
Umur Nada seolah menua lebih cepat ketika baru saja sampai di kota yang terkenal dengan makanan khas berupa pempek. Belum sempat ia merebahkan diri, Pak Direktur menelepon agar Nada segera menyusul ke aula hotel untuk mengikuti sambutan serta pembukaan. Pak Direktur bilang jika acara ini diikuti oleh beberapa perusahaan ternama serta beberapa investor yang siap menginvestasikan dana pada perusahaan yang dipilih. Secara teknik mirip acara lelang.
Nada mempersiapkan beberapa dokumen yang sekiranya dibutuhkan dalam presentasi perusahaan. Tentu saja ia tidak lupa membawa flasdisk berisi laporan keuangan dalam 3 bulan terakhir. Itu akan sangat dinilai oleh para calon investor. Nada berkaca lagi pada cermin besar di kamar hotel yang ia tempati. Menilai penampilan dirinya sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan.
Ia menepuk kedua pipinya. “Pasti bisa.”
Nada keluar dari kamar hotelnya membawa tas berisi laptop dan beberapa dokumen untuk presentasi. Seandainya tidak mengikuti acara ini, ia mungkin sudah bersiap untuk makan siang. Tapi makan siang hari ini sepertinya akan digabung dengan makan malam. Oh, perut…bertahanlah.
Langkah kaki Nada terhenti sesaat. Ia melihat seorang pria yang beberapa hari ini terasa sangat familiar dalam hidupnya. Ia sudah cukup sering melihat Dewanto mengenakan setelan jas, tapi entah kenapa kali ini jantungnya berdegup saat melihat sosok Dewanto mengenakan setelan jas warna navy dan dasi dengan warna hampir senada.
Dewanto terlihat sedang berbicara dengan seorang wanita cantik. Wanita itu mengenakan setelan blazer dan sangat terlihat formal. Mungkin itu sekretarisnya. Nada berusaha tetap menjaga langkahnya agar tak menimbulkan perhatian. Wanita itu mendekatkan wajahnya pada telinga Dewanto. Terlihat memberitahu sesuatu. Nada mengalihkan pandangannya. Seolah ada rasa aneh yang membuatnya tak perlu melihat kejadian itu. Ia memutar balik langkahnya. Pasti ada jalan lain selain ke arah itu.
*******
Nada memasuki hallroom yang sudah terisi hampir sebagian besar kursi-kursi yang telah disediakan. Tidak ada satupun orang yang ia kenal di ruangan itu selain Direkturnya. Nada langsung masuk ke dalam begitu melihat direkturnya sudah duduk untuk mulai menyalakan laptopnya. Segera ia menyiapkan dokumen yang diperlukan. Ia melihat wanita cantik yang tadi berbincang dengan Dewanto. Wanita itu terlihat membagikan sebuah proposal. Semua peserta yang hadir dalam acara itu diberi satu bendel proposal.
__ADS_1
Nada tertegun saat melihat pada halaman susunan panitia. Ia terdiam saat memandangi nama “Dewanto Surya Anggara” menjabat sebagai ketua panitia. Itu sebabnya ia berangkat sangat pagi dan sampai detik ini belum memberi kabar sama sekali. Ia pasti sangat sibuk.
“Kau tidak lupa membawa laporan keuangannya bukan?”Tanya direktur sambil meneguk air putih yang disediakan di setiap meja.
Nada hanya mengangguk. Suara tepuk tangan meriah terdengar memenuhi ruangan itu. Sosok Dewanto memasuki hallroom tersebut. Apa ia begitu terkenal sampai menerima tepuk tangan semeriah ini? Ia berdiri di podium untuk melakukan sambutan sekaligus membuka acara. Jantung Nada tak berhenti berdegup. Untung saja ada 200 orang yang hadir di Hallroom tersebut. Ia tak perlu mendengar suara degup jantungnya sendiri.
Selama sambutan berlangsung, Nada hanya menunduk karena tidak ingin Dewanto melihatnya sekarang. Setidaknya saat ini, belum waktunya. Ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya padahal ia hanya scroll kanan-kiri dan atas-bawah tanpa tujuan. Bahkan hanya mendengar suara Dewanto membuat Nada serasa ingin berlari keluar karena menahan degup jantungnya sendiri.
