
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama
○●○
Aku berjalan di sebuah jalan setapak yang sepi. Hawa dingin menyelimutiku yang hanya memakai pakaian tidur putih yang tipis. Sejauh aku berjalan, di samping-sampingku hanyalah pepohonan. Suara-suara serangga terdengar mendengung di telingaku. Satu-satunya sumber cahaya adalah bulan purnama di atasku.
Walau terhalang dedaunan, bulan masih mampu menyirami jalan setapak dengan cahaya. Aku mengusap-usap lenganku, melangkah maju dengan kaki beralaskan sandal karet. Aku berhenti di depan sebuah gua, tetapi ada hal yang membuatku bergerak kembali. Cahaya api yang bisa kulihat di dalam sana.
Jalan setapak yang sama menembus gua yang sempit, seperti sebuah lorong panjang. Kobaran api terlihat di ujung lorong. Kini, mampu kudengar suara orang lain. Sayu-sayup, suara itu bukan dari satu orang. Ada banyak orang tengah bersenandung.
__ADS_1
Tubuhku menggigil, suara mereka membuatku gemetaran. Namun, aku lebih tidak aman di luar sana. Hutan yang mana banyak hewan buas mengintai. Aku harus bersama orang-orang, untuk kali ini.
Akhirnya, cahaya kobaran api menuntunku ke sebuah ruangan yang luas. Aku terdiam untuk beberapa detik. Puluhan orang yang memakai pakaian serba putih—seputih pakaian yang kupakai—sedang berdoa, mereka duduk dengan menekukkan lutut ke belakang, kedua tangan diangkat, dan kemudian diturunkan bersama-sama untuk bersujud. Mereka melakukan itu sembari mendengungkan nyanyian aneh. Sesuatu yang tengah mereka sembah adalah sebuah patung pria berkepala kambing yang mengangkat satu tangannya ke atas.
Aku diam, tatapan mataku tertuju pada patung itu. Keanehan datang, bayangan patung di dinding gua berbeda dengan bentuk patungnya. Bayangan itu bersayap. Aku mundur saat menyadari sosok hitam pelan-pelan menampakkan diri dari balik patung pria berkepala kambing itu. Kurasakan detak jantungku semakin cepat, aku kesulitan bernapas saat sosok hitam besar bertanduk dengan sayap besar seperti kelelawar menatapku dengan kedua matanya yang merah.
○●○
Tubuhku benar-benar lemas. Aku kesulitan menggerakkan kakiku. Keringat dingin mengucur. Mencoba menarik napas, aku kesulitan untuk mengeluarkannya. Aku kambuh, di mana inhalerku? Aku meraba-raba nakas di samping ranjang. Inhalerku tersenggol dan jatuh. Dadaku benar-benar terasa ditekan, napasku kesulitan untuk kukeluarkan. Sesak. Aku menjatuhkan tubuhku dari ranjang, tengkurab di lantai kayu. Dengan kesulitan, aku mencoba merangkak menggapai inhalerku yang berada di dekat pintu kamar.
Mataku membasah karena tak kuat merasakan sakit seperti ini. Asmaku selalu saja menyulitkanku dalam banyak hal. Aku mulai muak dengan kehidupan seperti ini. Namun, saat aku ingin berhenti. Selalu saja, bayangan Ibu dan Rajo muncul dalam benakku. Aku tidak akan meninggalkan mereka hanya karena penyakit sialan seperti ini.
Aku harus menggapainya. Kutekankan diriku untuk dapat merangkak walau kakiku masih sulit sekali kugerakkan. Pandangan mataku agak buram, inhalerku terlihat bergoyang di dua tempat. Kuangkat tanganku, ingin menggapai benda berwarna hijau itu. Hal sepele semacam ini saja aku kesulitan untuk melakukannya, bagaimana aku bisa melindungi Rajo?
__ADS_1
Rema, sejak kapan kau menjadi sosok menyedihkan seperti ini? Sejak kapan, kau begitu lemah seperti sekarang? Aku menggeleng. Aku tidak menyedihkan dan aku tidak lemah. Kuulurkan tangan lebih kuat. Kudapatkan inhalerku di tangan, aku tertawa tanpa bersuara.
Dengan segera, kupakai benda itu agar napasku kembali normal. Walau aku sudah bisa bernapas seperti biasa, tetapi aku masih enggan berusaha untuk bangun. Aku masih tertidur di lantai kayu ini. Membiarkan tangisku turun perlahan.
Kudengar decitan. Lantai kayu ini memang selalu berdecit jika ada yang berjalan di atasnya. Seseorang sedang berjalan. Decitannya semakin dekat. Seseorang sedang menuju ke kamarku. Aku harus bangkit. Aku tidak boleh terlihat seperti ini oleh Ibu atau adikku.
Apa yang terjadi? Kakiku masih sangat sulit kugerakkan. Aku pun memilih untuk memundurkan tubuhku menuju bawah ranjang. Tidak ada hal yang bisa kulakukan selain pura-pura tertidur. Dengan susah payah, kubuat tubuhku telentang. Saat aku kecil, aku ingat kalau aku pernah ketakutan dan kemudian bersembunyi di bawah ranjang, tidur di sana hingga pagi.
Decitan itu berhenti. Aku sedikit terkejut karena melihat dua kaki kecil berjalan masuk ke kamarku. Rajo? Aku sama sekali tak melihat tubuh adikku. Kaki-kaki pucat itu menaiki ranjang. Apa Rajo ketakutan dan ingin tidur bersamaku. Suara cekikikan terdengar. Tidak seperti suara Rajo. Sosok di atas ranjangku tengah melompat-lompat. Kerasnya suara decitan ranjang bambu ini membuatku kembali sesak napas.
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!
__ADS_1