Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Serpihan masa lalu


__ADS_3

Waktu telah menunjukan pukul 10 pagi. Namun Nada masih diam tak bergerak di atas tempat tidurnya. Hari minggu adalah saat yang menyenangkan untuk memanjakan tubuh, menyatukan diri dengan gravitasi kasur, dan mengembalikan kondisi kantung mata yang menghitam selama satu minggu. Rekan satu kosnya –Maria- yang bekerja di bagian pelayanan harus tetap masuk meskipun hari Minggu.


Sebenarnya hari ini ia diminta Ibunya untuk pulang ke rumah, namun karena tubuhnya yang terlalu lelah, ia memilih untuk tetap istirahat di kos. Dalam Rumah kos yang mereka tinggali terdapat beberapa kamar kosong yang sudah beberapa kali ditempati, namun beberapa hari kemarin penghuninya keluar karena masa kontrak kerjanya sudah habis.


Penghuni lama dari kos tersebut adalah Maria. Kini rumah kos itu hanya dihuni oleh Maria dan Nada. Rasanya sudah seperti rumah milik sendiri. Tentu saja masalah kebersihan rumah kos diserahkan sepenuhnya kepada mereka berdua. Ibu kos hanya beberapa kali mengecek dan sudah sepenuhnya percaya pada Maria dan Nada.


Sebenarnya Nada dan orangtuanya berada dalam satu kota. Akan tetapi selama berada di rumah, Nada menjadi sosok yang malas dan bergantung pada Ibunya. Ia sangat tidak menyukai hal itu. Oleh karenanya, Nada memutuskan tinggal di tempat kos untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri.


Ponsel Nada bernyanyi. Muncul sebuah nama yang lewat di layar ponsel itu. Mata Nada bahkan masih terpejam saat menerima panggilan masuk tersebut. Siapa yang berani mengusik ketenangan hari Minggu yang langka ini?


“Halo?” Sapa Nada masih dengan mata terpejam.


“Nak, kamu masih tidur? Ini papa. Apa papa menggangumu?” ucap seorang pria dari seberang telepon. Perlu waktu bagi Nada untuk mengingat suara siapa.


Dengan kepala yang berat ia membuka mata dengan susah payah dan melirik nama yang tertera pada ponselnya. Seketika ia terbangun setelah melihat nama yang ada di ponselnya. “Enggak kok Pa. Ada apa ya?”


“Gini nak, Papa Cuma pengen ketemu aja kok. Kamu hari ini sibuk gak ya?”


Rasa kantuk Nada yang daritadi menguasai kini seolah lenyap tanpa bekas. Jantungnya berdegup tak beraturan. ia tidak tahu alasan apa yang membuat pria -yang tadi ia panggil Papa- mengajak untuk bertemu. “Tidak. Mau ketemu dimana, Pa?”


“Nanti papa kirim lokasi ya? Waktu jam makan siang saja ya.” ucap Papa kemudian menutup sambungan telepon.


Bahkan telapak tangan Nada masih bergetar setelah menerima telepon itu. Giginya secara tidak sadar menggigit bibirnya sendiri. Perlahan ia mengatur nafasnya dengan baik setelah tidak bernafas selama beberapa detik. Perasaannya campur aduk. Dengan alasan apa pria itu datang lagi di kehidupan Nada?

__ADS_1


Dengan gerakan malas, ia mengambil handuk yang tergantung dan memilih baju yang akan dikenakan. Secara tidak sadar ia memilih baju yang paling bagus dan mencobanya di depan cermin. “Untuk apa ia tampil cantik? Tidak !! Ia justru harus tampil sebagus mungkin.” gumamnya dalam hati sambil tersenyum licik di depan cermin.


******


Nada mengamati sekali lagi ponselnya. Lokasi yang dikirimkan merupakan sebuah warung makan dengan nuansa pemancingan. Ia mengenakan baju blouse model kemeja berwarna mocca dengan inner warna navy. Ia melihat sekeliling warung tersebut. Mungkin sebaiknya ia menunggu di dalam. Kedatangannya disambut ramah oleh pelayan. Meskipun terbilang warung, tapi pelayanan bagian depan sudah seperti berada hotel.


Di sudut sebelah kiri, seorang pria dengan jaket berwarna hitam dan berambut gondrong melambaikan tangannya pada Nada. Jantungnya seolah berhenti sejenak. Ia menghampiri meja yang telah ditempati oleh pria gondrong itu. Langkahnya melambat saat mulai mendekati meja tersebut. “Benarkah keputusan ini?” ia mulai bergumam sekarang. Menyesali keputusannya saat ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Nada memaksakan senyumnya. Saat ini ia harus berakting seolah ia sangat baik-baik saja. “Sudah lama menunggu, Pa?”


“Engga, kok. Papa juga baru sampai. Udah Papa pesankan menu paling enak disini. Gak apa, kan?” Sebuah pertanyaan yang dirasa tidak perlu untuk dibantah. Nada hanya mengangguk dan tetap tersenyum.


“Papa apa kabar? Kirain sama Mama juga.” Nada mulai meluncurkan aksi basa-basi yang sebenarnya tidak ingin ia tanyakan. Sebenarnya ia tidak ingin tahu juga.


“enggak. Mama lagi jaga toko soalnya.”


“Kamu gimana kabar, Nak? Sudah punya pacar belum?” Tanya Papa dengan santai sambil menyeruput minuman yang terasa menyegarkan. Tapi tidak untuk perasaan Nada.


