
“Nanti sore kita jalan-jalan, ya.” ajak Dewanto tetap menatap mata Nada dengan tatapan yang lembut. Tatapan yang selalu membuat Nada hanyut ke dalam.
“Kau sudah tidak sibuk?”
“Setelah acara pembukaan ini, acara intinya akan diadakan besok. Jadi, setelah pembukaan ini sudah jam bebas. Besok aku tunjukan tempat bagus yang baru saja kutemukan. Kau pasti suka.” jelas Dewanto sangat antusias menunjukan sesuatu yang ia temukan saat melakukan persiapan tadi pagi.
Nada terdiam. Ada raut wajah kecewa. Besok pagi ia harus menaiki penerbangan pertama untuk kembali. Ia tak mungkin meninggalkan kantor terlalu lama. “Besok aku sudah kembali. Aku harus menaiki penerbangan pertama karena aku kesini hanya menggantikan sementara tugas sekretaris.”
“Kau tidak disini sampai acara selesai?”
Nada hanya menggeleng. Keberangkatannya sangat mendadak dan tanpa pemberitahuan apapun. Ia bahkan tidak diizinkan untuk berkemas terlebih dahulu dan hanya membawa peralatan make up sekedarnya saja. Itu sangat menyiksa. Dia harus kembali apapun yang terjadi.
“Aku hanya akan disini sampai besok pagi. Aku akan menunggu sampai kau pulang.” Melihat senyuman Dewanto yang penuh kelembutan membuat Nada merasa lega. Rasanya ia sama sekali tak ingin kehilangan senyuman itu.
Dewanto meraih kedua telapak tangan Nada yang mungil dengan jari-jari yang manis. “Nanti malam aku ingin mengajak ke suatu tempat.”
Nada buru-buru menjauhkan tangannya dari pria yang berdiri di hadapannya. Pandangan matanya seolah menelisik. Ia mencurigai sesuatu. “Apa yang mau kau lakukan?”
Dewanto menghela nafas. Wanita yang membuat hatinya terpikat ini sungguh sangat menggemaskan meskipun terkadang menjengkelkan. Ia menyentil jidat Nada dengan penuh kelembutan. “Bodoh. Apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan melakukan apapun sebelum mengucapkan ikrar janji pernikahan secara sah.”
Senang rasanya mendengar hal itu terucap dari bibir Dewanto. Meski sebenarnya pemikiran semacam ini terbilang kolot untuk diterapkan di jaman saat ini. Tapi itulah yang membuat Nada merasa senang. Sepertinya ia memang perlu membuka hati untuk pria luar biasa yang ada di hadapannya saat ini.
“Masuklah. Aku yakin semua sedang menunggumu. Kau adalah superstar hari ini. Kau pasti bisa berhasil.” ucap Nada dengan menampakan senyuman paling manis.
Dewanto membalas senyuman manis itu. Ingin rasanya memeluk Nada sekali lagi, tapi tidak enak jika sampai ada yang melihat karena ia sudah keluar dari ruangan cukup lama. Dewanto segera memasuki ruangan dan melanjutkan acara pembukaan sampai selesai. Kini saatnya bagi Nada untuk berbaring di kamar karena sudah tak sanggup melanjutkan pekerjaan. Nanti malam ia harus bangun.
__ADS_1
******
Ia berjalan dengan terseok-seok. Meraba-raba setiap permukaan yang bisa ia raih. Semua hanya terlihat hitam dan gelap. Dewanto menutup kedua mata Nada dengan sangat erat. Ia hampir tak bisa menemukan celah cahaya sedikitpun. Dewanto tetap membimbing dengan menggenggam tangan kiri Nada. Ia harus memastikan jika gadis itu tidak terjatuh atau menabrak sesuatu. Dengan langkah yang cukup pelan tapi pasti, keduanya memasuki lift hotel menuju lantai paling atas. Nada hanya bisa menerka-nerka apa yang akan dilakukan pria itu padanya.
“Apa kita ada di lift?” Tanya Nada sambil menunduk karena tak bisa menemukan celah cahaya dari penutup mata yang dipasang Dewanto.
“Apa menurutmu ini di dalam lift?” Tanya Dewanto justru bertanya balik. Ia tak sedikitpun melepas genggaman tangannya pada gadis itu.
Nada terdiam sesaat. Ia bahkan tak yakin jika berada dalam lift. Hotel ini sangat mewah. Jika biasanya seseorang akan merasakan guncangan jika saat berada dalam lift, hal itu tidak berlaku untuk hotel mewah ini. “Entahlah. Rasanya seperti sedang naik ke atas. Tapi aku juga gak yakin.”
Dewanto menahan tawanya. Kapan lagi ia bisa mengerjai Nada seperti ini? Dewanto memilih diam membiarkan gadis itu dipenuhi berbagai pertanyaan dalam hatinya. Lift itu memang bergerak dengan sangat tenang. Bahkan guncangan yang seharusnya terasa ketika menaiki lift, tidak akan terasa sedikitpun ketika berada di dalam lift.
“Tunggulah sebentar. Sedang banyak orang di depan.” ucap Dewanto sambil berbisik di telinga Nada. Gadis itu hanya membalas dengan menganggukkan kepala. Dewanto terpaksa membohongi Nada agar ia tak mencurigai kejutan yang akan diberikan Dewanto.
