
Nada kembali menemui Dewanto dan Siska. Ia terpaksa harus mengakhiri acara nostalgia diantara keduanya. Nada memang belum mengambil keputusan tentang perjodohan itu, tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja dengan seorang saingan seperti Siska. Nada berjalan dengan penuh percaya diri. Ia bahkan melakukan ini dengan sempurna. Seolah menangkap basah suami sedang melakukan perselingkuhan.
“Bisa kita kembali sekarang? Jam istirahat hampir selesai.” ucap Nada sambil menatap Siska, bukan Dewanto. Seolah menunjukan jika ia takkan kalah dalam perebutan ini.
Seketika Siska menunjukkan ekspresi tidak nyaman dengan kehadiran Nada yang seolah merusak suasana keduanya. Nada dan Siska sempat saling bertatapan beberapa detik sampai akhirnya ia berpaling dan menatap wajah Dewanto.
“baiklah. Tidak enak meninggalkan kantor terlalu lama.” Dewanto merapikan pakaiannya dan menyambar kunci mobil. Ia berjalan menuju meja kasir dan meninggalkan Siska yang masih menatap Nada penuh amarah.
“Kau sengaja melakukan ini, bukan?”
“Disini aku yang dijodohkan dengannya, bukan kau. Disini akulah calon tunangannya, bukan kau. Jadi aku punya hak untuk menyingkirkan serangga kecil yang mengganggu seperti dirimu. Jodoh bukan tentang siapa yang lebih lama mengenal, sepertinya kau masih harus banyak belajar tentang itu.”
Tangan Siska mengepal karena terbakar amarah. Ia sangat kesal dengan Nada yang bersikap sangat sombong dan angkuh. Ia semakin tidak rela jika Dewanto bersama rubah ini. Ia harus melakukan sesuatu. Dia harus tahu hal ini segera.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Dewanto saat kembali dari kasir.
Nada segera merangkul lengan Dewanto seolah menunjukan pada Siska untuk jangan mengganggu “miliknya”. Dewanto terkejut melihat perubahan sikap Nada yang cenderung manja. Tidak seperti biasanya.
“Aku hanya bilang jika makanan disini enak. Kapan-kapan kita mampir kesini lagi, ya?”
“Tentu. Kapanpun kau mau akan kuantar.”
Nada dan Dewanto segera berpamitan dengan Siska. Ia terpaksa harus menunjukan senyum ditengah amarahnya. Bagaimana Dewanto bisa mendapat gadis rubah sepertinya? Perjuangannya selama ini akan sia-sia. Ia mengambil ponselnya dan seperti menghubungi seseorang.
__ADS_1
******
Mobil Dewanto berhenti di halaman depan lobby. Keduanya terasa canggung. Nada mulai menyesali sikapnya yang centil saat berada di café. Kenapa ia harus menggandeng lengan pria ini? Ingin rasanya menepuk jidatnya sendiri. Sekarang ia harus menelan mentah-mentah akibat dari sikap centilnya tadi. Dewanto menggenggam telapak tangan Nada dengan erat. Suatu tindakan kecil ini mampu membuat jantung Nada berdetak jauh lebih kencang.
“Nanti sore aku jemput lagi.” Ucap Dewanto sedikit mendekatkan wajahnya pada Nada. Sedangkan Nada hanya bisa berdoa tidak akan terjadi apa-apa. “Besok aku ada pertemuan bisnis di luar kota. Pagi-pagi sekali aku harus berangkat. Maaf, aku tak bisa mengantarmu besok.”
Nada menoleh pada Dewanto sambil tersenyum. “Tidak masalah. Aku bisa berangkat sendiri. Kau tak perlu khawatir.”
Dewanto membelai rambut Nada dengan lembut. Kini gadis itu bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Nada segera pamitan dan keluar dari mobil dengan wajah yang merah padam. Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Nada terus melangkah masuk kantor tanpa menoleh ke belakang lagi.
Nada merasakan tatapan aneh ketika memasuki area kantor. Para pegawai wanita seolah menatapnya dengan pandangan aneh. Apa baju yang ia pakai kotor? Atau rambutnya berantakan? Nada segera berjalan lebih cepat menuju ruangannya. Ia bahkan sampai sebelum jam istirahat berakhir. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan, bukan?
Semua tatapan tertuju padanya ketika ia membuka pintu ruangan. Salah satu rekan kerjanya akhirnya menanyakan pada Nada. “Semua pegawai wanita di bawah membicarakanmu. Mereka melihat kau datang ke kantor dengan mobil milik Pak Dewanto. Apa yang terjadi?”