Nada tersenyum pahit namun mencoba terlihat manis meski dengan paksaan yang berat. “Belum, Pa.” ucap Nada sambil meneguk es teh yang dipesan. Kali ini ia menyadari bahwa paru-parunya butuh udara.


“Sebenarnya Papa mewakili keluarga untuk minta maaf sekali lagi sama kamu, Nak. Papa gak tahu sudah berapa kali minta maaf, tapi rasanya masih tetap bersalah. Tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa agar kamu memaafkan kami.”


Nada mulai malas dengan pembicaraan ini. Jauh dalam lubuk hatinya, Nada sudah memaafkan mereka. Tapi untuk kembali pada keadaan seolah tak pernah terjadi apapun, itu hal yang mustahil bagi Nada. Piring itu sudah terlanjur pecah berkeping-keping. Tidak mungkin bisa kembali seperti semula.

__ADS_1


“Aku sudah memaafkan kok, Pa. Tenang saja. Tidak perlu khawatir.” ucap Nada berusaha menampilkan senyum seolah semua baik-baik saja tanpa ada piring yang pecah.


“Papa tahu apa yang dilakukan Pandu sama kamu itu jahat. Papa sama Mama juga tidak berusaha melarang atau menghentikan. Bahkan malah mendukung tindakannya tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.” ucap papa panjang lebar dengan ekspresi menyesal yang sangat terlihat jelas. “Papa sama Mama terhasut sama fitnah yang dikatakan Pandu tentang kamu dan keluargamu. Sekali lagi Papa minta maaf.”


Ya. Pria gondrong itu adalah Ayah kandung Pandu. Pada saat meninggalkan Nada, Pandu membuat sebuah cerita seolah orang tua Nada tidak merestui. Hal itulah yang kemudian membuat Papa mendukung tindakan Pandu untuk berselingkuh dengan wanita yang saat ini menjadi istrinya. Tentu saja mereka menyembunyikan hal ini dari Nada.


Cerita itu terbongkar ketika sang Papa mengajak Nada untuk bertemu beberapa hari setelah Pandu dan Nada mengakhiri hubungan. Pertemuan keduanya untuk mengklarifikasi cerita yang dibuat Pandu sebagai alasan untuk meninggalkan Nada. Ia sempat tidak percaya dengan hal yang sudah dilakukan Pandu padanya. Bertanya-tanya apa kesalahan Nada yang membuat Pandu harus melakukan hal kejam itu padanya.


Ingin rasanya melempar seluruh isi meja makan saat ini. Tapi Nada harus tetap tenang dan berusaha “bermain cantik”. Ia tak boleh kalah dengan emosinya. Biar bagaimanapun itu sudah menjadi kejadian 3 tahun yang lalu. Tidak ada gunanya menyesali atau bahkan melampiaskan emosi. Apapun yang dilakukan, tidak akan mengubah keadaan saat ini. Nada menyadarinya, Nada memahaminya, tapi penyesalan itu terus menyelimutinya. Menggerogoti sampai pada inti hati nuraninya.


“Bukankah aku sudah mengatakannya 3 tahun yang lalu? Aku sudah lama memaafkan kalian. Tidak perlu sampai seperti ini. Bukankah sudah saatnya untuk menjalani hidup masing-masing tanpa harus membawa luka dan penyesalan di masa lalu?”


Mengatakan memang mudah. Bahkan Nada mengucapkan hal itu dengan sangat lancar dan percaya diri. Namun sebenarnya hal itu sangat berat ia lakukan. Menjalani hari-hari dengan masa lalu yang terus menghantui adalah hal paling menyakitkan baginya. Selama ini ia hanya berusaha untuk kuat tanpa peduli efek samping pada mental dan hatinya. Jika harus mendatangi psikiater, mungkin itulah hal pertama yang akan dijalani Nada.


“kamu sudah dewasa ya, nak. Beda banget sama istrinya Pandu. Papa gak tahu lagi sama mereka. Satunya gak dewasa dan egois, satunya kayak ga peduli.” oceh Papa yang semakin tidak karuan.


Telinga Nada mulai panas. Apa urusannya ia harus mendengar hal semacam ini? Apa peduli Nada untuk mereka? Biarkan mereka dengan masalah masing-masing, kenapa Nada harus mendengarnya?


“Mereka berdua baru belajar mengarungi bahtera rumah tangga. Petengkaran kecil adalah hal yang wajar untuk proses mendewasakan pribadi masing-masing. Papa tidak perlu khawatir, pelan-pelan akan membaik, kok.” ucap Nada buru-buru memotong cerita yang dikatakan Papa. Ia sudah gatal untuk meninggalkan tempat itu.


Nada pura-pura melirik jam tangannya. Bersikap seolah-olah setelah ini ia ada janji dengan orang lain. “Maaf, Pa. Aku tidak bisa lama-lama. Ada janji dengan teman.”


“Oh. gak apa nak. Papa yang terima kasih banyak ya sudah mau menemui Papa lagi. Maaf sudah merepotkanmu.” ucap Papa sambil berdiri dan menjulurkan tangan.

__ADS_1


Nada menerima uluran tangan itu. “Tidak masalah, Pa.”


Ia pun segera meninggalkan warung pemancingan itu tanpa menghabiskan makanannya. Rasa lapar di perutnya mendadak lenyap dimakan cerita tentang Pandu.


__ADS_2