
Layaknya angin yang berhembus
Terbang membawa kesejukan
Mata yang tak pernah terpejam
Kini harus terpejam cukup lama
Kau hadir diantara hujan dan pelangi
Membelenggu dengan pesonamu
Membungkam mendung gelap di dasar hatimu
(Dewanto Surya Anggara)
Berkas-berkas yang harus ia periksa sudah semakin menumpuk dari hari ke hari. Sampai detik ini Dewanto belum memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan pihak mana. Semua itu tidak bisa dipastikan begitu saja. Perlu memperhatikan kondisi keuangan perusahaan, lokasi serta strategi agar investasi yang ia berikan tidak sia-sia belaka.
Sudah sejak pagi tadi Dewanto hanya membolak-balik berkas perusahaan yang mengajukan kerja sama dengannya. Kepalanya serasa berputar. Dua gelas kopi bahkan tidak membuatnya merasa lebih baik. Sejauh ini belum ada perusahaan yang sekiranya pantas untuk menerima dana investasi darinya. Atau mungkin sebaiknya ia tak perlu melakukan investasi lagi?
Beberapa saham yang ia beli pada Bursa saham sejak tahun lalu sudah menunjukan perkembangan yang signifikan. Sepertinya untuk tahun ini ia tak perlu melakukan investasi pada perusahaan. Melihat sejak tadi ia bahkan tidak menemukan satupun yang mempunyai kondisi finansial yang stabil.
“Selamat pagi Pak Dewanto, saya ingin menyerahkan berkas dari perusahaan almunium yang ingin melakukan kerja sama.” ucap seorang sekretaris yang membuka pintu ruangan Dewanto setelah mengetuk tiga kali.
“Baiklah. taruh saja di meja.” jawab Dewanto tanpa melihat sekretarisnya. Ia sudah terlihat cukup pusing saat ini.
Sekretaris itu segera pergi dari ruangan dan menutup pintu kembali. Dewanto meneguk kembali kopinya. Mungkin menunda untuk melakukan investasi pada perusahaan adalah pilihan terbaiknya saat ini. Ia sudah terlalu pusing dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Ponselnya bordering.
__ADS_1
“Halo?” ucapnya dengan nada asal.
“Selamat siang Pak Dewanto, Saya Very Direktur Perusahaan almunium PT. Metal Grey Inovation. Kemarin saya menitipkan proposal pengajuan investor pada sekretaris Anda. Apakah sudah diterima?”
“Almunium?” Dewanto melirik berkas yang baru saja sampai di atas meja kerjanya. “Ah, iya Pak Very. Berkasnya baru saja saya terima. Akan saya periksa lebih dulu. Nanti akan saya hubungi kembali.” ucap Dewanto sambil menarik berkas tersebut.
“Baiklah. Terima kasih banyak atas waktunya. Saya harap Anda bersedia melakukan investasi pada perusahaan Kami. Selamat Siang.” sambungan telepon terputus.
Hal pertama kali yang dilihat Dewanto dari berkas proposal itu adalah kondisi keuangan. Dia cukup terkesan dengan laporan keuangan yang disusun rapi sehingga mudah bagi orang awam untuk membaca hasil dari laporan keuangan tersebut. Bahkan melampirkan pula hasil dari laporan audit. Ia segera mengambil ponsel dan melacak lokasi perusahaan tersebut.
Lokasi yang ditunjukan juga cukup strategis selain itu perusahaan tersebut menciptakan banyak inovasi baru dalam dunia furniture. Bukankah ini menarik? Dewanto mengambil line telepon dan menyambungkan kepada sekretarisnya.
“Minta tolong carikan informasi selengkap-lengkapnya tentang PT. Metal Grey Inovation. Terutama terkait tanggapan konsumen.”
“Baik pak.”
Saat ini perusahaan batu bara tersebut berada di luar Pulau Jawa. Kepemimpinan diambil alih oleh adik kandungnya. Sedangkan ia berhasil mendirikan cabang di kota Surabaya yang sedang ia kelola saat ini.
Pada usianya yang menginjak 30 tahun, tidak ada satupun wanita yang pernah ia kencani. Meski begitu, banyak wanita yang berebut untuk mencuri perhatiannya. Namun, seolah tidak tertarik sedikitpun, Dewanto lebih memilih karir dan perusahaannya.
Tahun lalu, ia mengikuti acara bursa saham dan membeli beberapa untuk meningkatkan kekayaannya. Ia bukan seorang pengusaha muda yang asal membeli saham tanpa memeriksa terlebih dahulu asal usulnya. Tentu saja ia sudah memperkirakan hal ini. Saham tersebut meningkat secara signifikan sesuai dengan perkiraannya.
