
Mobil Nada berhenti di halaman parkir kosnya. Ia terdiam sesaat ketika menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Sejak kapan pria itu membeli cincin ini? Baru saja ia menerima lamaran dari Dewanto. Bertanya-tanya dalam hati apa ini keputusan yang tepat? Atau ini hanya sebuah pelarian sekaligus persembunyian untuknya? Jika dulu saat Nada bersedih, Pandu sedang berbahagia dengan Sasti. Tapi sekarang, seolah bumi berputar. Karma sedang bekerja sesuai tugasnya.
Nada menyambar tas jinjing dan membuka pintu mobil. Rasanya sudah lama sekali ia tidak kembali ke kamar kos. Nada berjalan dengan lunglai. Kata-kata sidang perceraian masih terngiang di telinganya. Kenapa sekilas ada rasa lega dalam hatinya? Bukankah ia sudah tidak peduli pada Pandu lagi? Langkahnya terseok-seok dan wajahnya kusut dan dekil.
Ia membuka pintu kamar dan masuk begitu saja. Melepas sepatu dan melempar tas jinjing ke sofa. Tubuhnya tak lagi sanggup menyediakan waktu untuk membersihkan diri. Terlalu banyak yang terjadi hari ini. Ia tak mungkin sanggup jika harus berfikir lagi.
Ponselnya berdering. Ia mencari dimana arah suara dering itu. Nada mengerang saat harus mengangkat tubuhnya demi mengambil ponsel yang berdering. Ia mengamati nomor asing yang tertera di layar ponsel.
"Ya?"
"Nada?"
Jantungnya berhenti sejenak. Pandangannya samar sesaat. Sekilas raut wajah seseorang terlintas di benaknya. Ia hanya diam menunggu kata-kata selanjutnya dari si penelepon. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak ingin mempercayai apa yang ia pikirkan. Kepalanya serasa berputar. Ia tak sanggup lagi jika harus berfikir keras tentang hal ini.
“Ini aku, Pandu. Apa kau sudah tidur?” suara Pandu di telepon terdengar seperti bergetar. Entah karena gangguan tenggorokan ataukah ada sesuatu yang lain.
Nada menghela nafas panjang. mencoba menahan sakit kepalanya. Setelah sekian lama, mengapa ia masih mengenali suara Pandu? Sedalam itukah ia mencintai Pandu? Tangannya gemetar sambil tetap menggenggam ponselnya. Mengapa Pandu masih menyimpan nomor ponselnya?
“Belum. Ada apa mencariku?”
__ADS_1
“Aku hanya ingin mendengar suaramu. Itu tiba-tiba saja terlintas begitu. Maaf jika aku mengganggu.” ucap Pandu di seberang telepon. Perceraian besok membuatnya mengenang kembali segala yang sudah terjadi. Tanpa terkecuali tentang Nada. “bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apa itu lancar?”
Nada menatap langit-langit kamarnya. Ia mengenal Pandu bukan kemarin sore. Ia sangat paham kondisi Pandu saat ini. Ia butuh seseorang yang bisa diajak bicara. Seseorang yang mau mendengar segala keluh kesahnya tanpa menggurui atau menasehati. Pandu memang seorang yang keras kepala. Nada bahkan sudah menyadari itu.
“Kau….ada masalah apa?” Tanya Nada akhirnya memilih untuk menyerahkan telinganya demi mendengar keluh kesah Pandu. Meski untuk melakukan itu, ia harus mengorbankan hatinya berdarah-darah lagi untuk kesekian kalinya.
Pandu terdiam. Untuk kesekian kalinya ia menyadari jika memang Nada satu-satunya wanita yang benar-benar memahami dirinya. Bahkan setelah sekian lama tak bertemu, ia masih sangat mengingat kebiasaannya. “Darimana kau tahu………”
“Aku tidak mengenalmu kemarin sore. Kita bahkan pernah bersama untuk waktu yang tidak singkat. Kau sedang banyak pikiran. Benarkah itu?” ucap Nada mencoba menebak-nebak tapi tentu saja bukan asal tebak. Ia sangat hafal sifat Pandu.
“Maafkan aku. Mestinya aku tahu siapa yang benar-benar memahamiku. seharusnya aku memilih wanita yang selalu ada kapanpun dan seperti apapun keadaanku. maafkan aku sudah membuatmu seperti ini. Aku sungguh menyesali segala yang terjadi di masa lalu. Jika dari awal aku tetap memilihmu, pasti aku tak pernah mengalami hal semacam ini. Sungguh ini hal yang paling kutakutkan dari dulu.”
Kelopak mata Nada seolah terbakar. Kepalanya masih berputar karena terlalu banyak berfikir hari ini. Namun, air matanya terus mengalir tanpa ia sadari. Pipinya sudah sangat basah karena air mata. Mengapa Tuhan mempertemukan mereka jika hanya akan dipisahkan? Mengapa Tuhan mempertemukan mereka kembali jika tidak pernah ada harapan bagi mereka untuk bersatu? Bahkan jawaban itu tak pernah mereka temukan.
