Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Perjodohan SOS


__ADS_3

Nada dan Cecyl saling melirik satu sama lain. Beberapa makanan sudah dihidangkan di atas meja. Semua makanan itu Dewanto yang traktir. Beberapa dessert dan pudding bahkan menghiasi meja itu. Mata Cecyl berbinar melihat makanan yang sudah daritadi memanggil untuk segera dimakan. Tapi suasana keduanya sangat tidak mendukung. Baik Nada maupun Dewanto sepertinya tidak nyaman satu sama lain.


Setelah mendapat telepon dari rekan kerjanya, Nada bersikap aneh pada Dewanto. Bukan tanpa alasan, ia terlihat takut dengan Dewanto. Benarkah hanya kebetulan ataukah Dewanto sengaja mendatangi semua toko buku untuk mencari Nada? Memikirkannya saja membuat merinding. Nada beberapa kali mengusir pikiran anehnya.


“Ayo, makan.” ajak Cecyl sudah terlihat kelaparan. Tangannya meraih lengan Nada yang setengah melamun.


“Iya, setelah makan kita pulang ya? Aku harus masak untuk makan malam Maria.” ucap Nada meraih sendok dan garpu di hadapannya.


Dewanto hanya melirik sesekali. Entah apa yang membuat Nada terlihat tidak peduli padanya. Sikapnya mendadak berubah. Mungkinkah Nada mengetahui jika Dewanto sengaja menyusul ke toko buku untuk mencarinya? Menduga-duga apa yang terjadi seperti bukan sifat Dewanto yang sebenarnya. Ia lebih senang bertanya langsung daripada menerka-nerka.


“Kenapa buru-buru? Tidak nyaman dengan makanannya? Mumpung libur, ayo mampir ke suatu tempat.” ajak Dewanto mencoba menghangatkan suasana. “Cecyl ada acara apa setelah ini? Tidak sibuk, kan?”


“Eh,,,aku terserah Nada saja. Jika Nada ikut, aku juga ikut.”


Dewanto melirik kembali ke arah Nada. Menunggu gadis itu memberikan keputusan meskipun Dewanto sadar dengan kondisi ini. Hari ini Nada terlihat berbeda dari biasanya.


“Aku sudah berjanji akan pulang sebelum Maria sampai rumah. Mungkin lain kali saja. Maaf ya, Terima kasih untuk makanannya.” Nada bergegas berdiri dan mulai menyambar tas miliknya. Ia memberi kode pada Cecyl untuk mengikuti apa yang dilakukan.


Tak perlu menunggu waktu lama untuk membaca kode dari Nada. Cecyl segera bangkit dan ikut berpamitan pada Dewanto. Seperti dicampakan, keduanya meninggalkan Dewanto sendirian di café itu.

__ADS_1


Nada tetap berjalan ke depan tanpa menoleh lagi pada Dewanto. Cecyl hanya mengekor tanpa berani bertanya apapun. Ini bukan pertama kalinya terjadi. Nada akan bersikap seperti saat ini jika ia merasa dibohongi. Haruskah Cecyl menanyakan pada Nada apa yang sudah terjadi?


“Hei, pria itu….orang yang waktu itu menemukan jam tanganmu kan? Apa yang terjadi? Kamu sepertinya sangat marah padanya?” Cecyl mulai mencecar dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi menggeluti benaknya.


“Iya. Aku hanya tidak suka jika ada orang yang menguntitku.” jawab Nada sambil menunggu pintu lift terbuka. Ia bahkan tidak ingin memandangi Cecyl. Sudah jadi ciri khas saat Nada sedang marah yaitu tidak ingin menatap siapapun orang di sekitarnya.


“Menguntit? Kenapa?”


Bahkan pertanyaan Cecyl belum selesai diucapkan tapi suara dering ponsel Nada terdengar dari dalam tas jinjingnya. Ia mengerutkan alis melihat nama yang tertera. “Iya ma? Ada apa?”


Dan seketika suasana terasa mencengangkan. Wajah Nada seakan membeku.


*******


Nada segera bergegas pulang ke rumah karena perintah kedua orangtuanya. Ia cukup terpaku karena alasan ia dipaksa untuk pulang adalah untuk menghadiri undangan makan malam dengan keluarga atasan Ayahnya. Bahkan sampai terdengar kalimat memohon agar Nada bersedia untuk pulang ke rumah dan menghadiri undangan makan malam.


