Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Rasa Sedih itu lenyap karena Dia


__ADS_3

Nada kembali di tempat itu setelah berkeliling selama 15 menit untuk menjernihkan emosinya. Ia tidak ingin mencampur aduk antara emosi pribadi ke dalam urusan pekerjaannya. Sebelum masuk café, ia melirik sekilas untuk melihat situasi. Semoga saja Dewanto belum datang dan ia bisa dengan bebas memilih lokasi tempat duduk. Namun sungguh malang. Pria itu bahkan sudah melambaikan tangannya dari dalam café. Menyiratkan agar Nada segera masuk ke dalam café. Dengan langkah malas, Nada membuka pintu utama dan mendapati Dewanto sudah duduk manis di sebuah tempat duduk yang agak jauh dari jendela.


“Silakan duduk. Kau ingin pesan apa?” tawar Dewanto dengan santai sambil memegang laporan keuangan yang dibuat oleh tim keuangan yang Nada pimpin.


Nada hanya diam kemudian duduk berhadapan dengan Dewanto. Bertanya-tanya apa yang ingin ditanyakan Direktur itu. Nada melirik penampilan Dewanto saat ini. Jika selama ini ia selalu bertemu dengan pria berusia 33 Tahun itu dengan penampilan formal dan menggunakan dasi, kini Nada melihat Dewanto menggunakan kemeja polos lengan panjang dengan celana jeans berwarna navy. Meski terlihat santai namun masih terkesan casual.


“Apa kau baru saja menangis?”


Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Nada yang sedang mengagumi penampilan casual Dewanto saat ini. Gugup? Tentu saja. Nada langsung salah tingkah dengan mengambil gelas minuman milik Dewanto. Padahal Nada belum memesan minuman apapun.


Dewanto berusaha mencegah hal itu terjadi, namun Nada tetap tanpa sadar menghabiskan minuman milik Dewanto. “Kau sangat kehausan? Bagaimana? Minumanku enak?”


Nada tersadar dengan apa yang sudah ia perbuat. Buru-buru ia menutup mulutnya. Maafkan aku, Pak. akan kuganti minumannya.”


Nada segera berlari untuk memesan minuman yang sama dengan pesanan Dewanto dan juga ia memesan untuk dirinya sendiri. Ia bahkan tak berani menatap wajah Direktur muda itu. Betapa malunya. bagaimana bisa ia terlena dengan penampilan Dewanto sampai lupa akan keadaan sekitar. Ia tak tahu lagi bagaimana harus menghadapi Dewanto setelah ini.


Sedangkan Dewanto hampir tidak bisa menahan tawanya karena tingkah Nada. Mengapa gadis itu sampai gagal fokus? Apa menangis membuat konsentrasinya bubar? Ia berusaha untuk tidak peduli pada apa yang sudah terjadi, tapi ia tak lagi bisa menahan tawanya.


Beberapa saat kemudian Nada kembali dengan dua gelas minuman yang ia bawa. Ia segera memberikan minuman pengganti untuk Dewanto. “Ini, Pak. Maaf tadi tidak sengaja.”

__ADS_1


Dewanto tak lagi mampu menahan tawanya. Ia tertawa lepas ketika minuman itu diletakkan Nada di meja. Gadis itu tampak terkejut dengan perubahan sikap Direktur muda yang ada di hadapannya ini.


“Maaf, maaf. Aku sudah menahannya tapi tak bisa. kenapa kau bisa sampai begitu? Apa yang tadi kau pikirkan? Kau melamun?” Tanya Dewanto yang tak lagi menampakkan sisi cool yang tadi sempat membuat Nada tak bisa kerkata-kata.


Nada mulai kesal dengan tawa Dewanto. Kali ini ia menyeruput minumannya sendiri. Tidak ingin menjadi bahan tertawaan untuk kedua kalinya. “Apa yang ingin Bapak tanyakan tentang laporan keuangan bulan ini?”


“Oh, itu ya. Tidak jadi. Setelah kulihat-lihat kembali akhirnya menemukan jawabannya. Maaf ya, sudah membuatmu datang kesini.” Jawab Dewanto terlihat santai karena sebenarnya itu hanyalah alibi untuk bisa bertemu dengan Nada. Sebenarnya ia penasaran dengan apa yang membuat Nada menangis.