Sambutan itu hanya berlangsung 15 menit tapi terasa sangat lama bagi Nada. Sebenarnya perutnya sudah sangat lapar. Tapi ia harus bertahan setidaknya sampai Perusahaannya selesai melakukan presentasi. Semua peserta yang hadir terlihat sangat hebat dan berkharisma. Semua mempunyai aura yang hampir sama dengan aura Dewanto. Dunia yang sangat jauh berbeda dengan dunia Nada yang tidak ada apa-apanya. Menatap Dewanto dari kejauhan seperti ini, seakan jarak diantara mereka sangatlah jauh. Ia tak mampu menggapainya. Terlihat sangat jauh.
Tak sedikitpun Nada berani menghadapi 200 pasang mata yang menatapnya. Penjelasan singkat tentang perusahaan telah dilakukan Pak Direktur selama hampir sepuluh menit. Kini giliran Nada menjelaskan tentang kondisi keuangan perusahaan selama tiga bulan terakhir. Nada menarik nafas dalam-dalam dan mulai berdiri.
“Baiklah, kali ini saya akan menjelaskan kondisi keuangan perusahaan dalam tiga bulan terakhir. Pada bulan pertama, arus kas perusahaan mengalami pelonjakan pendapatan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan permintaan terhadap furniture yang terbuat dari almunium semakin banyak.” jelas Nada dengan begitu lancar ketika tampilan laporan keuangan muncul pada layar. Mungkin memang ia ditakdirkan berurusan dengan uang.
Nada melanjutkan kembali presentasinya. “Dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan furniture dari almunium masih akan sangat dibutuhkan karena lebih awet daripada berbahan kayu. Selain itu desain lebih terlihat mewah dan minimalis.”
__ADS_1
Nada mengakhiri presentasinya dan segera turun dari panggung. Ia tidak mau menatap wajah penontonnya. Rasa lega karena telah melakukan presentasi dengan sangat lancar. Pak Direktur juga terlihat sangat bersemangat dan optimis akan banyak investor yang menginvestasikan dana untuk proyek besar perusahaan.
Ponsel Nada berbunyi. Ia terkejut saat membuka sebuah pesan chat dari Dewanto. Pesan itu sangat singkat tapi berhasil membuat Nada tersenyum tanpa sadar dan berdebar di saat yang bersamaan. “Temui aku di luar Hallroom sekarang.”
Nada melihat Dewanto keluar ruangan secara diam-diam agar tak menimbulkan perhatian. Sedangkan acara presentasi masih berlanjut. Nada meminta izin dengan direktur untuk pergi ke toilet sebentar. Biar bagaimanapun, ia tetap harus mengikuti presentasi sampai selesai. Setelah itu ia bisa beristirahat di kamar dan pulang dengan penerbangan pertama esok harinya.
Nada melihat Dewanto sudah berdiri agak jauh dari ruang Hallroom. Meskipun dari kejauhan, ia masih terlihat keren di mata Nada. Nada segera menggelengkan kepala menghilangkan pikiran aneh yang baru saja muncul. Ia sudah sampai di depan Dewanto. Pria itu hanya tersenyum menatap Nada.
“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Dewanto sambil menatap mata Nada dengan penuh tatapan kelembutan.
“Seperti yang kau lihat. Aku membantu Pak Direktur melakukan presentasi. Maaf karena begitu mendadak, tidak sempat memberitahumu. Aku juga tidak tahu jika kau ada dalam acara ini.” Jelas Nada khawatir jika Dewanto akan marah padanya.
Dewanto memeluk Nada dengan erat. Serangan tiba-tiba itu membuat Nada tidak berkutik sama sekali. “Aku sangat merindukanmu. Aku ingin segera selesai dan menemuimu. Tapi ternyata kau ada disini. Maaf aku belum sempat memberi kabar apapun. Terlalu sibuk sejak pagi. Aku ingin acara ini berjalan lancar.”
Nada tersenyum sambil ikut membalas pelukan Dewanto. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Acaranya berjalan lancar. Selamat ya, pak Ketua Panitia.”
__ADS_1
Dewanto melepas pelukannya dan membelai kepala Nada dengan lembut.