
Kau adalah alasanku mempertaruhkan segalanya
Disaat matamu memancarkan kesedihan
Seolah mengatakan jika aku adalah cahaya dalam hidupmu
Maka aku pertaruhkan segala mimpiku untukmu
(Nada untuk Pandu)
Aku adalah wadah kosong yang tak berguna
Sampai kau menemukanku diantara seonggok sampah
Tanganmu yang menjulur seakan mengatakan
Kamulah takdirku
(Pandu untuk Nada)
Aku menemukanmu setelah dia membuangmu
Tak berdaya dan hampir kehilangan akal sehat
Bibirmu mengucap kata “pergi”
Tapi matamu berkata “Jangan biarkan aku sendiri”
__ADS_1
(Dewanto untuk Nada)
Hati Nada seolah tersambar petir. Ia sudah cukup bisa menjalani hari-harinya dengan baik selepas ditinggalkan begitu saja oleh Pandu. Lelaki itu…lelaki yang sudah menjalin hubungan dengan Nada selama 7 tahun meninggalkannya dan kini pertama kalinya Nada menyesal telah melihat sosial media. Sudah lama Nada menghapus semua akses yang berkaitan dengan Pandu. Ia berjanji tak ingin lagi mengetahui keadaan Pandu.
Namun hari ini, ia melupakan satu kenyataan jika ia mengikuti akun sosial media teman kampus Pandu. Ia memposting sebuah foto pernikahan Pandu dengan wanita yang membuatnya meninggalkan Nada tanpa perasaan. Susah payah Nada berusaha kuat, susah payah Nada berusaha tersenyum, susah payah Nada berusaha terlihat bahagia. Tapi hari ini, detik ini, ia merasa lebih baik untuk menangis.
Bagi Nada, Pandu adalah segalanya. Pandu adalah mimpinya. Ia sudah lakukan semua hal yang ia bisa. Ia sudah berikan semua yang ia punya. Kini, setelah Pandu pergi meninggalkannya, dunia serasa menjauh. Semua hal sudah dipertaruhkan demi Pandu. Tapi lelaki itu membuangnya tanpa perasaan. Menciptakan keadaan seolah semuanya kesalahan Nada.
Nada bersyukur otaknya masih bisa berfikir jernih. Ia tak pernah sekalipun berfikir untuk melakukan hal bodoh seperti mengakhiri hidupnya walaupun rasanya ingin sekali mencoba hal itu. Ia masih punya keluarga yang senantiasa mendukung dan memberi semangat. Ia juga masih punya sahabat yang selalu ada untuk dirinya.
Bahkan sampai tiga tahun berlalu, Nada masih enggan untuk memulai kembali sebuah hubungan baru. Rasa sakit itu secara tidak sengaja menciptakan tembok besar dan kokoh yang melindunginya agar tidak pernah lagi terluka. Sedangkan rasa takut itu membentuk trauma yang dalam. Sedikit banyak Nada berubah menjadi orang yang berbeda. Bukan lagi Nada yang dahulu selalu tersenyum dan bersemangat setiap saat.
Saat ini ia hanya fokus pada karir sebagai manajer bagian keuangan pada perusahaan almunium. Karir yang bagi sebagian orang terbilang sukses. Namun tidak untuk Nada. Ia merasa karirnya hanyalah sebuah batu loncatan untuk melupakan Pandu dalam hidupnya.
Setiap hari ia bekerja dari pagi sampai hampir malam. Setelah sampai di rumah ia berbaring sebentar lalu terlelap dalam tidur. Begitu terus setiap harinya. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang bisa ia ceritakan dan berbagi pada orang lain tentang hari-harinya yang membosankan. Ia hanya menjalani hari-hari mengikuti arus air yang mengalir.
“Oke. terima kasih.” ucap Nada sambil tersenyum. Meski terbilang usianya cukup belia untuk menjabat sebagai manajer, ia tetap berusaha bersikap sopan pada senior yang statusnya masih menjadi bawahannya. Meski sempat merasa tidak enak, tapi kerja keras Nada selama tiga tahun tidak bisa diremehkan begitu saja.
Jika harus jujur, ia sudah cukup lelah dengan kesehariannya. Bergelimang harta bukan satu-satunya jalan kebahagiaan baginya. Ia menyadari semua hal itu.
