
“Sudah lama tidak berkumpul bertiga. Mumpung besok libur, bagaimana jika nanti sore kita berkumpul?” Ajak Cecyl terdengar bersemangat. Karena kesibukan kerja, ia hampir lupa rasanya berkumpul dengan teman.
Nada mengambil beberapa tumpukan kertas dari mejanya. “Nanti sore? Kau harus menanyakan pada Maria dulu. Aku khawatir dia ada rencana lain.”
Cecyl berdecak. “Masalah itu tak perlu khawatir. Aku sudah lebih dulu mengatakan pada Maria sebelum meneleponmu. Dia bilang ada kafe baru di dekat hotel tempatnya bekerja. Tidak ada salahnya kita mencoba, kan?”
Nada tersenyum simpul. “Ya, kita akan kesana nanti sore. Aku akan kesana sepulang kerja. Kita bertemu disana, kan?”
“Bagaimana jika aku ke kantormu? Sudah lama tidak bertemu. Aku ingin bicara banyak hal denganmu.” ucap Cecyl sambil merengek pada Nada.
“Baiklah. Datanglah setelah kau selesai kerja. Kabari aku jika sudah sampai di lobby.”
Sambungan telepon diputus. Rasanya sudah sangat lama mereka bertiga tidak berkumpul bersama. Lagipula hari ini Dewanto tidak mengajaknya kemana-mana. Jadi, tidak masalah bukan? Nada tersenyum saat melirik ponselnya. Nama Dewanto muncul di layar ponselnya.
“Kau sudah makan siang? Nanti sore aku akan pergi dengan Maria dan Cecyl. Tidak apa-apa kan jika aku pergi?” Tanya Nada sambil berjalan keluar ruangan. Rasanya tidak enak jika harus mengganggu pekerjaan yang lainnya.
“Tidak apa. Kalian au kemana? Sepertinya kau sangat senang akan pergi dengan mereka.” ucap Dewanto dari seberang telepon.
“Sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Apa kerjaan hari ini lancar?”
Dewanto hanya terdiam. Ia tidak memberi jawaban pada Nada selama beberapa detik. “Aku tidak pergi ke kantor. Saat ini sedang menunggu keputusan hakim untuk persidangan ini.” ucap Dewanto terdengar lemah. Ia terdengar sangat sedih.
Terkutuklah. Bagaimana Nada bisa melupakan tentang persidangan ini? Bukankah semalam Dewanto memberitahunya? Kenapa ia bisa melupakannya? “Apa sidangnya lancar? Kau sudah membujuk mereka untuk rujuk, kan?”
“Aku sudah membujuk mereka. Tapi pihak pria sepertinya sudah tdak ingin memberi kesempatan kedua untuk memperbaiki rumah tangga. Semua bukti memperkuat posisi pria. Selain itu mereka juga tidak mempunyai anak.”
“Semoga keputusan terbaik untuk mereka berdua.” Nada mengepalkan telapak tangannya. Sesaat ia menyesali jika harus terjadi hal semacam ini. Tapi itu bukan masalahnya. Ia tidak bersalah atas apa yang terjadi diantara mereka. Itu karma yang pantas diterima.
“Bagaimana…..jika pernikahan kita dipercepat? Aku punya firasat buruk tentang ini.” ucap Dewanto sambil menatap Pandu yang sedang menerawang pada jendela yang menghadap ke luar. Siang itu memang terasa panas, namun menenangkan.
Nada terpaku. Bukankah semalam ia baru saja dilamar? Tapi apa harus secepat ini memutuskan pernikahan? “Dipercepat? Kapan?”
“Bulan depan.” ucap Dewanto mantap mengatakan hal itu. Tidak sedikitpun ada keraguan muncul di benaknya. Ia hanya mempunyai sebuah firasat aneh ketika menatap mata Pandu. Seolah pria itu bisa mengambil kembali Nada kapan saja.
__ADS_1
Tentu saja Nada terkejut. Dibilang mendadak? Tentu saja. Ia bahkan belum mempersiapkan apapun. Membicarakan dengan orangtuanya juga belum sempat dilakukan. Apa harus secepat ini? “Kita akan bicarakan ini saat bertemu lagi.”
******
Nada sengaja menunggu kedatangan Cecyl di lobby kantor. Ia sudah meminta izin pada Dewanto untuk pulang agak terlambat. Sepertinya ia harus mulai membiasakan diri untuk berpamitan kemanapun ia akan pergi. Termasuk apa yang harus ia putuskan untuk melakukan sesuatu. Meski tidak terbiasa, tapi bukankah seorang istri harus selalu meminta restu dari suami?
Tidak perlu menunggu waktu lama. Mobil Cecyl melaju memasuki area perusahaan dan berhenti tepat di lobby. Nada sudah berdiri untuk menunggu jemputan Cecyl. Namun matanya justru tertuju pada sebuah mobil sport berwarna putih yang berhenti tepat di belakang mobil Cecyl. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.