Tidak hanya acara makan malam biasa. Tentu saja undangan ini punya maksud lain. Atasan Ayah Nada merencanakan sebuah perjodohan antara putranya dengan Nada. Tentu saja Nada menentang dengan suara yang paling lantang. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya tapi kenapa masih ada acara perjodohan?


“Ayah mohon padamu. Beliau adalah atasan Ayah. Tidak enak jika menolak. Istrinya juga donatur terbesar yayasan anak yatim yang dikelola ibumu.” Jelas Ayah dengan wajah sedikit memelas. Hati Nada seakan teriris.

__ADS_1


“Kau tidak harus langsung menerimanya. Setidaknya hanya datang makan malam saja, keputusan selanjutnya Kami serahkan pada kalian. Jika kamu suka, perjodohan bisa dilanjutkan. Jika tidak, kamu bisa menolaknya.” Penjelasan Ibu setidaknya lebih bijaksana dan bisa diterima oleh Nada.


“Baiklah. Aku akan datang. Apapun keputusannya, jangan pernah memaksaku.” ucap Nada sambil bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


Ibu terlihat bahagia dan segera bangkit dari duduknya. “Pakailah baju terbaikmu, sayang. Dandan yang canti, ya.”


Namun Nada sudah menutup pintu kamarnya.


**********


Kedua keluarga itu berencana untuk mengadakan makan malam di restoran Hotel Marine. Meski letaknya cukup jauh dari rumah Nada, tapi cukup dekat dengan lokasi kosnya. Mungkin setelah makan malam, ia berencana langsung pulang ke kos. Ia sudah merindukan kamar kosnya. Ia juga sudah berpamitan pada Maria agar tidak menunggunya pulang dan makan malam sendiri.


Restoran itu mempunyai beberapa pilar yang menyangga bangunan hotel tersebut agar lebih kokoh dan terlihat mewah. Hiasan dinding dan berbagai ornament yang terpasang sangat anggun untuk menambah kesan mewah pada hotel ini. Di tengah ruangan terdapat kolam dengan air mancur yang bisa dilihat mulai dari pintu masuk utama.


Atasan Ayah beserta istrinya sudah sampai lebih dulu dan menempati meja yang sudah direservasi sebelumnya. Nada berjalan di belakang mengikuti kedua orang tuanya. Hari ini ia mengenakan dress warna hitam tanpa lengan dengan sebuah selendang yang disampirkan pada kedua siku tangannya dan melingkar ke belakang. Rambutnya diikat gantung dengan sedikit miring ke bawah. Ia sedikit mengkeriting beberapa bagian rambutnya. Ia tak bermaksud untuk tampil sangat cantik malam ini. Tapi tangannya tak bisa berhenti untuk berias ketika melihat gaun hitam indah yang akan ia kenakan.


Nada melakukan ini bukan karena menerima perjodohan. Ia hanya tak tega melihat kedua orang tuanya bahkan sampai memohon padanya. Ia berencana untuk bicara empat mata dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Semacam membuat kesepakatan untuk menolak perjodohan. Bukankah ini cara cerdik yang sangat mudah? Nada tersenyum sendiri tanpa sadar.


Ayah dan Ibu Nada sudah menuju tempat duduk yang telah tersedia. Sebaiknya Nada mencari tempat duduk yang mempunyai jalur akses keluar lebih cepat. Ia harus menjalankan rencana yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Tiba-tiba Atasan Ayah berdiri dari tempat duduknya dan melambaikan tangan ke arah Nada. Nada tersentak kaget dan menganggukkan kepala tanda untuk membalas lambaian tangan beliau. “Itu Dewanto sudah datang. Kesini, Nak !!”


Mata Nada mengerjap beberapa kali. Apa telinganya salah mendengar? Dewanto? Pasti ada banyak pria yang punya nama mirip seperti itu. Meski sudah berusaha meyakinkan, Nada tetap saja penasaran dan menoleh ke belakang. Seorang pria dengan kemeja polos berwarna biru langit dan celana jeans warna navy dengan senyum yang cukup sering Nada lihat akhir-akhir ini. Pria itu berhenti seketika ketika melihat Nada berdiri di ujung meja makan. Kedua mata mereka saling bertemu. Sebuah perasaan aneh berdesir melalui darah di dalam tubuh keduanya.


__ADS_2