“kalau tidak ada yang perlu ditanyakan, boleh Saya pergi?” Tanya Nada sambil bersiap untuk meninggalkan Dewanto.


“Tunggu !!” ucap Dewanto berusaha mencegah. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan langka untuk lebih dekat dengan Nada. “Adikku beberapa bulan lagi akan pulang ke Indonesia. Ulang tahunnya beberapa hari lagi, aku perlu bantuan untuk mencarikan kado. Apa kau bisa membantuku?”


Dewanto membanting laporan keuangan yang dari tadi ia pegang. “kau mengejekku? Bagaimana aku bisa punya pacar kalau setiap hari aku hanya berurusan dengan laptop dan saham? Bahkan klien yang bergabung denganku kebanyakan seorang pria.”


Nada tertawa lepas mendengar ocehan ngelantur Dewanto. Di satu sisi ia terkejut melihat sifat asli Dewanto, tapi di sisi lain ia justru tertawa karena sebenarnya mereka berdua mirip. Keduanya “gila kerja”.


“Berhenti menertawakanku !! Kau sendiri apa yang kau lakukan di hari Minggu seperti ini? Apa kau tidak punya pacar? Kenapa tidak pergi kencan?”


Kali ini giliran Nada yang sewot. “Memangnya siapa yang mau sama orang yang setiap hari hanya sibuk dengan debit kredit dan menghitung uang orang lain? kau ngajak berantem?”

__ADS_1


Dewanto menahan tawanya. Ia harus mengalah menghadapi Nada yang sudah mulai keras kepala. “Baiklah, baiklah. kita seimbang. Jadi, apa kau mau membantuku mencari kado untuk adikku?”


Nada hanya diam namun tetap menatap mata Dewanto. Pria itu tidak ada maksud yang buruk. Sepertinya ia juga jujur tentang kado untuk adiknya. Lagipula ia juga tidak ada kegiatan lain setelah ini. Akan lebih baik jika ia tidak sendirian. Setidaknya untuk hari ini.


******


Hari sudah menjelang malam. Dewanto dan Nada baru saja selesai berkeliling mall. Sekarang keduanya sedang menikmati makan malam di sebuah foodcourt dalam mall. Keduanya tidak hanya belanja untuk kado tapi juga kebutuhan masing-masing. Dewanto membawa nampan berisi makanan yang mereka pesan. Sangat tidak cocok sekali bagi Dewanto membawa nampan dengan pakaian yang casual seperti sekarang ini.


“Tidak apa kau pulang selarut ini?”


“Tidak apa. Aku sedang menghubungi teman kosku untuk tidak menungguku pulang. Kasihan jika dia harus menungguku.” ucap Nada sambil mengetik pesan singkat untuk Maria di ponselnya. Ia tidak ingin membiarkan sahabatnya itu menunggu.


“Teman kos? Kau tidak tinggal dengan orang tuamu?”


Nada menghentikan aktivitas mengetiknya. Ia tidak ingin orang lain tahu tentang alasannya tinggal di kos. “Ada beberapa alasan yang membuatku memilih tinggal di kos.” jawab Nada kembali melanjutkan mengirim pesan. “Adikmu kuliah di luar negeri?”


Dewanto melahap burger yang berukuran sebesar kepalan tangannya. Ia bahkan tidak merasa harus jaga image atau apapun di hadapan Nada. “Tidak. Dia ikut suaminya yang bekerja di luar negeri. Beberapa bulan lagi kontrak kerja suaminya akan habis, jadi ia akan kembali ke Indonesia.” jelas Dewanto yang kemudian melahap sisa burger dalam sekali makan. Sepertinya ia sangat kelaparan. “Cepat habiskan ! Akan kuantar kau pulang. Aku tidak mau kena masalah dengan teman kosmu karena membuatmu pulang larut malam.”


Nada segera bergegas menghabiskan makanan yang ia pesan. Entah bagaimana ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan cerita Dewanto tadi. Tapi entah apa itu? Kemudian Nada memilih untuk mengabaikan rasa penasaran itu. Sebaiknya ia segera pulang atau Maria akan mengomelinya sepanjang malam.

__ADS_1


__ADS_2