
Pandu melepas cincin yang melingkar pada jari kelingkingnya. Cincin itu terukir nama keduanya. Karena tidak paham dengan ukuran cincin, Nada hanya memperkirakan ukuran jari mereka. Tapi ternyata cincin itu hanya masuk di jari kelingking masing-masing. Namun kali ini Pandu mengembalikan cincin yang hampir enam tahun melingkar di jari kelingkingnya. Nada tidak mempercayai apa yang barusan terjadi.
“Orangtuaku menyuruh untuk meninggalkanmu. Mereka tahu jika orangtuamu tidak merestui kita. Jadi, kita akhiri saja semua ini.” ucap Pandu sambil menatap mata Nada yang berkaca-kaca.
Nada menyempatkan diri untuk pulang demi bisa menemui Pandu. Hubungan long distance memang kerap diselimuti dengan emosi. Entah karena tak bisa menahan rindu atau mungkin ada hal lain yang mengganggu. Nada cukup sering melihat Pandu uring-uringan semacam ini. Tapi tak pernah sedikitpun melepas cincin di jarinya. Perasaan Nada semakin bercampur tak karuan.
“Kenapa? Bukankah masalah ini sudah lama selesai? bagaimana mereka bisa tahu?” Tanya Nada yang mulai meneteskan sebutir air matanya.
Pandu terlihat terdiam. Ia hanya menunduk seolah tak ingin mengatakannya. Nada menggenggam lengan Pandu dengan erat. Ada perasaan gemetar yang dirasakan Pandu dari telapak tangan Nada. Namun….Pandu menolak untuk peduli.
“Kakakku membuka ponselku dan melihat percakapan kita. Dia langsung mengatakannya pada orangtuaku. Aku tak bisa menjelaskan apapun pada mereka.”
“Aku ingin bicara dengan orangtuamu. Aku akan jelaskan semua pada mereka.” Nada berusaha mencari orangtua Pandu di rumah, tapi pria itu menghentikan langkahnya. Pandu menahan Nada agar tak bisa masuk ke rumahnya.
“Cukup, Nada. Aku tak bisa melanjutkannya lagi. Kita sudah berakhir. Orangtuaku marah besar mendengar hal itu. Mereka tidak ingin melihatmu lagi. maafkan aku, Nada.”
Pipi Nada sudah berlinangan air mata. Matanya terasa perih dan panas. Air mata itu tak bisa ia tahan lagi. Mengalir dengan sangat deras karena merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Apa selama ini hanya ia yang berjuang? Bahkan pria ini tak bisa memperjuangkan hubungannya sendiri. Bahkan meyakinkan orangtuanya sendiri ia tak mampu. Apa baginya enam tahun hubungan mereka tak berarti apapun? Semudah itu kemudian melepaskan apa yang sudah diperjuangkan bersama. Ataukah hanya Nada yang berjuang sendirian?
Nada menghapus air matanya. Mereka butuh waktu untuk menenangkan diri. Pasti akan seperti pertengkaran sebelumnya. Ya…mereka pasti akan berbaikan lagi. Begitu pikir Nada. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Pandu tanpa mengucapkan apapun. Tidak. Ia tak sanggup mengatakan perpisahan dengan cara seperti ini.
“Terima kasih untuk segalanya….dan maafkan aku.” ucap Pandu tanpa menatap Nada dan pergi begitu saja. Tanpa menoleh ke belakang.
Satu hal yang Nada sadari saat itu. Jika ia mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari Pandu sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan satu bulan lalu saat ia bertemu, Pandu tidak lagi memakai cincinnya. Ia hanya berdalih jika cincinnya tertinggal. Padahal Nada tak pernah sekalipun melihat Pandu melepas cincin itu sebelumnya. Apa yang salah darinya? dan air mata itu kembali menetes ketika punggung Pandu tak lagi terlihat.
