
Nada harus menemui Direktur setelah membuat sedikit “keributan” di lokasi kantor. Meski tentu saja bukan ia penyebab utama keributan itu berlangsung. Tapi secara tidak langsung ia sudah terlibat. Pak Direktur terlihat seperti membaca beberapa berkas di tangannya. Nada harus beberapa kali menghela nafas untuk sedikit meredakan saluran pernafasannya yang tiba-tiba tersumbat.
“Apa kau tahu ada keributan apa tadi di lobby?” Tanya Pak Direktur sambil meletakkan berkas itu diatas meja. Ia menatap wajah Nada yang tertunduk seolah penyebab tunggal atas keributan itu.
Nada memejamkan mata. Berharap ia tidak disalahkan atas keributan ini. “Maafkan saya, Pak. Itu tadi hanya kesalahpahaman saja. Tidak akan terjadi lagi.”
“Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi antara kau dan Pak Dewanto. Kau sering pergi menghilang begitu saja saat dinas di Palembang. Begitu juga dengan Pak Dewanto. Beberapa kali aku mencarinya untuk menanyakan sesuatu tapi selalu tidak ada. Demikian juga padamu.”
Nada terkejut dengan perkataan Direktur. Ia merasa sangat malu jika hubungan mereka diketahui banyak orang. Ia tidak berani mengatakan apapun. Nada memilih untuk diam dan tetap mendengarkan.
“Sebenarnya aku tidak ingin terlalu ikut campur pada hubungan pribadi kalian. Tapi jika hal itu mengganggu kinerja maupun pekerjaanmu, aku terpaksa harus bertindak.” ucap Direktur dengan tegas. Meski terlihat sering bercanda, tapi Direktur selalu punya sisi dimana ia harus tegas agar tidak diremehkan orang lain.
“Baiklah, Pak. Maafkan saya.” ucap Nada masih tertunduk dan menyimak ucapan Direktur dengan seksama. Kali ini ia benar-benar harus bicara empat mata dengan Dewanto tentang semuanya.
“Aku juga ingin memberikan selamat kepadamu. Presentasi kita saat di Palembang sukses besar. Beberapa investor besar sudah menaruh sahamnya pada proyek kita. Dengan kata lain, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat proyek itu sukses besar.”
Akhirnya Nada memberanikan diri mengangkat wajahnya. Sorot matanya bersinar karena hasil kerja kerasnya membuahkan hasil. “Benarkah itu, Pak?”
“Ya. Dengan kata lain, kita sudah tidak bergantung pada Pak Dewanto lagi karena dana operasional yang kita butuhkan sudah lebih dari cukup untuk menjalankan proyek ini.” Ucap Pak Direktur dengan sangat hati-hati. ia terlihat membetulkan posisi rambutnya yang tidak berantakan.”Jika kau merasa tidak enak menolak Pak Dewanto hanya karena beliau investor utama kita, kau tak perlu merasa khawatir lagi.”
Nada terdiam mencerna sejenak apa yang dimaksud oleh Direktur. “jadi, maksudnya….jika terjadi sesuatu dan Pak Dewanto mencabut sahamnya dari perusahaan, itu tidak akan menjadi masalah besar bagi kita karena sudah mempunyai saham dari investor lain?”
Direktur menganggukkan kepalanya tanda menyetujui pertanyaan Nada. Ini merupakan kabar baik baginya. Sempat terlintas untuk mengakhiri perjodohan dengan Dewanto karena masalah kemarin malam. Tidak mungkin baginya untuk tetap di sisi Dewanto sedangkan ia terus melihat Pandu dan Sasti bersama. Ia mulai menampakkan senyum lega.
Nada segera berpamitan pada Pak Direktur untuk kembali bekerja. Kabar baik itu membuat mood bekerja yang tadinya sempat hilang telah kembali lagi. “Terima kasih untuk informasinya. Saya harus kembali bekerja. Permisi.”
********
Pandu meletakkan beberapa kertas diatas meja. Kertas itu bertuliskan beberapa tulisan yang seharsnya dibaca dengan baik-baik oleh kedua belah pihak sebelum menyetujuinya. Tentu saja, itu surat perceraian yang sudah dikeluarkan oleh pengadilan. Tubuh Sasti gemetar menatap surat-surat itu. Selama ini ia tidak pernah merasa khawatir jika Pandu akan meninggalkannya. Keluarga Sasti sudah memberikan beberapa materi sebagai bukti hubungan besan diantara kedua keluarga.
“Kau tidak bisa lakukan ini padaku. Ingat, keluargaku memberikan lahan kepada keluargamu setelah kita resmi menikah.” ucap Sasti dengan sedikit terbata-bata. Ia memang tidak sengaja mengucapkan kata cerai saat bertengkar dengan Pandu. Tapi sebenarnya bukan itu yang ia inginkan.
“Aku tidak peduli. Keluargamu yang memberikan itu tanpa sepengetahuanku. Jika ingin kau ambil, lakukan saja. Itu adalah antara keluargamu dengan keluargaku. Tidak ada hubungannya denganku.”