Pintu mobil itu terbuka ke atas. Benar-benar tipe mobil sport yang harganya selangit. Nada bergegas untuk berjalan ke arah pintu penumpang. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena seseorang yang keluar dari dalam mobil mewah itu. Mata Nada membulat sempurna. Bahkan sampai tak bisa mengedipkan mata.
Pandu keluar dari pintu kemudi mobil sport mewah itu. Ia berjalan menuju Nada yang masih berdiri terpaku menatap Pandu. Apa yang dilakukan pria ini disini? Bukankah hari ini ia menjalani sidang perceraian? Nada mengalihkan pandangannya dari mata Pandu.
“Maaf, aku melihat Cecyl di jalan saat berada di pom bensin. Aku terpaksa mengikutinya. Sebenarnya aku bermaksud untuk bicara dengannya, tapi ternyata kalian akan pergi bersama?” ucap Pandu mencoba untuk bersikap basa-basi.
Cecyl yang melihat hal itu langsung keluar dari mobilnya. Ia terlihat sedikit marah karena Pandu membuntuti dengan sengaja. “Kau mau apa? Belum puas membuat Nada sampai seperti ini? Kenapa kau harus pulang ke Indonesia?”
Pandu terlihat sangat merasa bersalah. Itu wajar jika Cecyl merasa sangat marah. Apa yang ia lakukan pada Nada benar-benar tidak berperasaan. Jika Cecyl mengusirnya, itu hal yang bisa dimaklumi dan Pandu menerima semua itu.
“Ada perlu apa?” Tanya Nada berusaha bersikap tenang meski sebenarnya jantungnya berdetak secara tak beraturan.
“Untuk apa? kau mau menyakiti Nada lagi?!!” Cecyl mulai mengeluarkan suara lantang yang hampir saja menarik perhatian beberapa orang sekitar kantor.
Nada mencoba membuat Cecyl sedikit tenang. Ia tidak mau ada keributan di kantornya. Nada memang tidak ingin berurusan lagi dengan Pandu. Tapi ia lebih tidak ingin lagi jika terus-menerus diganggu. Mungkin ada yang harus dibicarakan baik-baik mengingat perpisahan Nada dan Pandu bukan sesuatu yang bisa dibilang baik-baik saja. Mungkin dengan saling bicara bisa membuat mereka saling memaafkan dan kemudian bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya tanpa ada rasa yang masih mengganjal.
“baiklah. Aku ikut denganmu sebentar.” ucap Nada menyetujui perkataan Pandu. “Aku akan segera menyusul setelah kami selesai bicara. Kau bisa menyusul Maria lebih dulu. Aku tidak akan lama.” ucap Nada pada Cecyl yang masih tidak terima jika Nada lebih memilih Pandu daripada dirinya.
“Apa 30 menit cukup bagi kalian untuk bicara? Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, bukan?” Cecyl mulai gemas dengan Nada yang masih saja lemah dengan perasaannya sendiri.
“Akan kuusahakan selesai secepatnya. Maaf harus membuatmu menunda pertemuan kalian.” ucap Pandu sambil membungkuk seraya memohon maaf terutama pada Cecyl yang masih saja menampakkan wajah cemberut.
Dengan raut wajah kesal Cecyl masuk kembali ke mobilnya. Tidak hanya kesal pada Pandu, ia juga kesal pada Nada yang masih saja tidak bisa mengatakan “tidak” pada Pandu. Padahal sudah sekian lama berpisah. Maria harus mengetahui hal ini secepatnya. Cecyl mengemudikan mobilnya meninggalkan Pandu dan Nada yang masih berada disana.
“Masuklah. Kita akan bicara di mobil. Aku tidak mau membuat sahabatmu semakin marah padaku.” ucap Pandu sambil kembali masuk ke mobil diikuti oleh langkah Nada yang ragu untuk melanjutkan. Ia mulai menyesali keputusannya meninggalkan Cecyl dan Maria demi pria jahat ini.
__ADS_1
Nada memasuki mobil mahal itu. Jelas saja jauh berbeda dengan mobil lokal miliknya. Tentu saja ia takkan mampu membeli mobil semahal ini dengan gajinya sebulan? Perlu beberapa tahun baginya untuk bisa membeli mobil mahal semacam itu. “Kita mau kemana?”
“Tidak ada tujuan khusus. Aku hanya ingin bicara sesuatu padamu.” ucap Pandu sambil menyalakan mesin mobil yang bahkan suaranya tidak terdengar sedikitpun.
Nada terdiam kembali, Ia menatap layar ponselnya. Haruskah ia menghubungi Dewanto jika saat ini ia sedang bersama Pandu? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri? Tapi jika tidak memberitahu, akankah ada kemungkinan Dewanto tahu dari orang lain? Pikiran Nada dipenuhi dengan segala argument tentang sesuatu yang tidak seharusnya terlalu dipikirkan.
