
“Kemarin aku sempat keliling sebentar untuk survey lokasi foto pre-wedding yang bagus. Beberapa rekan kerja memberi saran beberapa tempat rekomendasi. Jadi, aku kesana untuk survei. Aku sempat mengambil beberapa spot foto yang bagus. Aku butuh pendapatmu karena nantinya kita akan foto pre-wedding disana.” ucap Dewanto sambil menunjukan hasil foto setelah berburu lokasi.
Nada meletakkan buku novel yang ia baca dan mengarahkan pandangan pada ponsel Dewanto untuk melihat hasil foto. Kebanyakan memang bertema kebun dan taman. Entah kenapa itu tidak menarik minat Nada atau memang ia tidak suka dengan keadaan itu. Nada menunjuk salah satu lokasi yang menurutnya lebih bagus diantara yang lain. “Ini sepertinya bagus. Foto disini saja.”
Dewanto melihat-lihat kembali spot foto yang dipilih Nada. Sepertinya memang selera wanita lebih baik. Keputusan Dewanto untuk meminta pendapat Nada memang yang terbaik. Setelah selesai makan malam di kamar kos Nada, keduanya segera sibuk dengan kesenangan masing-masing. Nada membaca novel dan Dewanto mengurusi beberapa klien yang masih menghubungi bahkan diluar jam kerja.
“Sayang, tadi siang Ibu menelepon. Beliau ingin kita datang ke butik langganannya besok untuk fitting baju. Sepertinya akan dibuatkan baju khusus sesuai ukuran kita.” ucap Dewanto sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Kita menikah bulan depan, kan? Apa waktunya cukup untuk membuat baju? Kenapa tidak menyewa saja? Baju itu hanya akan dipakai selama beberapa jam saja. Apa tidak terlalu mahal jika membuat baju sendiri?”
Dewanto membelai rambut lurus Nada yang tergerai bebas. “Kau tak perlu khawatir. Ibu sudah bicara dengan pemilik butik itu. Katanya mereka sanggup menyelesaikan baju untuk kita dalam waktu dua minggu. Masalah biaya tak perlu khawatir.”
Nada memaksakan senyum pada Dewanto. Apa ya…bukan tentang biaya atau juga bukan tentang rentang waktu pembuatan baju. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Sebuah rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja.
__ADS_1
“Besok kita cari cincin pernikahan, yuk.” Dewanto mengubah posisi duduknya menghadap Nada yang masih terlihat kebingungan. “Besok pulang kerja aku jemput. Kita akan cari di beberapa tempat. Pilihlah yang paling kau suka.”
Nada mengangguk perlahan. Rasa tidak nyaman itu masih ia rasakan. Tapi untuk saat ini ia memilih untuk mengabaikan rasa itu. Mungkin seiring berjalannya waktu ia akan tahu apa yang membuatnya tidak nyaman. Ia kembali membaca novel dan Dewanto menemani di sampingnya.
******
Nada meletakkan sendok dan garpu dengan baik di atas meja. Ia terpaksa harus makan dengan terburu-buru karena bangun kesiangan. Entah bagaimana Maria sama sekali tidak mampir ke kos dan langsung pergi kerja. Ia segera bangkit dari meja makan dan mengambil beberapa berkas yang kemarin sempat ia kerjakan walau hanya sedikit. Ia mengoleskan sedikit lip cream di bibirnya agar tidak terlihat pucat.
Nada membuka pintu kamar kosnya dan terkejut dengan seseorang yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Menunggu pemiliknya keluar dari kamar. Nada kehilangan momen untuk bernafas. Ia terpaksa menelan ludah agar tenggorokannya tidak terasa kering. Kenapa harus bertemu di saat ia harus buru-buru pergi ke kantor?
“Mau apa kesini? Dari mana kau tahu kosku? Kau membuntuti siapa lagi?” ucap Nada mulai kesal jika harus diikuti seperti ini. Haruskah pria ini menjadi seorang penguntit semacam ini? Nada melirik jam tangannya. Ia harus bergegas atau ia terpaksa mengambil cuti mendadak.
“Kau buru-buru, kan? bagaimana kalau naik mobilku?” ucap Pandu menawarkan tumpangan untuk Nada yang buru-buru.
__ADS_1
“Aku juga bisa pakai mobilku sendiri. Maaf aku harus berangkat sekarang.” ucap Nada sambil bergegas meninggalkan Pandu.
Dengan sigap Pandu mencegah dengan menarik tangan Nada. Tubuh Nada seolah tertahan dan berputar menatap Pandu. Kedua mata mereka saling bertatapan untuk sekilas. Genggaman tangan Pandu masih sama seperti saat dulu ia menggenggam tangan Nada saat mereka bertengkar. Terasa kuat dan kokoh.
“Tinggalkan Dewanto.” ucap Pandu dengan tatapan yang penuh keyakinan. Ia merasa tidak tenang saat ia melihat Dewanto melihat-lihat gambar cincin pernikahan. Firasatnya mengatakan jika pernikahan mereka akan segera terjadi dalam waktu dekat ini.
Nada bergeming. “Kau sudah gila, ya? Apa hakmu melarangku bersama Dewanto? Dengar, ya. Kau sudah punya kehidupan sendiri, aku juga akan membuat kehidupanku sendiri dengan Dewanto. Jadi, sebaiknya tidak perlu lagi ikut campur urusan orang lain.”
Pandu terdiam. Apa yang harus ia lakukan agar Nada mau mendengarkannya walaupun sekali. “Kalau begitu, aku punya satu permintaan. Anggap saja permintaan terakhirku. Setelah itu aku janji tidak akan muncul dari hadapanmu lagi.”
Nada terdiam sesaat. Negosiasi apa yang diinginkan Pandu darinya? Kenapa ia merasa jadi orang yang jahat? “katakan saja.”
“Temani aku seharian ini. Anggap saja kita berpergian sebagai seorang teman. Tidak lebih dan tidak kurang.” ucap Pandu dengan tatapan mata yang memelas. Bukankah itu senjata paling ampuh untuk merontokkan keteguhan hati Nada?
__ADS_1
Nada mengepalkan kedua tangannya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor. Hanya perlu beberapa detik agar telepon tersambung. “Hari ini aku cuti mendadak ya. Tolong handle pekerjaan hari ini. Sisanya aku kerjakan besok.”
Pandu tersenyum mendengar kabar yang belum diucapkan oleh Nada.