Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Melawan kata hati


__ADS_3

Dewanto menatap layar ponselnya. Nama Nada muncul dalam daftar panggilan tak terjawab. Ia terpaksa mengabaikan panggilan telepon dan chat darinya sesuai kesepakatan yang sudah ia buat dengan Pandu. Hari ini entah mereka berdua pergi kemana, Dewanto terpaksa berpura-pura tidak tahu. Semua ia lakukan agar Pandu menjauhi Nada. Ia terpaksa menyibukkan diri meskipun sebenarnya pikirannya sedang kacau.


Sedikit demi sedikit Dewanto banyak berfikir tentang perasaan Nada. Bukan karena ingin tahu atau ikut campur, tapi ia sangat ingin tahu seperti apa perasaannya saat ini. Perasaan saat bersama Pandu. Lalu bagaimana perasaannya saat bersama dengan dirinya? Apakah rasa itu sama? Ataukah ada perbedaan meski hanya sehelai rambut?


Dewanto memang ingin menjauhkan Nada dari Pandu. Tapi benarkah yang sedang ia lakukan? Bagaimana jika hal itu justru menyakiti Nada? Jika seandainya perasaan Nada lebih condong pada Pandu, apa yang harusnya ia lakukan? Tetap memperjuangkan dan pura-pura tidak tahu apapun? Ataukah merelakan gadis itu meraih kebahagiannya? Memikirkan hal yang belum pasti memang membuat kepalanya lebih cepat panas.


Hari ini ia harus pulang lebih cepat. Keluarganya ingin melakukan makan malam dan berkumpul sejenak karena besok hari persidangan terakhir yang harus dijalani Sasti. Kali ini ia harus fokus pada ketenangan batin adik satu-satunya itu. Ia tidak punya semangat untuk bekerja hari ini. Padahal tumpukan berkas di samping meja kerjanya sudah menunggu untuk dikoreksi.


Ponsel Dewanto menyala. Sebuah pesan chat dari Nada. Gadis itu daritadi mencarinya. Bukankah saat ini ia sedang bersama Pandu? Jari-jari tangannya seolah gatal untuk membalas pesan chat itu, tapi ia sudah berjanji tidak akan menghubungi atau membalas pesan chat dari gadis itu. Haruskah ia melawan kata hatinya?


*****


Wajah Nada cemberut setiap kali melirik ponselnya. Bahkan pesan yang dari pagi telah dikirim ke Dewanto tidak ada satupun yang dibaca. Apa sesibuk itu sampai tidak sempat membaca pesannya? Tidak biasanya Dewanto seperti ini. Apa kemarin ia berbuat salah? Ataukah dia tahu jika aku sedang bersama Pandu? Mungkinkah dia marah karena hal itu?


Keduanya berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar. Perjalanan menuju puncak tidak semudah yang dibayangkan. Punggung Nada rasanya sangat kaku. Hampir tiga jam ia hanya duduk diam di dalam mobil. Itu membuatnya ingin turun dari mobil dan sedikit merenggangkan punggungnya. Benarkah yang ia lakukan sekarang? kenapa perasaannya tidak tenang? Mengapa pikirannya selalu ingin kembali?


Mobil Pandu menghampiri Nada yang masih ingin merenggangkan otot-otot tubuhnya. Nada masuk kembali ke dalam mobil dan menghela nafas ringan. Pandu memperhatikannya. Biasanya ada sesuatu yang terjadi atau yang dirasakan setiap kali Nada menghela nafas. Mungkinkah gadis itu sedang kesal?


“Ada apa? kau tidak senang kita pergi ke puncak?” Tanya Pandu. Ia sangat hafal kelakuan Nada jika sedang kesal, bosan atau marah.


Nada menatap Pandu. Semudah itukah ekspresi wajahnya terbaca orang lain? Atau hanya Pandu yang bisa membaca ekspresi wajahnya? Nada menunduk sekali lagi. Ia perlu bertanya pada hati kecilnya. Benarkah ia ingin pergi ke pucak dengan Pandu? Tapi kenapa hatinya seolah berkata lain? Pikirannya selalu mengarah pada Dewanto yang tidak membalas pesannya seharian ini. Ia sudah menerima lamaran Dewanto tapi kenapa ia sampai disini dengan pria lain?

__ADS_1


“Kau mau pulang saja?” tawar Pandu membuka pembicaraan yang dari tadi sunyi. Ia sadar jika Nada sedang berfikir tapi tatapan mata gadis itu selalu mengarah pada ponselnya yang sebenarnya tidak ada notifikasi masuk sama sekali.


“Aku hanya merasa tidak tenang pada sesuatu. Aku sudah berjanji menemanimu seharian ini. Tidak apa, kita bisa lanjutkan perjalanan.” ucap Nada sambil memaksakan senyuman.


Pandu menyadarinya. Senyuman itu adalah paksaan. Ia sangat mengenal Nada. Gadis itu pasti sedang memikirkan Dewanto yang tidak membalas pesannya sama sekali. Harus ia akui jika Dewanto adalah pria yang sangat berprinsip. Ia benar-benar melakukan apa yang menjadi kesepakatan mereka. Pria yang benar-benar menepati janjinya. Sangat berlawanan dengan dirinya. Nada pantas bersama Dewanto. Tidak seharusnya Nada menuruti kemauan egoisnya saat ini. Pertemuan ini akan jadi yang terakhir bagi Pandu.