“Untuk laporan masing-masing divisi saya tunggu sampai besok siang. Terima kasih untuk kerja keras hari ini dan hati-hati di jalan.” ucapnya untuk menutup pekerjaan hari ini. Beberapa sedang bersiap untuk pulang dan sebagian yang lain tetap melanjutkan pekerjaannya. Ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas pada nomor yang sangat familiar.
“Kau sudah rindu padaku?” goda Nada pada seseorang yang sedang menelepon di seberang. wajahnya terlihat cerah seolah lupa dengan pekerjaannya yang menumpuk.
“Rindu kepalamu !! Aku sudah ada di depan kantormu. Kita jadi makan malam bareng, kan? Jangan bilang kau sudah melupakan janjimu !!” gerutu Cecyl –sahabat Nada sejak kecil-.
Tawa Nada pecah di ruangan. Membuyarkan konsentrasi beberapa rekan kerjanya yang sedang konsentrasi penuh. Nada buru-buru keluar ruangan dan minta maaf pada beberapa rekan yang masih memilih untuk mengerjakan pekerjaan mereka.
__ADS_1
“Baiklah aku kesana. Tunggu aku !!”
Sambungan telepon diputus. Nada segera menaiki lift dari lantai 9 menuju lobby di lantai 1. sekilas ini melirik jam tangan yang dikenakan. Ia teringat sesuatu. Tanpa sadar ia masih mengenakan jam tangan pemberian Pandu. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Mungkin sudah seharusnya ia membuang jam tangan itu.
Nada menghela nafas pendek sambil melepas jam tangan tanpa merek seharga tiga puluh ribu rupiah hadiah ulang tahun saat masih kuliah dulu. Lagi-lagi ia teringat saat dulu tak sengaja menemukan sosial media yang berisi foto jam tangan mahal dan bermerk bernilai jutaan rupiah yang diberikan Pandu pada wanita yang dipilihnya. Nada kembali mengutuk dirinya karena membuka akun sosial media.
Ia segera melepas jam tangan itu dan meletakkan pada lantai lift. Berharap ada pemilik baru yang berniat mengadopsinya. Itu akan jauh lebih baik daripada membuangnya ke tempat sampah. Meskipun benda mati, ia masih punya perasaan kemanusiaan. Tentu saja benda apapun tidak akan mau dibuang begitu saja.
Pintu lift terbuka. Nada berjalan keluar menuju lobby. Beberapa staf lain menyapanya dengan sopan. Demikian juga dengan Nada. Ia kembali tersenyum saat melihat sahabatnya sudah mulai terlihat bête menunggunya keluar dari kantor.
“Kau menunggu lama?” Goda Nada tidak tahan melihat ekspresi lucu Cecyl yang membulatkan pipinya.
“Kau harus membayar 10 menitku yang terbuang.” oceh Cecyl sambil melipat kedua lengannya ke depan.
“Aku akan membayar semua tagihan makan malammu hari ini. Jadi jangan cemberut lagi !!” kini Nada mencubit pipi Cecyl.
Beberapa hari ini sahabatnya itu terlihat lebih gemuk. Mungkin karena perubahan cuaca yang tidak menentu dan kebutuhan akan makanan yang meningkat setiap harinya. Jadi semua itu bukan salah Cecyl jika berat badannya bertambah tanpa bisa dihentikan.
“Tapi sepertinya kau punya tamu.”
Nada mengedipkan matanya beberapa kali mengikuti arah pandang mata Cecyl. Ia berbalik dan menemukan seorang pria bertubuh sekitar 170cm dengan kulit sawo matang dan berkacamata. Bertanya dalam hati ada urusan apa pria itu mencarinya.
“Maaf, jam tanganmu terjatuh di dalam lift.” ucap pria itu sambil menyodorkan jam tangan tak bermerek yang memang sengaja Nada tinggalkan di dalam lift. “Aku berusaha memanggilmu, tapi karena tidak tahu siapa namamu, jadi…….”
Nada menghela nafas lemas. Ia memandangi sejenak jam tangan itu. Sejujurnya ia paham. Jam tangan itu tidak bersalah. Tidak seharusnya ia membuangnya dengan tidak terhormat. Itu sama saja dengan perlakuan Pandu yang membuang Nada begitu saja tanpa perasaan. Matanya mulai berkaca-kaca. “Terima kasih sudah menemukannya.”
Pria itu kemudian pergi dan kembali masuk ke kantor. Entah pria itu bekerja dalam divisi apa. Tapi yang jelas, entah Nada seharusnya bersyukur atau menyesali kembalinya jam tangan itu padanya.
__ADS_1