Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Tidak boleh ada "Dia" lagi


__ADS_3

Otaknya terus berputar dan berfikir secara keras. Sudah beberapa bulan ini Nada tidak lagi mengingat tentang Pandu. Ia terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Ia kembali teringat kejadian mengerikan yang sudah membuat hatinya trauma untuk memulai kembali sebuah hubungan. Ia hanya berjalan pelan tanpa arah.


Sore itu, hubungan Pandu dan Nada sedang dalam jarak jauh. Nada bekerja di luar kota yang membuat mereka harus bertemu dua minggu atau bahkan satu bulan sekali. Saat itu Nada percaya jika Pandu akan selalu mencintainya apapun yang terjadi. Itulah salah satu kebodohan yang paling ia sesali. Tiba-tiba Pandu mengirim pesan singkat yang berisi bahwa hubungan mereka harus berakhir karena kedua orangtuanya menyuruh untuk mengakhiri. Alasannya? karena orang tua Nada tidak merestui hubungan keduanya.


Padahal masalah ini bahkan sudah selesai beberapa bulan sebelumnya, tapi kenapa kembali muncul? Saat itu Nada hanya bertanya-tanya dalam hati. Ia berfikir jika dirinya pasti akan baik-baik saja meskipun tanpa Pandu disampingnya. Ya, benar. Nada tetap baik-baik saja sampai Pandu memasang foto profil pada sosial media miliknya satu minggu setelah mereka putus. Sebuah foto wanita yang sedang tersenyum. Tentu saja itu bukan Nada.


Dalam sekejap pertanyaan yang silih berganti selama satu minggu sebelumnya terjawab sudah. Pandu selingkuh selama masih bersama dengan Nada. Satu kalimat itu mampu menjawab segala hal yang sebenarnya sudah menjadi pertanda sebelumnya. Segala kecemasan, kekhawatiran, serta kecurigaan Nada terjawab sudah. Seperti mendapat semburan api yang dahsyat, hatinya remuk tak lagi berbentuk.


Apa kesalahan Nada sampai Pandu harus melakukan semua ini padanya? Apa yang sudah ia perbuat? Apa selama ini ia hanya sibuk bekerja dan mengabaikan Pandu? Apa perjuangan selama ini tidak cukup berharga sampai semuanya harus berakhir seperti ini? Apa ia tidak cukup pantas untuk mendampingi Pandu? Pertanyaan itu semakin menusuk hatinya yang sudah berdarah. Mengiris sampai tak lagi mempunyai bentuk.


Satu bulan setelah putus, Pandu tiba-tiba menghubungi Nada. Mengatakan semua yang terjadi pada Nada. Menjelaskan bagaimana Pandu dan wanita yang bernama Sasti bisa sampai bertemu. Telapak tangan Nada serasa ingin membanting ponsel. Bagaimana mungkin dia menceritakan kisah cintanya dengan wanita penggoda itu di hadapan Nada? Dimana otaknya saat itu? Nada hanya berusaha tetap tenang. Seolah ia kuat menghadapi semua ini. Yang ada dipikirannya saat itu hanya bagaimana cara mengakhiri sambungan telepon itu.


Tanpa sengaja air matanya menetes. Bukankah ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi untuk Pandu? Tanpa sadar ia sudah sampai di depan hotel tempat Maria bekerja. Ia mengeluarkan semuanya lagi dan lagi. Sungguh menyakitkan segala hal yang berkaitan tentang Pandu. Tapi mengapa begitu sulit untuk melupakan semua hal menyakitkan itu? Beberapa kali Nada mengusap air matanya, namun beberapa saat kemudian kembali menetes.


Nada mengambil ponsel dan menuliskan pesan singkat untuk Maria. Pesan itu berisi bahwa ia sedang berada di seberang lobby hotel. Tidak perlu menunggu lama, Maria segera datang menghampiri Nada yang sudah terduduk di bangku yang ada di tepi jalan. Saat ini Nada tidak ingin sendirian. Sedangkan sahabatnya Cecyl sedang pulang kampung. Hanya Maria satu-satunya sandaran saat ini.


“Kau kenapa ada disini? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Maria begitu melihat Nada terduduk dengan kedua mata yang sembab.


Nada hanya diam. Ragu-ragu apa perlu menceritakan hal yang sudah berlalu lama itu? Ia hanya tertunduk. Di satu sisi ia tidak ingin menceritakan pada Maria kejadian hari ini, tapi di sisi lain ia tidak mau memendamnya sendirian.