******
Nada menatap beberapa kursi di ruang tamu dengan tatapan kosong. Ia mengira jika dirinya sudah benar-benar melupakan Pandu. Menurutnya, hadirnya Dewanto mampu membuat Nada melupakan segala hal tentang Pandu. Tapi ketika mereka bertemu lagi, rasa sesak itu menguasai Nada. Rasa sakit ketika ia ditinggalkan masih sangat terasa bahkan setelah tiga tahun berlalu. Separah apa luka yang menggores hatinya sampai seperti sekarang ini?
Beberapa kenangan tentang Pandu bergulir begitu saja dibenaknya. Seolah pertemuan singkat keduanya tadi memancing kenangan lama yang susah payah dikubur Nada sangat dalam. Bahkan air mata Nada tak sanggup lagi tertahan di kelopak matanya. Segala emosi bercampur hingga akhirnya hanya mampu memunculkan air mata. Rasa rindu, rasa marah, rasa benci, rasa sayang, rasa sakit hati, kecewa, terkhianati bercampur menjadi satu emosi yang nyata yaitu air mata yang mengalir di pipinya saat ini.
Nada melihat ke sekeliling rumah yang akan ia jadikan toko buku sekaligus café itu. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan di tempat ini jika Pandu berada di sekitar tempat itu. Haruskah ia mengembalikan rumah itu pada Dewanto? Tapi dengan alasan apa? Firasatnya mengatakan jika ia masih disini, ia akan selalu bertemu dengan Pandu entah sengaja atau tidak.
Mobil Dewanto berhenti di depan rumah. Ia membawa masuk beberapa berkas dan pakaian untuk dipakai Nada menghadiri undangan makan malam dari adiknya. Sebuah mini dress yang terlihat sangat sederhana namun tidak kehilangan sisi anggun dan elegan. Pintu depan tidak dikunci sama sekali. Meskipun belum ada barang-barang berharga, tapi membiarkan pintu dalam keadaan tidak terkunci adalah hal yang ceroboh.
Dewanto memasuki rumah dan mencari keberadaan Nada. Tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu ada di dalam rumah. “Nada? Apa kau di dalam?”
__ADS_1
Ia melihat jaket merah marun yang dipakai Nada saat datang kemari tergeletak begitu saja di sofa ruang tamu. Apa mungkin gadis itu meletakkan jaketnya dengan terburu-buru kemudian lupa mengunci pintu? Dewanto berjalan semakin ke dalam. Ia menemukan ponsel Nada tergeletak di tangga. Apa yang terjadi?
Tiba-tiba terdengar suara kunci yang terbuka. Pintu kamar mandi terbuka dan Nada muncul dengan wajah bertanya-tanya. “Kau baru saja datang?”
Dewanto terkejut dan menjadi salah tingkah. Ia sudah menduga yang tidak-tidak terjadi pada Nada. “Aku baru datang. Apa yang kau lakukan?”
Wajah Nada memerah. Haruskah ia menjawab pertanyaan memalukan itu? Apa yang biasa dilakukan seseorang di kamar mandi? Bukankah sudah jelas? Haruskah ia mengaku jika tadi ia menghapus air matanya dengan air? “Ke…kenapa kau menanyakan itu?”
Dewanto tiba-tiba tersadar dan berusaha mengubah topik pembicaraan. “Aku bawakan gaun. Tadi aku kebetulan lewat dan melihat gaun ini. Sepertinya cocok untukmu. Kau bisa memakainya untuk acara makan malam nanti.”
Nada berjalan menghampiri tas jinjing yang berisi gaun yang dimaksud Dewanto. Nada melirik sekilas. “Haruskah aku menggunakan gaun?”
“Itu bukan gaun yang mewah. Hanya gaun yang sedikit terlihat anggun tapi masih casual. Aku membelinya karena teringat saat kita dijodohkan. Saat itu kau membuatku tak bisa berkedip untuk beberapa saat.” ucap Dewanto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nada tersenyum lemah. Ia kembali berfikir. Betapa bodohnya ia menangisi pria lain disaat ada pria tulus yang selalu bersikap jujur di hadapannya? Nada melangkahkan kakinya selangkah dan mendaratkan ciumannya ke pipi Dewanto. “Terima kasih, sayang.”
