bukan berarti ia bisa bersikap sombong dan arogan karena jabatan yang ia miliki. Awalnya juga Nada menjadi bawahan seperti mereka. Jadi, sedikit banyak ia tahu seperti apa rasanya menjadi bawahan.


Ia mulai menggaruk kepala karena melihat tumpukan berkas yang sudah menanti karena ia mengambil cuti kemarin. Sepertinya ia harus mulai kerja keras hari ini. Tiba-tiba ponselnya menyala. Sebuah pesan singkat dari Dewanto membuat pandangan matanya teralihkan dari kertas-kertas itu. Padahal hanya berupa pesan “Semangat ya !”. Tapi sudah membuat Nada tersenyum kecil.


*******


Satu kata di pagi hari kemudian berkembang menjadi beberapa percakapan berlanjut yang berujung dengan makan siang di luar. Sejak sampai di kantor, Nada selalu membalas setiap chat yang dikirimkan Dewanto. Tentu saja hal ini merupakan peningkatan yang luar biasa bagi Dewanto. Sebelumnya bahkan untuk menelepon saja, ia harus meminta izin terlebih dahulu dan mencari alasan pekerjaan demi bisa menghubungi Nada.


“Tidak apa kan, jika aku ajak makan di luar?” Tanya Dewanto mulai memecah keheningan. Padahal baru saja tadi pagi berpisah untuk bekerja, tapi ia sudah merasa rindu pada Nada.


“Tidak. Lagipula jam istirahat. Tidak masalah.” ucap Nada masih merasa canggung. “Kita mau kemana?”


“Aku punya tempat asyik yang dulu sering aku kunjungi saat masih dengan adikku. Kami sering makan disana.” Jelas Dewanto sambil tersipu malu.


“Kau sepertinya sangat menyayangi adikmu. kau pasti senang saat tahu dia akan pulang ke Indonesia?” Nada mulai berusaha mencari pembicaraan. Mungkin tidak ada salahnya membuka hati untuk orang lain dan membuang hal yang negatif.


“Begitulah. Dulu dia sangat dimanja orang tuaku. Bahkan dia tidak pernah menyentuh peralatan dapur sama sekali. Tapi tiba-tiba ia bilang ingin menikah dengan seorang pria yang baru beberapa bulan dikenal dari tempat kerjanya. Sebenarnya ada rasa tidak rela. Tapi melihat dia bahagia di pernikahan itu, aku merasa harus merestui mereka.”


Nada tersenyum menahan tawanya. sama sekali tidak menyangka jika pria yang terlihat gagah dan berkharisma seperti dirinya sebenarnya seorang Sister-complex. Ia berusaha keras menahan tawanya agar tak menyinggung perasaan Dewanto.

__ADS_1


“Kenapa? Ada yang lucu?”


Nada menggeleng. “Aku hanya tidak percaya jika seorang sepertimu bisa jadi Sister-compelx.”


“Syukurlah kamu tertawa lagi.” ucap Dewanto kembali menatap jalanan di hadapannya. “Sejak kejadian kemarin kau hanya diam. Aku jadi merasa bersalah atas apa yang diputuskan kemarin. Maaf aku tidak memperhatikan perasaanmu dulu.”


Mobil Dewanto berhenti di depan sebah kafe mungil dengan dekorasi imut memperjelas kesan feminin dalam kafe ini. Nada bertanya-tanya benarkah kafe mungil ini yang dimaksud Dewanto? Ia keluar dari mobil dan menunggu Dewanto merapikan posisi mobilnya. Nada mulai melihat-lihat seperti apa kafe imut yang ada di belakangnya. Ia berusaha mengintip ke balik jendela kecil berbentuk strawberry.


Tiba-tiba seseorang dari dalam kafe itu keluar dan menyambut Nada. Seorang wanita cantik tapi terlihat sedikit tomboy karena ikatan rambut yang acak-acakan. Wanita itu tersenyum sambil membawa sepiring kue red velvet dengan topping buah cherry. Betapa kue itu sangat menggoda perut Nada. Tak lama Dewanto datang dan segera menyusul Nada.


“Sudah lama tidak ketemu.” sapa perempuan itu ketika Dewanto sudah sampai di belakang Nada. ia tersenyum ceria ke arah Dewanto.


“Kau masih tidak berubah ya, Siska.” ucap Dewanto sambil menyambut senyuman wanita itu. Kemudian mempersilakan Dewanto dan Nada masuk ke kafe.


Ada semacam perasaan tidak nyaman ketika melihat Dewanto berbincang akrab dengan Siska. Mungkinkah itu wanita yang disukai Dewanto? Atau mungkin mantannya? Tunggu !! Tidak ada yang bilang kalau Dewanto tidak punya pacar. Jangan-jangan…….


“Oh iya, Nada. Kenalkan ini Siska. Sepupuku.” ucap Dewanto akhirnya teringat jika masih ada Nada di belakangnya. “Nah, Siska, kenalkan ini Nada.”


Siska melirik pada Dewanto. “Pacarmu?”


Dewanto hanya mengangkat bahu. “Kuharap begitu.”


Karena tak bisa menjawab dan tak bisa menjelaskan mengenai hubungan apa yang terjalin diantara mereka, Nada hanya bisa tersenyum penuh makna dan menjulurkan tangannya. Ia sudah salah sangka pada wanita ini. “Salam kenal.”


“Salam kenal. Silakan duduk dan pilih menu yang kalian suka. Akan segera kusiapkan.” ucap Siska dengan sopan kemudian pergi menuju dapur untuk mempersiapkan pesanan. Ia gadis yang baik dan ramah.

__ADS_1


__ADS_2