“Katakan. Apa yang membuatmu kesini? Pasti terjadi sesuatu kan?”


“Aku baru saja bertemu Ayahnya Pandu. Beliau mengajakku bertemu. Beliau minta maaf lagi karena kejadian itu. Lalu beliau juga menceritakan tentang kabar Pandu dan wanita itu.” ucap Nada dengan suara yang hampir gemetar.


“Pria tua itu mengatakan hal seperti itu padamu? Memangnya dia dan anaknya tidak punya otak, ya? Bagaimana bisa menceritakan hal semacam itu di depanmu?” teriak Maria mulai kesal. Selama ini keluarga Pandu tidak hanya muncul kali ini saja. Sebelumnya sudah beberapa kali muncul dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. kemunculan mereka selalu membawa kesedihan untuk Nada. Itu sebabnya Maria selalu mengomel ketika tahu jika keluarga itu menghubungi Nada lagi.


“Aku tidak apa-apa, kok. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” ucap Nada memaksakan untuk tersenyum.

__ADS_1


Selama ini Nada berusaha kuat untuk melupakan segala hal tentang Pandu. Ia beberapa kali dekat dengan laki-laki tapi kemudian ragu lagi karena tiba-tiba ia teringat tentang masa lalu. Trauma itu tanpa sadar sudah menguasai hati dan pikiran Nada. Ia menjadi takut untuk memulai sebuah hubungan baru. Semua perjuangan itu disaksikan oleh Maria dan Cecyl. Tapi kini emosi Maria kembali memuncak saat melihat Nada kembali menangis setelah sekian lama tidak lagi terlihat menangisi Pandu.


“Apanya yang tidak apa-apa? Matamu sampai sembab begitu. Kau pasti menangis selama perjalanan kesini. Kenapa kau harus menemui keluarga itu lagi?”


Nada hanya menunduk menyesali keputusannya. Seandainya waktu bisa diputar beberapa jam yang lalu, ia pasti akan memilih untuk tidak menemui Ayahnya Pandu.


Air matanya mulai menetes lagi. Kali ini Maria memeluknya dengan erat. Nada yang biasanya terihat kuat dan ceria akan seketika menjadi rapuh dan tak berdaya setiap kali berhadapan dengan segala hal yang berhubungan dengan Pandu. Nada tak peduli lagi, ia menangis melepaskan segalanya di pelukan Maria. Rasa sakit itu ia bebaskan mengalir bersama air mata. Berharap setelah ini ia bisa kembali ceria lagi tanpa ada beban.


Ponsel Nada tiba-tiba berbunyi. Ia melirik sekilas di layar ponselnya. Ekspresi wajahnya berubah kesal saat melihat nama yang tertera di layar. “Apa lagi sekarang?!” teriaknya pada ponsel yang belum tersambung.


“Kau dimana? Ada yang ingin aku tanyakan tentang laporan bulan ini. Bisa kita bertemu di samping Hotel Marine 20 menit lagi?” ucap seorang pria dari seberang telepon.


Nada mengusap sisa air mata yang masih ada di wajahnya. “Baik, Pak. Saya akan kesana 20 menit lagi.” jawab Nada dengan suara yang tenang. Sambungan telepon terputus.


Nada menghela nafas panjang dan dalam. “Terima kasih sudah repot menyusul kesini. Aku baik-baik saja sekarang.”


“Direktur yang akan menjadi investor proyek ekspor import.”jawab Nada asal. “Kami akan bertemu di café sebelah hotel untuk membahas pekerjaan.” Nada bangkit dari duduknya dan menyeka sisa air mata yang ada di pipinya.


“Kau yakin tidak apa-apa?” Tanya Maria sedikit khawatir dengan kondisi mental Nada. “Kau tetap akan pulang kan?”


Nada menoleh pada Maria. Ia teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat itu Nada mendapat telepon dari Pandu. Sebuah telepon yang tidak pernah diinginkan oleh Nada. Pandu mengatakan bahwa ia masih sangat mencintai Nada dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hati Nada seolah hancur mendengar itu, ia menangis sepanjang malam. Bahkan ia tidak pulang ke kos sama sekali. Maria sangat khawatir dan terus mencarinya bahkan sampai ke jalan. Maria menemukan Nada tergeletak lemas di lobby bandara.


Dengan panik, Maria segera membawa Nada ke rumah sakit. Ketika sadarkan diri, Nada mengatakan ingin pergi ke luar negeri. Ia ingin pergi ke suatu tempat dimana ia tak perlu lagi menemukan pria bernama Pandu. Hatinya benar-benar sudah sangat hancur, ditambah lagi kata cinta dari Pandu yang membuat Nada hampir kehilangan sisi warasnya.