********
Demi sidang perceraian adiknya, Dewanto rela mengambil cuti dan menunda beberapa pertemuan dengan pemegang saham. Di dalam lubuk hati yang paling dalam sedang mengalami pertentangan batin. Di satu sisi, ia mendukung perceraian ini demi kebahagiaan adik satu-satunya. Namun di sisi lain, ia takut jika perceraian ini menjadi jalan pembuka bagi Pandu untuk kembali pada Nada. Pilihan mana yang seharusnya ia ambil?
Dewanto menatap wajah adiknya yang terlihat lebih pucat dengan kedua mata yang sembab. Tentu saja. Ini bukanlah pilihannya. Sasti tak pernah menginginkan perceraian dengan Pandu meski seburuk apapun kondisi rumah tangganya. Tapi ada kalanya perceraian menjadi jalan terbaik bagi kedua pihak menemukan kedamaian.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Kau pasti kuat menghadapi semua ini. Kau pasti akan mendapat kebahagiaan sendiri meski tanpa Pandu. Masih ada mama, papa dan juga aku yang selalu mendukungmu. Kau tak pernah sendirian, Sasti.” ucap Dewanto sambil menggenggam erat telapak tangan Sasti yang mulai gemetar.
Air mata Sasti mengalir. Selama ini ia hanya seorang wanita yang berusaha kuat menghadapi suami yang egois dan pernikahan yang hambar. Ia tak pernah menyangka jika pernikahan yang ia bangun hampir lima tahun akhirnya berakhir di tempat ini. Apa yang salah darinya? Apa yang membuat Pandu kemudian berubah sikap padanya? Itu semua bahkan tak pernah dikatakan oleh Pandu. Lalu bagaimana ia memperbaiki sikap jika ia tak tahu dimana letak kesalahan yang diperbuat?
Persidangan akan dimulai lima belas menit lagi. Tapi ia bahkan belum melihat Pandu dalam ruangan itu. Dewanto memilih untuk keluar ruangan mencari udara segar sambil menunggu pria itu. Tiba-tiba ia teringat akan permintaan Nada yang menyuruh agar Dewanto melakukan segala cara untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka. Tapi harus dengan cara seperti apa?
Mata Dewanto berhasil menangkap sosok bintang utama dalam persidangan ini. Pandu terlihat sedikit lebih pucat. Mungkinkah ia kurang tidur? Dewanto berjalan mendekati adik ipar yang mungkin sebentar lagi sudah tidak menjadi adik iparnya lagi. Ia harus melakukan negosiasi atau perceraian ini berlangsung dengan lancar.
“Aku punya permintaan untukmu.” ucap Dewanto tanpa basa-basi karena waktu yang tersedia hanya sedikit.
“Katakan saja. Aku anggap itu permintaan terakhir dari kakak iparku.” ucap Pandu merasa sedikit kesal setiap kali mengingat jika Dewanto adalah pacar Nada.
“Cabut gugatan cerai ini. Sasti sangat mencintaimu. Apa kau sama sekali tidak mengetahui hal itu? pikirkan kembali tentang pernikahan kalian. Bukankah perceraian adalah hal yang paling tidak ingin kau dengar? Lalu kenapa sekarang kau justru mengalaminya?”
Pandu membisu. Ia tidak menyangka jika Dewanto akan menyuruh untuk mencabut gugatan cerai. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia sudah lama memikirkan hal ini. Ia tak lagi sanggup mengatasi sifat Sasti yang keras kepala dan diktator. Apa yang membuat Dewanto sampai rela memohon seperti ini pada adik ipar yang ia benci? Pandu menatap jari tangan Dewanto. Pandangannya fokus pada cincin yang melingkar di jari tengah.
“Cincin itu………” ucap Pandu masih tetap terfokus pada cincin tersebut.
“Oh…kemarin malam Nada menerima lamaranku. Aku akan melamarnya secara resmi minggu depan. Itu sebabnya aku tidak ingin berbahagia diatas kesedihan adikku. Beri dia kesempatan sekali lagi untuk membangun rumah tangga lagi.” Kali ini Dewanto benar-benar memohon pada Pandu.
__ADS_1
Suasana hati Pandu seketika berantakan saat mendengar Nada menerima lamaran Dewanto. Ada rasa marah dan jengkel yang entah muncul darimana. Ia tidak suka dengan kabar itu. Sama sekali tidak membuatnya sanggup mengatakan “Selamat.”
Pandu berjalan memasuki ruang persidangan tanpa mempedulikan permohonan Dewanto. Langkah kakinya melangkah dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun untuk menjalani sidang perceraian. Pandu memilih mengabaikan Dewanto dan secepat mungkin merebut Nada kembali.