Pandu menyalakan mesin mobilnya. Ia memutar balik kemudi dan melaju ke arah berlawanan. Mungkin memang Tuhan mempertemukannya kembali dengan Nada untuk yang terakhir kalinya hanya demi melihat jika gadis itu sudah menemukan pada siapa hatinya berlabuh. Demi melihat gadis itu tertawa bahagia dengan pilhan yang tepat. Mungkin sudah saatnya untuk Pandu pergi dengan tenang tanpa lagi memikirkan Nada.


Nada menyadari perubahan arah yang dilakukan Pandu. Meski tak mengatakan apapun, ia menyadari jika Pandu memilih untuk kembali. Ada sedikit rasa lega terselip diantara rasa bersalahnya pada Pandu. Ia perlu menemui Dewanto setelah kembali ke rumah. Apa saja yang sudah dilakukan pria itu seharian ini sampai pesannya diabaikan? Perjalanan kembali ke kota berlangsung tanpa ada satupun percakapan diantara keduanya.


******


Dewanto membanting bolpoin dan memijat pelipisnya yang terasa lebih tebal dari biasanya. Bukan karena tumpukan berkas yang harus ia periksa, tapi karena pikirannya melayang pada Nada dan Pandu. Ia menyesali kesepakatan yang sudah ia buat dengan Pandu. Seharusnya ia tak melakukan kesepakatan gila itu. Sekarang ia menyesalinya.


Setelah berpamitan dengan sekretarisnya, Dewanto menuju mobilnya dan pergi meninggalkan kantor. Tentu saja ia tidak ingin pulang. Satu tempat yang menjadi lokasi tujuannya hanyalah kos Nada. Ia akan menunggu disana sampai Nada pulang. Pasti Maria tidak tahu apa-apa tentang Nada yang pergi dengan Pandu.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai kos Nada. Dewanto memilih untuk diam di dalam mobil agar tak ada yang melihatnya. Dewanto kembali melirik ponselnya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa menghubungi Nada. Ia benar-benar dilanda kekesalan yang luar biasa. Dewanto menyalakan musik player sambil memejamkan matanya. Meredam sedikit kekesalannya.


*******


Mobil Pandu akhinya sampai depan kos Nada. Gadis itu membereskan beberapa barang yang sempat ia keluarkan selama perjalanan. Ini masih pukul 4 sore. Tidak masalah jika ia menyusul ke kantor Dewanto setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Pria itu harus menjelaskan alasan yang logis kenapa pesannya tidak dibalas sama sekali.

__ADS_1


“Terima kasih sudah mau menemaniku jalan-jalan.” ucap Pandu sebelum Nada selesai berberes. Wajah gadis itu bahkan terlihat lebih senang dibanding saat berangkat tadi.


Nada menggeleng. “Akulah yang seharusnya minta maaf. Aku sudah setuju untuk menemanimu pergi, tapi malah aku mengecewakanmu.”


Nada sungguh merasa bersalah pada Pandu. Tidak seharusnya ia mempunyai wajah yang begitu mudah terbaca. Bahkan untuk berusaha menyenangkan orang lain saja ia tak bisa. Apa yang terjadi pada Pandu pasti sangat berat. Ia hanya bisa berharap semoga Pandu bisa melewati semuanya dengan baik. Pria itu pernah menjadi segalanya bagi Nada. Bahkan ia mengorbankan segalanya agar Pandu bisa tertawa. Tapi tidak untuk kali ini. Hatinya sudah beralih.


Nada bersiap untuk keluar dari mobil. Namun dicegah oleh Pandu. “Istirahatlah. kau pasti lelah.” ucapnya samba tersenyum. “Selamat tinggal, Nada.”


Nada terdiam sesaat. Kenapa ia merasa seperti sebuah perpisahan? Sesaat seperti sebuah dejavu. Saat itu Pandu berkunjung ke tempat kerja Nada sebelumnya yang berada di luar kota. Setelah menghabiskan weekend yang singkat, mereka harus berpisah. Meski tak mengucapkan kata-kata perpisahan, tapi Nada merasakan ada yang beda pada diri Pandu. Itulah terakhir kalinya Pandu bertemu Nada. Satu minggu kemudian Pandu mengakhiri hubungan mereka.


“Sampai jumpa lagi.” ucap Nada sambil keluar dari mobil dan menunggu sampai mobil Pandu menghilang dari pandangannya.


Dewanto melihat semua itu dari dalam mobilnya yang terparkir agak jauh dari kos Nada. Ini bahkan masih pukul empat sore kenapa mereka sudah pulang? Dewanto memutuskan untuk menunggu sampai Nada masuk kamar kos. Ia akan mengunjunginya seolah tidak tahu apa-apa. Ponselnya berbunyi. Sebuah nama terlintas pada layar ponselnya.


“Ya.” jawab Dewanto segera tanpa menunggu berdering terlalu lama.


“Aku sudah mengembalikan Nada dengan selamat. Aku sudah memenuhi kesepakatan kita. Kau juga sudah memenuhi kesepakatanmu. Bisa aku meminta tolong padamu?” ucap Pandu dari seberang telepon. Ia menghentikan sejenak perjalanannya.


“katakan saja.”


“Tolong jaga Nada baik-baik. Jika kau membuatnya menangis, maka aku akan merebutnya kembali.” ucap Pandu dengan tegas. Bukan lagi sebuah kesepakatan. tapi ancaman. Meski sebenarnya ia tahu jika Dewanto tidak mungkin membuat Nada menangis. Meski ia yakin jika Dewanto pasti akan membahagiakan Nada.

__ADS_1


“Itu sudah pasti. Tanpa kau suruh, aku pasti akan menjaganya dengan baik.”


Sambungan telepon terputus. Pria itu merasa kesal. Tentu saja. Nada berhak bahagia. Meski hatinya pernah sangat terluka.


__ADS_2