__ADS_1
“Kau diam-diam selingkuh di belakangku, tapi selalu aku maafkan, bahkan diam-diam kau menghubungi Nada tanpa sepengetahuanku. Aku tahu semua yang kau lakukan di belakangku. Tapi selalu kumaafkan. Tapi kenapa kali ini…….?” perkataan Sasti bergetar hingga suaranya tak mampu lagi melanjutkan kata-kata. Hanya air matanya yang mengalir deras.
“Dulu…aku hanya merasa kesepian karena hubungan jarak jauh yang terjadi diantara aku dan Nada. Di saat itulah kau datang dan memberi perhatian lebih yang menurutku tak pernah diberikan Nada padaku. Kau dan keluargamu memang memberikan perhatian yang kurasa tidak pernah ada padaku. Itu sebabnya aku memilihmu dan meninggalkan Nada.” ucap Pandu sambil duduk di sofa yang ada di kamar Sasti. Ia langsung menuju kamar dan memberikan surat perceraian itu. Pandu sudah menandatangani surat itu tanpa berfikir panjang lagi.
“Jadi sekarang kau menyesal menikah denganku?”
Pandu hanya mengangkat kedua bahunya. “Bagiku kau hanya memukau saat di awal, kemudian aku sadar jika yang kulakukan itu salah. Itu sebabnya aku selingkuh diam-diam dan menghubungi Nada lagi. Aku merasa menyesal meninggalkan gadis itu. Dia sudah melakukan segalanya dan memberiku semua yang kubutuhkan. Hanya saja aku salah memilih.”
Sasti mengambil kertas-kertas itu dengan paksa. Kemarahan karena kata-kata Pandu sudah bukanlah hal yang langka. Keduanya bahkan sering bertengkar hebat saat masih berada di luar negeri. Masalah yang diungkit pun selalu sama setiap kali mereka bertengkar. Seolah masalah itu tidak akan pernah ada akhirnya.
Sasti menandatangani surat tersebut dan melemparkan pada Pandu. “Kau sudah tahu konsekuensi dari semua ini, kan?”
“Tentu saja. Kau boleh lakukan sesukamu. Karena aku sudah tidak lagi peduli.” ucap Pandu sambil berjalan keluar kamar.
“Kau akan menemui Nada lagi? Dia tunangan kakakku. Meskipun aku sendiri tidak pernah menyetujuinya. Jangan bilang jika kau akan menjadi penghalang untuk mereka?”
Pandu terdiam. Ia bahkan tidak yakin dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Menemui Nada? Memangnya gadis itu mau? Ia juga sadar diri jika sudah terlalu banyak menyakiti gadis itu. Saat pertemuan mereka kemarin, gadis itu terlihat sangat syok dan serasa tidak ingin melihat dirinya lagi. Mana mungkin ia tidak tahu malu dan nekat menemui Nada lagi?
“Persidangan akan diadakan besok. Jangan lupa untuk datang.”
******
Setelah memesan beberapa pilihan makanan, mereka mencari tempat untuk duduk. Tentu saja lesehan. Nada paling suka tempat lesehan yang dekat dengan dinding. Hari ini punggungnya serasa ingin terlepas dari tulangnya. Banyak masalah yang harus ia selesaikan tadi. Bahkan sampai malam pun ia masih hars menyelesaikan masalah. ia harus bicara baik-baik pada Dewanto tentang kejadian kemarin malam.
“Kerjaan hari ini lancar?” tanya Dewanto mencoba membuka percakapan diantara keduanya. Kejadian semalam membuat suasana menjadi canggung.
“Kurasa aku gak perlu untuk basa basi lagi. Kau sudah tahu semuanya, kan? Kau sudah mendengarnya dari Maria, kan?” tanya Nada langsung memotong tanpa menjawab basa basi pembukaan dari Dewanto.
Dewanto hanya diam. Es teh yang ia pesan mendadak terasa hambar. Ia bahkan belum benar-benar mengambil keputusan terkait cerita semalam. Dewanto bermaksud mengkonfirmasi pada Nada sendiri tentang semalam.
“Ya. Aku sudah mendengarnya.”
“Lalu kenapa masih ada disini? Kau masih kurang jelas tentang cerita dari Maria? Atau kau perlu konfirmasi dariku?”
__ADS_1
Bagaikan seorang peramal. Nada benar-benar membaca pikiran Dewanto. Pria itu mencoba meneguk minumannya kembali. Harus bagaimana ia menyampaikan pada Nada? Ia mengerti seperti apa perasaan gadis itu. Tapi bagaimana harus mengatakan padanya?
“Menikahlah denganku.” ucap Dewanto menatap mata Nada dengan tajam. Seolah bersiap menghanyutkan gadis itu larut dalam perasaannya. Hanya ini satu-satunya pilihan yang terpikirkan oleh Dewanto. Tidak peduli seperti apa masa lalu gadis itu.