“Pak Dewanto cukup popular di kantor kita. Banyak sekali wanita yang berusaha mendekati beliau saat berkunjung kesini. Aku sendiri paham. Pak Dewanto seorang direktur muda, kaya, dan berkharisma. Dia juga cukup tampan. Aku tidak heran jika keberadaannya membuat banyak sensasi disini. Itu sebabnya ketika mereka melihatmu keluar dari mobil Pak Dewanto, langsung membuat banyak gosip buruk beredar.”
Nada menepuk jidatnya. Tidak menyangka jika keberadaan Dewanto akan seheboh ini di kantornya. Bagaimana ia harus menjelaskan pada semuanya? Bahkan status mereka saja belum jelas. Nada harus bisa sedikit mengontrol kondisi ini atau akan berakhir lebih buruk lagi.
“Kami hanya tak sengaja bertemu. Kemudian dia menawarkan tumpangan tadi pagi. Itu saja.” Ucap Nada sambil kembali duduk di kursinya. Ia berusaha tak terlalu memikirkan apa saja yang terjadi di bawah.
“Syukurlah jika begitu. Tapi jika kalian memang ada hubungan, sebaiknya segera diumumkan saja, takutnya akan menimbulkan gosip yang tidak terkontrol. Kau tahu kan jika gosip yang selama ini selalu beredar tak pernah ada yang tahu dari siapa asal-usulnya.”
Nada hanya diam melamun. Memang benar jika ada istilah bahwa tembok juga punya telinga. Hal semacam itu terjadi di kantornya. Mungkin ia perlu sedikit waspada setidaknya sebelum hubungan dengan dewanto menjadi lebih jelas.
__ADS_1
*******
Mobil Dewanto melaju dengan kecepatan yang cukup kencang untuk membelah jalanan yang sepi. Nada meminta Dewanto untuk menjemputnya sedikit lebih jauh agar tidak diketahui beberapa karyawan. Memang alasan ini cukup membuat Dewanto merasa tidak nyaman. Ia seakan menjadi beban tersendiri bagi Nada. Memang hubungan mereka masih belum bisa dipublikasikan secara resmi. Keduanya memang sepakat untuk menyembunyikan dulu selama satu bulan ini. Tapi jika harus bermain kucing dan tikus semacam ini, bisakah Dewanto bertahan?
Ponsel Nada berdering. Ia segera menerima panggilan masuk. “Iya, Maria? Aku sedang perjalanan pulang. Kau pulang jam berapa?” Nada terdiam beberapa detik mendengar jawaban dari Maria di seberang.
Dewanto hanya melirik sekilas memastikan jika ada yang penting.
“Baiklah. Aku sudah masak untuk makan malam. Sebaiknya kau segera pulang.” Sambungan diputus. Nada kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Kau sering masak untuk Maria juga?” Tanya Dewanto yang mulai membuka suara.
“Kami memasak bergantian. Hari ini giliranku memasak.”
Dewanto terlihat sedikit ragu. Mobilnya melaju semakin kencang tanpa peduli pada sepinya jalanan sore itu. Tak perlu banyak waktu untuk sampai di rumah kos Nada. Dewanto segera mematikan mesin mobilnya Nada terlihat mengemasi barang-barang yang tadi sempat ia keluarkan dari dalam tas.
“Apa aku…..boleh ikut makan malam?” Tanya Dewanto terdengar ragu-ragu. “Aku ingin…mencicipi masakan calon tunanganku.”
Mata Nada membulat sempurna mendengar ucapan Dewanto yang terdengar malu-malu. Tidak pernah ia melihat sisi Dewanto yang seperti ini. Ternyata tidak hanya berkharisma, ia juga terkadang terlihat sangat menggemaskan seperti ini. Nada tersenyum tipis.
“Masuklah. Aku akan menyiapkan makan malamnya.”
Senyum Dewanto melebar dan matanya berbinar. Ia segera memposisikan mobilnya agar tidak mengganggu jalanan. Dengan penuh semangat ia masuk ke kamar Nada dan berjalan perlahan ke dalam.
__ADS_1
Kamar yang cukup rapi dan luas. Ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi di dalamnya. Juga ada dapur kecil yang bisa digunakan untuk kegiatan memasak sehari-hari. Menurut Dewanto, ini lebih mirip apartemen dibanding kamar kos. Terlalu luas dan terlalu lengkap perabotannya. Nada terlihat sibuk menyiapkan makan malam untuk Dewanto dan Maria. Ini pertama kalinya Dewanto masuk ke kamar seorang wanita.