Tidak perlu menunggu sampai dua jam, sekretaris itu membawa laporan yang diminta oleh Dewanto. Ia segera memeriksa dan membaca kembali terutama tanggapan konsumen terkait produk yang dihasilkan perusahaan almunium tersebut. Senyumnya mengembang tipis kemudian membereskan beberapa barang-barangnya.
“Segera hubungi direktur PT. Metal Grey Inovation. Katakan jika nanti sore aku akan berkunjung ke kantor.” ucap Dewanto kepada sekretarisnya sambil keluar ruangan.
Baik, Pak.”
__ADS_1
********
Mobil SUV warna hitam mengkilat terparkir sempurna di halaman PT. Metal Grey Inovation. Ia membawa beberapa berkas terutama proposal pengajuan yang sudah selesai ia baca sampai halaman terakhir. Gedung itu cukup tinggi dengan area produksi yang terletak di belakang kantor. Di lantai paling atas terdapat tulisan besar yang menjadi lambing dari perusahaan almunium yang akan mendapat suntikan dana darinya.
Dewanto keluar dari mobil dan berjalan santai memasuki area kantor. Cukup luas untuk sebuah perusahaan yang berdiri selama 10 tahun dan baru mengalami puncak kejayaan dalam 2 tahun terakhir. Pemandangan dari luar terlihat perusahaan ini sangat meyakinkan. Sepertinya kali ini Dewanto tidak akan salah pilih. Karena memang selama ini ia tidak pernah salah dalam mengambil keputusan.
Pintu depan terbuat dari kaca dengan sedikit hiasan yang terbuat dari almunium. Sebuah pintu kaca otomatis yang dilengkapi dengan sensor yang akan bereaksi dengan suhu tubuh manusia. Pintu itu pasti salah satu produk buatan perusahaan ini. Dewanto berjalan menuju meja reseptionis yang sudah menyambut setelah melewati pintu utama.
“Selamat Sore, ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang reseptionis cantik yang seketika berdiri setiap ada tamu yang menghampiri.
“Saya Dewanto, ingin bertemu dengan Pak Very. Tadi siang sudah janjian.” ucap Dewanto mantap sambil tersenyum renyah pada reseptionis.
“Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan menghubungi Pak Direktur.”
Hanya perlu waktu beberap detik saja, kemudian Dewanto dipersilakan untuk naik ke lantai 3. Lantai dimana para manajer, direktur dan staff office bekerja. Dewanto segera berjalan menuju lift sesuai arahan dari reseptionis. Ia terkesan dengan desain dan furniture yang menghiasi ruangan lobby kantor ini.
Pintu lift terbuka dan seorang wanita mengenakan blazer berwarna putih tulang dan berkulit kuning langsat keluar dari dalam lift. Sekilas terlihat seperti ingin menangis. Mungkin Dewanto hanya salah lihat. Ia segera memasuki lift. Matanya tertuju pada sebuah jam tangan yang ada di lantai lift. Pasti jam tangan itu terjatuh dari tangan wanita itu.
Dewanto segera menyambar jam tangan dan berusaha mengejar wanita muda itu. Dalam sekejap wanita itu sudah melewati pintu utama. Dewanto berusaha memanggilnya namun tidak tahu nama wanita itu. Ia pun keluar dan mendapati wanita itu berhenti di depan kantor. Sepertinya sedang berbincang dengan teman wanitanya. Wanita itu tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Sepatu high heels sedikit banyak membantu agar terlihat lebih tinggi. Dewanto berdiri di belakang wanita itu. Tidak ingin memotong pembicaraan mereka.
Namun, lawan bicaranya melihat Dewanto dan seperti memberi kode jika ada orang di belakangnya. Wanita itu menoleh dengan anggun. Mata Dewanto seolah terhisap oleh pesona yang baru saja diperlihatkan wanita itu. Mungkin usianya tidak terpaut jauh dengannya. Ia seolah kehabisan kata-kata. Bingung ingin mengatakan apa.
“Maaf, jam tanganmu terjatuh di dalam lift.” ucap pria itu sambil menyodorkan jam tangan tak bermerek yang memang sengaja Nada tinggalkan di dalam lift. “Aku berusaha memanggilmu, tapi karena tidak tahu siapa namamu, jadi…….”
Dewanto menyodorkan jam tangan berwarna perak. Wanita itu tampak terdiam sejenak. Ia seolah melihat adanya air mata yang tergenang di kelopak mata wanita itu. Begitu berhargakah jam tangan itu sampai-sampai ia harus menahan tangisnya seperti itu?
“Terima kasih sudah menemukannya.”
__ADS_1
Dewanto kemudian tersenyum simpul dan menyerahkan jam tangan pada wanita itu. Ia hampir saja melupakan janji bertemu dengan direktur.