Lagi. Dewanto sekali lagi dibuat tak bisa berkedip untuk beberapa saat dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
******
Mobil Dewanto berhenti di halaman rumahnya. Rumah yang cukup besar. Ini pertama kalinya Nada mengunjungi rumah Dewanto dan bertemu kembali dengan kedua orangtuanya. Jantungnya berdebar-debar khawatir jika tidak diterima di keluarga kaya raya seperti ini. Perasaan ini sama seperti saat ia pertama kali dibawa ke rumah Pandu dan dikenalkan pada kedua orangtuanya. Jika Nada tahu akan berakhir sangat tragis seperti ini, ia lebih baik memilih untuk menolak dikenalkan pada keluarga Pandu.
Nada mengusir pikiran buruknya. Ia menggeleng beberapa kali. Tindakan itu membuat Dewanto khawatir pada gadis ini. “Kau tidak apa?”
“Ahh…aku hanya gugup.”
Dewanto menjulurkan lengannya pada Nada. Keduanya saling bertatapan. Nada tidak yakin dengan dugaannya. “Pegang tanganku dan berjalanlah bersamaku. Semua akan baik-baik saja. Kau sudah bertemu orangtuaku, itu bukan masalah besar, kan?”
Nada meraih lengan Dewanto dan menggenggamnya erat. Perasaannya sedikit menghangat. Rasa gugupnya hilang seketika bagaikan sulap. Keduanya memasuki rumah besar dimana Dewanto tumbuh dari kecil hingga menjadi sosok yang dewasa seperti saat ini. Ibu Dewanto sudah menyambut keduanya di pintu masuk. Sosok yang ramah dan berwibawa. Meskipun usianya sudah tidak lagi terbilang muda, tapi kharisma yang timbul sangat terasa.
“Syukurlah kalian sudah datang. Ibu sudah menunggu. Tidak keberatan jika makan malam bersama disini, kan?” Tanya Ibu kepada Nada.
“Maaf jika merepotkan Ibu. Aku membawakan beberapa buah semoga Ibu suka.” ucap Nada menyerahkan keranjang berisi parcel buah yang ia beli saat perjalanan.
“Terima kasih. Masuklah. Dewa, ajak Nada ke ruang makan. Ibu akan memanggil ayah dan adikmu.” ucap Ibu sambil menyerahkan parcel buah ke dapur.
__ADS_1
Dewanto mengajak Nada untuk berkeliling sebentar melihat beberapa foto yang tergantung di ruang tamu. Banyak foto keluarga yang sangat terlihat harmonis. Ada seorang gadis dalam foto keluarga mereka. Itu pasti adiknya Dewanto. Nada merasa jika wajah si adik tidak asing baginya. Tapi ia tak berhasil mengingat dimana ia pernah melihat wajah itu.
Suara derap langkah kaki menuruni tangga. Dewanto sangat hafal dengan langkah kaki ini. Adiknya berlari dengan menggunakan mini dress polos berwarna navy dengan hiasan kalung sederhana yang melingkar di lehernya.
“Kakak?!! Kau sudah kembali?” teriak seorang wanita yang berlari kemudian langsung memeluk Dewanto dengan erat. Mengabaikan Nada yang masih berdiri di belakang.
Dewanto membalas pelukan adiknya dengan sangat erat. Keduanya sudah terpisah selama tiga tahun dan akhirnya dipertemukan kembali. Betapa keduanya sangat rindu satu sama lain. “Kau tidak memberitahu kalau akan pulang. Kau sangat nakal !!”
Lagi-lagi Nada seperti pernah melihat wajah adik Dewanto. Tapi dimana? Tentu saja bukan teman sekolahnya, kan? Ia benar-benar tak bisa mengingat wajah itu. Nafas Nada sesak sesaat ketika kedua matanya sudah bertatapan dengan adik Dewanto. Tatapan mata itu bukan tatapan yang ramah. Sekujur tubuhnya mulai merinding.
