
Langit itu terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Cahaya oranye kemerahan dengan udara yang semakin lama semakin menghangat. Angin berhembus menyapu setiap helai rambut yang terurai diatas bahunya. Barisan burung tengah berlomba untuk bisa sampai pada rumah mereka. seharusnya Nada juga sedang berlarian ke rumah.
Jaket merah marun yang ia kenakan tak bisa menyerap rasa dingin yang sudah merasuk ke dalam tulang rusuk. Nada ingat jaket ini. Tiba-tiba ia memberikannya padahal saat itu bukan hari spesial atau apapun. Saat itu tubuh Nada masih terlalu kurus untuk mengenakan jaket ini.
Bukan berarti ia masih mengingatnya, hanya saja tidak tega membuang barang-barang begitu saja. Seandainya mereka bisa bicara, mungkin mereka akan berteriak bahkan sampai menangis ketika hendak dibuang. Sudahlah itu hanya halusinasi !!
Lapangan bola itu masih tetap sama seperti 5 tahun lalu. Nada pernah bersepeda dengannya mengitari lapangan itu. Ya, itu tepat saat senja masih setengah nampak seperti saat ini. Kesejukan angin dirasakan setiap kali merentangkan lengan. Keduanya tertawa seolah tak pernah ada beban di hati. Keduanya berteriak seolah akan selalu ada hari esok untuk mereka.
Ponsel Nada berdering. Satu nama yang membuatnya tersenyum simpul. Ia segera mengangkat telepon. “Kau dimana? apa sudah selesai?”
“Aku akan sampai dalam 15 menit. Kamu jangan jauh-jauh dari toko, ya?” ucap Dewanto dengan manja. Sangat jarang dia seperti ini.
“Aku sedang berjalan-jalan ke lapangan. Kau harus ikut juga. Angin disini sangat sejuk. Kau pasti suka.” ucap Nada sambil mengusap bulu kucing liar yang tiba-tiba datang padanya. “Oh ya, darimana kau tahu kalau aku bermaksud menjadikan rumah itu sebagai toko buku sekaligus café?”
Dewanto hanya tertawa. “Tentu saja aku tahu. Aku akan segera sampai. Sepertinya kau senang disana.” ucap Dewanto sambil mengendarai mobilnya. Masih konsentrasi dengan kondisi jalanan.
“Tentu. Akhirnya aku bisa membuka toko buku sendiri. Tapi tidak kusangka kau akan mendapat lahan di sekitar sini. Terima kasih, sayang.”
“Kau sudah berani bermanja denganku ya?” Tanya Dewanto sambil menggoda Nada di telepon. “Dengan senang hati. Asalkan calon istriku bahagia, itu lebih dari cukup untukku. aku akan tutup telepon ya. Kamu baik-baik disana.”
Sambungan telepon diputus. Membangun sebuah toko buku adalah impian Nada semenjak resign dari tempat kerja sebelumnya. Tentu saja sebelum bekerja di perusahaan almunium. Ia berusaha keras mengumpulkan modal untuk membangun toko buku impiannya. Tidak menyangka akan mendapat lahan di sekitar tempat yang penuh kenangan dengannya.
Nada menikmati setiap hembusan angin yang menghampiri. Membiarkan rambutnya disapu dengan lembut oleh angin sore. Suara teriakan anak-anak yang masih berlarian di lapangan sayup-sayup terdengar di telinga. Bagaimana mereka bisa begitu menikmati setiap kesenangan yang ada tanpa beban? …..da….nada….
Kenapa Nada seolah mendengar namanya dipanggil? Bukankah seharusnya perjalanannya masih 15 menit lagi seperti yang ia ucapkan di telepon? Kenapa sampai secepat ini? Ia bahkan belum kembali ke toko. Apa dia mencarinya sampai ke lapangan?
__ADS_1
“…..Nada…?”
Ia tidak berhalusinasi. Memang ada yang memanggil. Tapi ini bukan suaranya. Nada pernah mendengar suara ini. Tapi dimana? Suara ini tidak terasa asing baginya. Seperti suara yang sangat familiar. di belakang. Ya….dia berdiri di belakang. Nada merasakannya. Itu bukan dia. Lalu siapa?
Perlahan Nada menggerakkan tubuhnya ke belakang. Berharap bukan orang jahat yang menghampiri. Semoga bukan orang asing yang ingin menculik dan membunuhnya. Sepertinya ia terlalu banyak membaca buku tentang detektif.
Tubuh Nada sudah sepenuhnya menghadap ke belakang. Lidahnya serasa kelu. Otaknya berhenti berfikir sejenak. Jantungnya beristirahat dari kegiatan memompa udara. Tiba-tiba serasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca tidak mempercayai apa yang sudah dilihat.
“Apa kabarmu? Lama tidak bertemu.” ucap seseorang di belakang Nada dengan senyum lembut yang selalu membuatnya merasa kehilangan udara di sekitar.
“Pandu…?” Nada telah menyebut nama itu tanpa sadar. Pandangannya kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Mungkinkah ia masih berhalusinasi?
“I miss you, Nada.”