Mata Nada membulat sempurna. Apa ia mengalami gangguan pendengaran sesaat? Tidak mempercayai kata-kata Dewanto. Seperti inikah sebuah lamaran? Apa ia sedang dilamar? Apa yang harus ia lakukan?
“Aku ini mantan pacar Pandu. Kau sudah dengar seperti apa aku bertahan selama ini. Bagaimana aku berusaha melupakan Pandu. Sekarang aku tahu jika kau kakak dari wanita yang sudah merusak hubunganku dengan Pandu. Aku tahu jika kau pasti lebih membela adikmu, itu sebabnya lebih baik kita selesai sampai disini. Batalkan perjodohan ini dan aku akan pergi dari hidupmu. Itu keputusan terbaik karena aku tak pernah ingin bertemu mereka lagi.”
“Lalu bagaimana denganku?” Telapak tangan Dewanto mengepal erat. Harus dengan cara apa untuk bisa memenangkan hati Nada? Hatinya menjadi sedingin ini karena perlakuan Pandu dan Sasti di masa lalu. “Kenapa kau bisa sedingin ini? Kenapa hanya memikirkan diri sendiri?”
Air mata Nada mengalir. “Aku memikirkan jalan terbaik untuk kita. Kau tak perlu membenci adikmu, dan aku juga tak perlu bertemu dengannya. Itu baik untuk kesehatan hatiku. Sejak awal hubungan kita karena keputusan sepihak. Jadi, bukan masalah jika aku mengakhiri hubungan ini secara sepihak juga, kan?”
Keduanya terdiam. Tidak ada yang bisa disanggah dari ucapan Nada. Keduanya memang memulai hubungan ini dengan perjodohan yang disetujui oleh Dewanto. Jadi, tidak salah jika Nada mengambil keputusan untuk mengakhirinya. Karena memang seharusnya keputusan itu sepenuhnya milik Nada. Tapi…..Dewanto tidak ingin berakhir seperti ini.
“Sasti dan Pandu akan bercerai.” ucap Dewanto memecah keheningan setelah Nada memberi keputusan. “Persidangan mereka diadakan besok siang.”
Nada menggelengkan kepalanya. Tidak mempercayai pada apa yang ia dengar. “Kenapa? Apa yang terjadi?”
“Dari dulu mereka memang tidak pernah harmonis. Selalu bertengkar entah masalah sepele atau masalah besar. Pandu juga tidak ingin mempunyai anak dari Sasti. Setelah aku mengetahui cerita tentang kalian, aku mulai berfikir jika mungkin saja adikku sudah mendapatkan karma dari perbuatannya di masa lalu. Jadi ketika mereka memutuskan untuk bercerai, aku rasa itu keputusan terbaik.”
“Jangan biarkan !!! Kumohon jangaan biarkan mereka bercerai. Lakukan apapun agar mereka tetap bersama. Jangan biarkan atau aku yang akan kesusahan nantinya.” Nada mulai panik. Inikah arti tatapan sendu yang diperlihatkan Pandu padanya kemarin malam? Untuk sesaat, Nada serasa ingin kembali pada masa itu. Dimana ia selalu memeluk erat ketika Pandu memperlihatkan tatapan sendu saat menghadapi sebuah masalah.
“Apa kau takut jika Pandu akan datang lagi untuk menemuimu?”
Tubuh Nada gemetar. Mengingat bahwa kemarin Pandu menemui ke rumah Nada membuatnya gemetar. Ia takut tak bisa mengendalikan dirinya sendiri ketika bertemu lagi dengan Pandu. Nada mencoba mengendalikan emosinya.
“Pokoknya jangan sampai mereka bercerai. Lakukan apapun agar mereka tak bercerai. Bukankah dulu kau bilang jika adikmu sangat bahagia saat akan menikah dengan Pandu? Apa kebahagiaan itu bisa dengan mudah lenyap dan kemudian digantikan dengan sebuah perceraian?”
“Tenanglah. Pandu dan Sasti bercerai atau tidak, kita tetap akan melanjutkan perjodohan ini. Kau tak perlu khawatirkan tentang hal itu.” ucap Dewanto meyakinkan Nada yang mulai panic dengan rasa takut jika bertemu lagi dengan Pandu.
“Tapi bagaimana jika…………”
“Aku tidak akan membiarkanmu bertemu Pandu lagi. Kudengar dia akan ke luar kota setelah resmi bercerai. Jika kita menikah, akan kupastikan kau tak pernah bertemu Pandu lagi. Akan kubawa kemanapun kau inginkan, bahkan jika itu ke luar negeri sekalipun.”
__ADS_1
Nada terkejut dengan penawaran yang dikatakan Dewanto. Memang sebuah pernikahan bukanlah semacam penawaran. Tapi Dewanto menawarkan banyak sekali hal yang selama ini Nada butuhkan. Menawarkan sebuah perlindungan yang selama ini hanya dilakukan Nada seorang diri. Tentu saja jika ia menikah, Pandu tidak akan pernah menemuinya lagi. Setidaknya itu yang terlintas dalam pikiran Nada sesaat.