“Kupikir hanya namanya saja yang mirip. Ternyata memang benar itu kau.” ucap wanita itu sambil melepas pelukannya pada Dewanto. “Awalnya aku merasa tidak mungkin, tapi ternyata memang benar. Kau benar-benar tidak tahu malu, ya?”
Nada kebingungan dengan ucapan adik Dewanto. Ia sangat yakin jika ini pertemuan pertama mereka, tapi kenapa wanita itu seperti membenci Nada? Apa yang salah? Apa yang sudah ia katakan? Nada benar-benar tak bisa mengenali wajah adik Dewanto.
“Sasti, apa yang kau katakan? Kalian belum pernah bertemu sama sekali, kan?” Tanya Dewanto mencoba meredakan emosi Sasti yang mulai muncul dari matanya yang terus melotot pada Nada. Seolah akan menerkam Nada hidup-hidup.
Nada terkejut saat Dewanto mengucapkan nama itu. Ia masih belum tuli, kan? Siapa tadi? Sasti? Tidak mungkin, kan? Meski menolak untuk percaya, ingatannya mengarah pada sebuah foto yang pernah ia lihat di media sosial. Ya, itu media sosial milik Pandu.
“Ini memang pertemuan pertama kita. Tapi aku tak pernah lupa wajah wanita murahan yang berani menggoda suami orang.” ucap Sasti sambil mendorong pundak Nada hingga membuat gadis itu terguncang dari posisinya berdiri.
Nada menghela nafas tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Wanita murahan yang menggoda suami orang? Bagaimana bisa julukan itu sampai padanya? Nada adalah korban. Bagaimana bisa posisinya berubah menjadi pelaku?
Seorang pria muncul dari balik punggung Sasti. Pria itu mencoba untuk memasuki pembicaraan mereka bertiga. “Ada apa ini? Sasti, apa yang kau lakukan?”
Ketakutan Nada terjadi. Ternyata benar jika wanita ini adalah istri Pandu. Nada pernah melihat fotonya saat Pandu memposting di media sosial. Saat itulah Nada langsung menghapus segala akses yang terhubung dengan Pandu. Wajar saja jika Nada lupa dengan wajah Sasti. Karena baginya mengingat Pandu adalah hal paling menyakitkan dalam hidup Nada. Kemudian….saat ini pria yang telah meninggalkan Nada telah hadir kembali dihadapannya. Pandu datang dan menampakkan ekspresi yang sama dengan Nada yang terkejut.
Air mata Nada mengalir tanpa sadar. Pertama kalinya ia menyadari jika dunia yang ditinggali hanya selebar daun kelor. “Pandu?”
Pandu hanya terdiam sambil menatap Nada. Ia tak menyangka jika tunangan kakak iparnya adalah mantan kekasihnya sendiri. Rasa menyesal kembali muncul dalam hati Pandu. Mengapa dulu ia berselingkuh? Mengapa ia tak mempertahankan gadis yang dengan tulus mencintainya? Bahkan air mata yang dikeluarkan Nada saat ini adalah air mata kerinduan yang tertahan. Betapa ia menyesal membuang gadis dihadapannya ini.
“Tunggu. Aku sama sekali tidak paham situasinya. Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi diantara kalian? Sayang, kenapa kau menangis?” Dewanto yang dari tadi hanya diam dan bertanya-tanya kini mulai mengambil tindakan.
“Aku tidak ingin ada wanita murahan ini merusak acara makan malam keluarga kita. Aku tidak pernah sudi menganggapnya keluarga. Kau bisa usir dia, kak ! kita masih harus melakukan makan malam keluarga.” ucap Sasti sambil menarik tangan Dewanto.
“Tidak perlu repot-repot. Aku juga tidak ingin makan bersama dengan wanita penggoda sepertimu dan juga pengkhianat seperti pria ini.” ucap Nada sambil melangkahkan kakinya keluar rumah. Ia tidak terima diperlakukan dengan tidak sopan seperti itu.
__ADS_1
Dan makan malam keluarga itu terpaksa tidak pernah terjadi karena insiden ini.