Nada menggeleng kepalanya tak percaya. Bukan halusinasi. Ia sungguh melihat sosok Pandu dihadapannya. Meskipun sedikit berubah sejak terakhir kali ia melihatnya. Nada bahkan tidak yakin jika ia masih mengingat wajahnya. Kedua telapak tangannya menutupi bibirnya. Berusaha mengendalikan rasa kagetnya.
Mata Nada berkaca-kaca. Perasaan aneh menyelimutinya. Bahagia bercampur sedih. Rasa rindu yang mulai memberontak keluar. Apa rasa itu masih ada jauh dalam lubuk hatinya? Meski saat ini sudah ada Dewanto dalam hatinya, apa mungkin Pandu masih bersembunyi di lubuk hati paling dalam?
Ponsel Nada berdering kembali. Nama Dewanto muncul pada layar ponsel. Nada dan Pandu saling bertatapan. Seolah membutuhkan persetujuan untuk menerima panggilan telepon. Nada mengatur kembali nafasnya. “iya?”
“Aku terjebak macet. Sepertinya akan memakan waktu.” ucap Dewanto ketika telepon mulai tersambung.
“Tidak usah buru-buru.” ucap Nada langsung memutus ucapan Dewanto. “Aku bertemu seorang teman. Sepertinya akan ngobrol sebentar.” ucap Nada sambil menatap Pandu yang masih berdiri diam di hadapannya. Menunggu Nada menyelesaikan teleponnya.
“Oh ya? kalau begitu aku akan menjemputmu setengah jam lagi. Semoga macetnya tidak terlalu lama. Kalian bersenang-senang dulu ya.”
__ADS_1
“Iya. Hati-hati di jalan, sayang.”
Pandu menatap Nada. Banyak yang ingin ia tanyakan. Banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak yang ingin ia sampaikan pada gadis yang selama ini tinggal di hatinya. Bahkan meskipun setelah tiga tahun menikah, ia menyadari jika pernikahannya tidak bahagia. Tidak, karena hatinya hanya terpaut pada Nada.
“Apa itu pacarmu?” Tanya Pandu memberanikan diri setelah hanya diam menatap Nada.
“Tunanganku.” jawab Nada terdengar santai namun tegas. Ia tidak mau terlihat rapuh dan goyah di hadapan Pandu atau usahanya selama ini sia-sia. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku sudah seminggu berada di Indonesia. Aku pulang untuk mengurus perceraianku.” ucap Pandu dengan tegas.
Hal paling mengejutkan terdengar. Nada tidak tahu harus bagaimana menghadapi percakapan seperti ini. “Kenapa?”
Pandu mengangkat pundaknya. “Karena sejak awal, itu hanyalah sebuah keinginan sesaat. Bukan rasa cinta yang sesungguhnya. Aku sudah berusaha untuk mencintainya, tapi sudah tidak sanggup lagi.”
Nada mengepalkan telapak tangannya. “Jika tidak mencintai dari awal, mengapa menikahinya? Apa pernikahan seperti sebuah permainan bagimu?!!”
Pandu hanya menunduk. “Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu saat itu. Aku bahkan memperlakukanmu dengan sangat jahat. Kau tahu perselingkuhan yang dilakukan laki-laki hanya bersifat sementara. Hanya untuk mengusir rasa bosan,”
Sebuah tamparan melayang ke wajah Pandu. Amarah menguasai Nada. Ia tidak percaya jika Pandu akan mengatakan hal itu. “Pantaskah kau mengatakan itu? Apa bagimu perasaanku juga sebuah permainan? Bisa-bisanya kau mengatakan bosan dan kemudian memlilih untuk selingkuh. Dimana hatimu saat itu, brengsek?!!”
Pandu tersenyum. “Aku senang jika kau marah seperti ini. Selama ini kau selalu berusaha tetap baik padaku yang sudah jahat. Itu justru membuatku semakin merasa bersalah. Aku lega setelah mendapat tamparan darimu. Itu pantas kudapatkan.”
“Pertahankan pernikahanmu. Karena itu keputusan yang kau ambil. Itu pilihan yang kau pilih setelah membuangku. Cukup hanya aku yang kau sakiti, jangan ada wanita lain lagi.”
“Aku gak bisa. Sudah tak sanggup lagi.” ucap Pandu sambil menunduk. Ia tak mungkin lagi bisa mempertahankan pernikahannya dengan Sasti. Bahkan Sasti sudah tahu sejak lama dan masih berusaha mempertahankan.
__ADS_1
“Kau akan merasakan betapa dia berharga ketika sudah kehilangan. Jangan sampai kau menyesal karena sudah kehilangan istrimu.” ucap Nada sambil berlalu.
Tak perlu lagi untuk berlama-lama membahas hal yang mungkin akan menyakiti satu sama lain. Nada paham akan hal itu. Ia memilih menjauh sebisa mungkin sebelum emosi yang mengendalikan keduanya. Baik Nada maupun Pandu sama-sama masih menyimpan rasa itu jauh dalam lubuk hati mereka. Entah apa yang bisa dilakukan waktu terhadap keduanya.