Suasana dalam mobil hening sejenak selama beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlalu lama mereka berpisah. Banyak hal yang ingin dibicarakan sampai tidak tahu harus memulai darimana. Atau mungkin karena terlalu banyak yang harus dibicarakan kemudian memilih untuk menyimpannya tanpa membicarakan.
“Hari ini sidang perceraianku dimulai. Hal yang sudah sejak dulu ingin kulakukan tapi tak sanggup karena tekanan dari orangtua kami. Mereka terus memintaku untuk bertahan dalam pernikahan ini. Tapi aku sudah sampai pada batasku. Aku tak peduli lagi pada apapun. Jika dikatakan jahat, aku memang seorang pria yang jahat.”
Nada tidak ingin menanggapi apapun tentang pernyataan itu. Ia sudah mendengar jika sidang perceraian itu berlangsung hari ini. Tapi ia memilih bersikap seolah ia tidak tahu. Tidak ada gunanya menanggapi hal itu. ia hanya akan membicarakan sesuatu yang sekiranya memang perlu untuk dibicarakan.
“Aku tahu jika kau sudah memaafkanku. Setidaknya itu yang selama ini kau katakan. Tapi aku tetap merasa harus selalu minta maaf padamu. kesalahanku sudah sangat besar dan tidak seharusnya memaafkanku dengan mudahnya.”
“Lalu kau ingin aku tidak usah memaafkanmu? Kau ingin aku terus hidup dalam rasa dendam dan benci? Aku tidak ingin hal semacam itu.” ucap Nada mulai menyela pernyataan Pandu yang mulai membuatnya tidak nyaman.
“ya, setidaknya kau bisa menghukumku dengan tidak memberiku maaf dengan mudah. Setidaknya kau membuatku merasa sangat tertekan sampa akhirnya kau memaafkanku.”
“Kau tahu aku takkan pernah melakukan itu padamu, kan?” Mata Nada mulai berkaca-kaca. hatinya perih ketika pilihan untuk memaafkkan adalah pilihan yang salah baginya. hatinya sakit ketika tak bisa bersikap kasar atau membalas kelakukan Pandu padanya.
“Itulah yang terus membuatku merasa semakin bersalah. Seharusnya kau membenciku, seharusnya kau memukulku, atau memaki bahkan mengatai dengan kata-kata kasar agar kau merasa lega melampiaskan kemarahan. Tapi kau justru memaafkanku. Kau tahu aku justru tersiksa dengan rasa bersalah itu?”
Air mata Nada tak lagi sanggup terbendung. “Turunkan aku disini. Pembicaraan ini hanya akan saling melukai satu sama lain. Aku tak perlu membahas masa lalu denganmu.”
Pandu menghentikan mobilnya. Ia menggenggam erat setir kemudi. Seolah berfikir keras terhadap sesuatu. “Kumohon batalkan pertunanganmu dengan Dewanto. Aku punya firasat jika kau masih mencintaiku. Jadi kumohon kembalilah padaku.”
Nada menggeleng beberapa kali. Tidak mempercayai hal yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa pria yang dulu ia cintai bersikap sangat egois seperti ini. Mungkinkah memang inilah sifatnya tapi dulu Nada dibutakan oleh cinta?
“kenapa? Dulu saat aku hancur karena pengkhianatan darimu, apa pernah sedikitpun kau ingat padaku? Kau bahagia di hari pernikahanmu, tapi apa kau tahu jika aku hampir saja mengiris nadiku sendiri?!!! Aku sudah mengorbankan segalanya. Waktu, tenaga, teman, keluarga bahkan uang. Tapi apa yang kudapatkan? Pengkhianatanmu !!!”
Wajah Pandu berubah pucat. Mengiris nadi? Hal semacam itu bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia percaya jika Nada sosok yang kuat dan sulit dipercaya jika ia melakukan hal bodoh itu hanya demi pecundang sepertinya. “kenapa kau sampai melakukan hal sebodoh itu hanya demi pecundang sepertiku?”
Nada mengusap air matanya. ”Memangnya salah jika aku mencintai seorang pecundang?!! Apa cinta bisa memilih dimana ia akan jatuh?!”
__ADS_1
Emosi yang selama lima tahun ini tertahan jauh dalam lubuk hati Nada, kini harus ia luapkan dalam sekali ledakan. Waktu memang tak bisa diputar kembali, tapi waktu bisa memberikan kesempatan sekali lagi. Akan seperti apa kesempatan kedua itu, akankah bisa digunakan sebagaimana mestinya. Sebuah kesempatan yang belum tentu semua orang mendapatkannya. Akankah kesempatan itu diisi dengan tawa, tangis ataukah amarah. Hanya mereka yang tahu kemudian Tuhan yang menentukan.