
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Aku membaca buku merah ini di kamar. Aku masih heran kenapa di perpustakaan ada buku semacam ini. Namun, kurasa itu bukanlah hal yang harus kupikirkan. Aku fokus pada isinya, mengetahui jika pemujaan iblis memiliki kegiatan-kegiatan menakutkan membuatku merasa bahwa orang-orang yang masuk ke dalam sekte itu adalah orang-orang gila. Bagaimana bisa mereka memakan bayi hasil aborsi, melakukan **** bebas bersama, dan meminum darah?
Mereka juga punya lambang-lambang aneh, seperti angka 666, lambang bintang bersudut lima dalam lingkaran, bintang segi enam atau heksagram, dan paling membuatku mengerutkan kening adalah lambang salib yang terbalik. Lalu, aku diam saat melihat gambar patung yang disebut Baphomet, sosok manusia berkepala kambing dengan satu tangan diangkat ini sangat familiar di kepalaku. Itu patung yang sering kulihat dalam mimpiku. Patung iblis!
Membuka halamann demi halaman tentang munculnya sekte-sekte pemujaan iblis, aku dibuat merinding. Secara diam-diam mereka ada di sekitar kita, tetapi karena berbaur dengan masyarakat maka orang biasa tidak bisa membedakan mereka. Penyihir, orang-orang yang menjaankan pesugihan, dan orang-orang yang menginginkan kekuatan dari iblis berkumpul dalam sekte-sekte ini.
Namun, tentu saja tidak ada yang gratis. Selain mereka harus memuja para iblis, mereka juga harus menumbalkan sesuatu kepada iblis. Ada yang menumbalkan tubuhnya, ada pula yang menumbalkan orang lain untuk persembahan iblis. Penulis buku ini berteori jika sekte-sekte yang hidup di negara ini bergabung untuk suatu agenda besar. Namun, tidak ada yang tahu agenda apa yang sedang direncanakan mereka.
Menutup buku ini, aku termenung memikirkan tentang iblis yang sering kulihat dalam mimpi. Bagaimana bisa ada patung Baphomet dalam mimpiku? Padahal, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Lalu, adakah hubungan antara kutukan yang aku dapatkan dengan itu semua? Apakah aku sebenarnya sedang ditumbalkan oleh seseorang—penganut sekte sesat penyembah iblis?
Namun, sosok hantu dengan rambut yang dapat melilitku itu tidak seperti iblis di dalam buku atau yang ada di mimpiku. Walau aku tak melihat wajahnya, aku bisa menyimpulkan dia itu perempuan—dari pakaian hitamnya. Mungkinkah dia itu penyihir? Aku membuka buku yang masih di tanganku ini lagi, mengecek bagian yang membahas tentang penyihir.
Sosok penyihir memiliki ilmu hitam yang didapatkan dari iblis. Jika penyihir mati, kekuatannya akan membuat jiwanya tetap hidup hingga tenggat waktu yang telah ditentukan oleh sang iblis pemberi kekuatan. Membaca bagian ini, tiba-tiba aku menjadi sangat yakin jika sosok yang kutemui malam Jumat itu adalah sosok penyihir yang raganya sudah mati, tetapi jiwa dan kekuatannya masih terus hidup.
__ADS_1
Kubuka halaman lain.
Namun, jiwa-jiwa penyihir tetap membutuhkan orang lain agar mampu terus hidup dan menampakkan diri. Mereka membutuhkan kekuatan yang berasal dari persembahan.
Persembahan. Di sini aku cukup bingung. Jika aku ditumbalkan, maka aku adalah persembahan, kan? Aku tiba-tiba merinding. Motif-motif yang kuutarakan pada Darma bisa jadi tidak ada hubungannya. Maksudku, tujuan pelaku bukan untuk membuatku mati. Namun, mereka punya tujuan lain. Hanya saja, aku yang dikorbankan untuk tujuan itu.
Aku menaruh buku itu ke loker nakas, mencoba untuk tidak memikirkan teori-teoriku. Karena aku sama sekali tidak punya bukti. Aku harus mengikuti penyelidikan Darma. Jadi, selama itu aku harus tenang dan siap menghadapi apa pun.
Aku turun dari ranjang, mengecek di bawah ranjang, tidak ada siapa pun. Lalu, aku keluar kamar. Aku ingin menggosok gigi sebelum tidur. Sebenarnya, sejak kemunculan sosok itu, aku selalu waspada, tetapi dia justru tidak muncul lagi. Di ruang tengah, kudengar suara televisi dan suara teriakan kecil. Rajo pasti sedang memainkan Nintendonya.
"Aku menang lagi. Kamu bisa main tidak?"
Rajo bicara sendiri lagi. Aku mengendap-endap di lorong untuk segera mengintip apa yang sedang terjadi di ruang tengah.
Siapa dia? Rajo bicara dengan siapa?
"Star Fox, Zelda, Super Mario, Kirby, ayo mau yang mana?"
Aku mencoba berjalan perlahan agar tak terdengar suara decitan di lantai kayu ini. Rajo pasti akan segera berhenti bicara jika menyadari bahwa ada aku di dekatnya. Adikku itu merahasiakan sesuatu.
"Jangan kalah lagi, ya!" kata Rajo yang sepertinya sudah mendapatkan permainan yang diinginkan temannya itu.
__ADS_1
Dengan degub jantung yang semakin keras, aku sampai di ruang tengah. Mataku terbelalak saat melihat joystick di samping Rajo melayang rendah.
"Rajo!" panggilku.
Joystick itu jatuh dan decitan lantai terdengar. Decitan yang menuju ke lorong menuju dapur. Aku mengatur napas. Aku masih mencoba mencerna apa yang baru saja kulihat. Sosok makhluk tak kasat mata tengah berkeliaran di rumah ini. Teman Rajo. Adikku punya teman yang tak bisa kulihat wujudnya.
Rajo menoleh padaku, memandangku dengan kaget. Aku berjalan ke arahnya. Dia menggeleng-geleng seperti tengah menjelaskan bahwa apa yang kulihat tak seperti apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa dia?" bisikku.
Rajo masih menggeleng.
Aku menoleh ke almari jam yang menunjukkan pukul sebelas lebih, tepatnya sebelas lebih sebelas. Lalu, aku kembali menoleh ke Rajo. Dia tidak ada. Aku langsung memundurkan tubuhku. Apa yang ada di depanku hanyalah konsol Nintendo dan dua joystick yang tergeletak dengan televisi yang mati.
Dengan perasaan yang masih tak menentu, aku menoleh ke arah lorong gelap yang menuju dapur. Aku ingin mengecek Rajo di kamarnya. Aku pun berjalan ke sana, membuka pintu kamar dan melihat Rajo sedang terbaring. Aku mendekat, menyelimutinya.
Kuperhatikan ruangannya. Melihat kertas-kertas di meja, aku mengambilnya. Gambar-gambar aneh. Gambar dua anak kecil, gambar payung, gambar boneka. Apa maksud gambar-gambar ini? Aku kembali menaruhnya ke tempat semula.
Aku mengatur napasku, mencoba untuk tetap tenang dengan apa yang sudah kulihat. Kembali ke kamarku, aku pun mencoba tertidur. Namun, rasanya sangat sulit saat mengingat sosok Rajo lain dalam bayanganku. Ini bukan paranoid. Aku yakin sosok itu nyata. Hantu, iblis, setan, jin atau apa pun itu telah mengubah wujudnya menjadi Rajo untuk menakut-nanakutiku. Atau bukan hanya sekedar itu, dia menginginkan sesuatu dariku.
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!