Tempat yang ingin Dewanto tunjukan pada Nada berada di rooftop hotel itu. Ia menemukan tempat itu ketika sedang melakukan persiapan untuk acara pembukaan hari ini. Tempat itu memang cukup tersembunyi. Untuk sampai ke tempat itu, harus memutari kolam renang yang ada di rooftop. Karena sudah cukup malam, tidak banyak pengunjung yang berenang. Hanya saja angin malam yang berhembus terlalu kencang.
“Kita keluar hotel? kau mau bawa aku kemana? Tadi kau bilang tidak akan jauh-jauh.” ucap Nada mulai protes karena lelah harus berjalan dengan mata tertutup. Bahkan telinganya pun tak diizinkan untuk mendengar suara apapun. Benar-benar pria yang kejam.
“Tidak akan jauh. Kau tetap tenang dan teruslah berjalan. Aku masih ada di sampingmu.” ucap Dewanto berusaha menenangkan Nada. Gadis itu sangat tidak bisa bersikap sabar.
Seseorang yang sedang berenang membuat air kolam mengalir keluar menyentuh telapak kaki Nada. Dewanto memejamkan matanya. Susah payah ia menutupi agar Nada tidak menyadari jika sedang berada di kolam renang.
“Apa ini?....Ini di kolam renang? Kau mau apa mengajak ke kolam? Kau tidak akan menjatuhkanku ke dalam kolam kan?” Nada mulai menyerang Dewanto dengan sejuta pertanyaan.
“Itu hanya seseorang yang menumpahkan minumannya. Kau tidak perlu khawatir dan teruslah berjalan. Minuman itu hanya mengenai sedikit kakimu.:”
__ADS_1
Nada hanya diam. Bahkan Dewanto tidak yakin jika kali ini bisa membohongi Nada dengan benar. Mana mungkin ada yang percaya jika air sebanyak itu adalah air minum yang tumpah? Dewanto menepuk jidatnya sendiri karena kebodohannya dalam berbohong.
Nada melanjutkan berjalan. Kali ini ia memilih diam karena sudah mulai tidak suka dengan kejutan semacam ini. Dewanto mengarahkan Nada menuju sebuah ayunan dengan beberapa lampu taman menghiasi sekelilingnya. Perlahan, dengan penuh kelembutan Dewanto menuntun Nada untuk menduduki ayunan tersebut. Nada hanya menoleh kiri dan kanan berusaha mencari petunjuk tentang keberadaannya.
Dewanto melepas kain yang mengikat untuk menutupi kedua mata Nada. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk menyesuaikan pandangannya. Ia melihat beberapa lampu hias yang tiba-tiba menyala secara bersamaan. Ia sempat takjub dengan pemandangan simpel itu.
“Lihatlah ke belakang.” ucap Dewanto yang sudah berdiri di belakang Nada.
Nada membalikkan badan ke sumber suara di belakangnya. Dewanto berdiri sambil tersenyum memperlihatkan pemandangan kota Palembang saat malam hari. Semua gemerlap lampu yang menyala terlihat seperti rasi bintang yang bertaburan di langit. Mata Nada sangat takjub dengan pemandangan ini. Ia berjalan ke arah Dewanto berdiri.
Dewanto merasa gugup melihat Nada terlihat sangat serius. Ia bahkan melangkah terlalu dekat dari tempat Dewanto berdiri. Apa yang akan dilakukan gadis ini? Jantungnya mendadak berdetak tak beraturan. Nafasnya seolah tercekat. Kedua mata mereka saling bertatapan. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Nada melemparkan senyuman jahil dan bergeser ke kanan untuk melihat pemandangan kota dengan lebih jelas.
Rasa sesak di paru-paru Dewanto lenyap seketika. Tidak menyangka jika gadis itu bahkan bisa mengerjainya sampai seperti ini.
“jadi ini kejutan yang kau maksud? Dimana air minum yang tadi tumpah mengenai kakiku? Tadi kita memang naik lift kan?”
Dewanto bersiul sambil mengalihkan pandangannya. Dari dulu ia memang tidak pandai berbohong. Nada menghela nafas. Ia kembali menatap pemandangan kota malam itu. Ia tidak menyesal memutuskan untuk ikut dalam acara yang diadakan untuk para investor ini, meskipun ia sama sekali tidak paham dengan secara teknis.
“Tapi, terima kasih sudah memperlihatkan pemandangan indah ini. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Banyak hal baru yang kudapatkan darimu. Sebuah dunia yang tak pernah aku masuki. Meski terjadi sangat cepat, aku bersyukur jika orang itu adalah kau.”
Dewanto berbalik dan menatap pemandangan malam itu. Ia tak pernah menyangka akan melihat pemandangan ini bersama Nada. Bahkan ini pertama kalinya ia melihat pemandangan di rooftop hotel. Ia hanya melihat sebuah foto yang disodorkan salah satu pengunjung hotel tadi pagi saat ia menemukan tempat itu. Sepertinya pengunjung itu sengaja tidur diluar untuk menikmati pemandangan indah ini.
Dewanto meraih telapak tangan Nada. “Disini dingin. Jangan sampai kau tersandung dan jatuh ya.”
Nada melemparkan tawanya ketika melihat Dewanto seperti itu. Malam itu dihabiskan keduanya dengan melihat pemandangan malam sambil bercanda satu sama lain.
__ADS_1