“Aku pasti pulang. Kau tenang saja.” jawab Nada sambil tersenyum. ia tak pernah berfikir sedikitpun akan mengulangi hal bodoh itu lagi. Baginya dunia tidak akan berakhir tanpa Pandu. Ia justru akan lebih bahagia tanpa pria itu.


*******

__ADS_1


Secangkir kopi selalu menemani siang Dewanto yang tidak pernah ada kata libur. Meski hari Minggu sekalipun, ia bertemu dengan klien. Alih-alih mengobrol sambil menikmati hari libur, pembicaraan mereka tidak luput dari bisnis yang sedang dijalankan. Kali ini seorang klien dari bursa saham yang sudah banyak membantu dalam membimbing Dewanto memilih saham yang mempunyai potensi cukup baik.


“Saham yang kau pilih menunjukan perkembangan yang sangat bagus. Matamu sungguh terampil dalam bidang bisnis. Tidak heran jika kau menjadi direktur di usia yang semuda ini.” ucap pria yang diperkirakan berusia 40-45 tahun.


Dewanto hanya tersenyum sambil menyeruput kopi yang ia pesan dari lobby Hotel Marine. “Itu semua berkat bimbinganmu juga. Tanpamu aku tak mungkin punya ilmu dalam memilih saham yang berpotensi.”


Pria itu tertawa puas mendengar pujian Dewanto terhadapnya. “Kudengar kau berniat melakukan investasi pada perusahaan almunium? Apa yang membuatmu tertarik memilih proyek itu? Perusahaan itu bahkan baru menunjukan peningkatan dalam dua tahun ini.”


Dewanto tersenyum simpul sambil meletakkan cangkir yang isinya sudah tinggal separuh. “Awalnya aku hanya tertarik dengan laporan keuangan yang disajikan beserta analisanya. Tapi ketika aku berkunjung kesana dan melihat medan sesungguhnya, aku optimis jika perusahaan itu bisa lebih melesat lagi.”


“Aku percaya jika matamu tidak mungkin salah dalam memilih.” Pria itu tertawa puas seolah ia yang berhasil memenangkan undian.


Dewanto hanya tersenyum sambil menoleh ke arah jendela di sebelah kanan tempat ia duduk. Hari itu tidak terasa terlalu panas, bahkan cenderung sedikit mendung. Apa akan turun hujan? Matanya terfokus pada sisi seberang hotel dimana ia melihat seorang gadis berjalan dengan lunglai kemudian duduk dengan asal tanpa peduli sekitarnya. Gadis itu sedang tidak fokus. Tatapan matanya sendu, pikirannya terbang ke segala arah.


Gadis itu menatap ke langit. Seolah bisa berkomunikasi dengan langit. Beberapa saat kemudian gadis itu menyeka matanya. Mungkinkah ia menangis? Dewanto hampir saja refleks berdiri dari tempat duduknya. Seorang gadis yang lain datang menghampiri gadis yang menangis tadi. Dia menggunakan seragam pegawai Hotel Marine. Dewanto terus saja menatap kedua gadis itu dari kejauhan. Apa yang sedang mereka bicarakan? Tentang apa? Mengapa ia begitu ingin tahu pada gadis itu?


Ia mengambil ponsel yang tergeletak di samping meja. Dalam hitungan detik, ia sudah terhubung dengan panggilan keluar. “Kau dimana? Ada yang ingin aku tanyakan tentang laporan bulan ini. Bisa kita bertemu di samping Hotel Marine 20 menit lagi?”


Ia kembali melirik ke jendela. Gadis itu mengusap kembali matanya kemudian menarik nafas dalam-dalam. “Baik, Pak. Saya akan kesana 20 menit lagi.”


Sambungan telepon terputus. Dewanto kembali menatap kedua gadis itu dari kejauhan. Gadis yang menangis tampak mencoba berdiri dan memaksakan senyumnya. Sedangkan gadis yang lain terlihat sangat khawatir.


“Aku baru ingat harus menemui seseorang di sebelah. Tidak masalah jika aku tinggal, kan?”ucap Dewanto sambil membereskan beberapa barang yang ada di meja makan.


“Tidak masalah. Perjuangkan dia.” ucap pria itu sambil mengedipkan sebelah mata.


Dewanto hanya tersenyum penuh misteri pada rekan kerjanya itu dan bergegas keluar menuju café yang terletak di sebelah hotel Marine.

__ADS_1


__ADS_2