Dedarah

Dedarah
Episode 26


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Kami sudah sampai di sebuah kafe yang letaknya di pinggiran kota. Kafe ini tampaknya hanya diisi oleh para pasangan. Itu membuatku agak risih karena aku sama sekali bukan pasangan Darma. Tiba-tiba, aku membayangkan jika Darma berhasil, lalu aku menjadi pacarnya. Apa yang akan kami lakukan setelah itu? Apa kami akan berkencan di sini lagi? Ataukah dia akan membawaku ke tempat lain? Bagaimana reaksi orang-orang di sekolah? Bagaimana reaksi Ibu? Bagaimana reaksi Naya? Ah, dia belum tahu soal perjanjian kami. Aku menggeleng, itu bukan hal yang harus kupikirkan. Kasusku adalah fokus utama, jangan terbuai dengan hal-hal semacam itu. Terbuai? Kenapa aku menggunakan kata itu? Itu seperti aku benar-benar menginginkan Darma menjadi pacarku.


"Meja itu sepertinya cukup nyaman, di dekat jendala dan letaknya agak jauh dari yang lain," ujar Darma yang menunjuk salah satu meja yang berada di pojok depan.


Aku mengangguk. Dia berjalan ke sana dan aku mengikuti di belakang. Aku merasa beberapa orang yang kami lewati memperhatikan kami. Itu sebenarnya bukan hal yang perlu dirisaukan. Aku selalu mengalami itu di sekolah. Namun, di sini aku bersama Darma. Apakah ada pelajar dari sekolah kami di sini? Kurasa tidak ada—tidak mungkin.


Kami duduk berhadapan. Ini benar-benar seperti kencan. Sayangnya, ini adalah malam Jumat bukan malam Minggu. Sayangnya? Lagi-lagi aku memilih kata yang membuatku seolah-olah aku menginginkan Darma. Astaga, apa sedang ada yang di kepalaku sekarang?


Setelah memesan minuman, kami segera memulai. Buku merah itu sudah ada di atas meja. Lalu, buku catatannya juga sudah mulai dibuka oleh Darma.


"Saya sudah menyelidiki orang-orang yang kamu curigai. Dewi, Sari, Gilang, Hendra, Danu, Ajeng, dan Naya," mulainya.


Hani? Apa dia melupakan Hani. Atau mungkin Hani itu tidak mungkin melakukan itu, jadi dia membuangnya dari daftar. Lebih baik, aku menurut saja pada penyelidikan detektif di depanku ini.


"Dewi Anggini sepertinya memiliki riwayat yang cukup memungkinkan untuk melakukan itu. Ayahnya menikah lagi setelah bercerai. Namun, ibu tirinya meninggal dengan tragis dan ada desas-desus yang mengatakan jika ibu Dewi yang cemburu mantan suaminya menikah lagi yang melakukan penyantetan," ungkapnya yang tiba-tiba membuat keningku berkerut. "Saya masih mencoba menyelidiki kebenarannya, tetapi jika kita menarik kesimpulan sementara dari data ini. Dewi mungkin tahu jika ibunya adalah sang pelaku, akses untuknya melakukan santet padamu ada."


"Bagaimana ibu tiri Dewi mati?" tanyaku yang penasaran akan itu.

__ADS_1


"Dia sakit aneh. Secara tiba-tiba tidak bisa bicara dan berjalan, padahal tidak ada riwayat strok. Lalu, kabarnya dia pernah muntah darah disertai paku," jawab Darma yang tiba-tiba membuatku merinding.


"Ayo lanjut," pintaku.


"Gilang Kurniawan. Ada kabar jika keluarga Gilang melakukan pesugihan. Ada satu pekerja di rumah keluarganya yang tiba-tiba sakit dan kemudian meninggal. Saat saya menanyai narasumber saya, kemungkinan pekerja itu tahu rahasia keluarga Gilang. Lagi-lagi, saya masih mencoba mencari kebenaran di sini. Pesugihan dan santet tetap tidak jauh, kan?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Dia selalu membanggakan kekayaan orang tuanya seperti semua itu adalah kekayaan nyata. Aku sangat tidak menyukainya. Ada insiden kecil kemarin, itu membuatku merasa bahwa dia adalah pelaku sesungguhnya."


"Kamu harus mencoba netral. Kontrol emosimu di depan semua terduga," kata dia. "Mereka tidak boleh tahu apa yang sedang kita selidiki."


Aku mengangguk. "Baiklah."


"Hendra Gunawan. Tidak catatan mengenai hal yang berhubungan dengan santet. Akan tetapi, ada yang unik di sini. Ayahnya, pernah mencuri sebuah perangko di sebuah pameran. Dia tidak dihukum karena kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan," kata Darma. "Kamu sudah tahu jenis perangkomu itu?"


"Wereld Jamboree, tujuh setengah sen," jawabku.


"Kakekku. Saat aku ulang tahun ke tujuh, dia memberikan kado sebuah perangko. Dia bilang, itu akan menolongku di masa depan. Aku menyimpannya. Saat aku menemukannya lagi, aku punya ide untuk menempelkannya di klipingku—yang bertema zaman penjajahan—dan memamerkannya," ungkapku. "Kakekku sudah meninggal saat aku sembilan tahun, tentu saja perangko itu sudah kulepas dari kliping dan kembali kusimpan baik-baik."


"Kamu tahu itu nilainya berapa?" tanya Darma. "Puluhan, hingga ratusan juta," dia menjawabnya sendiri. "Di masa depan, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, harganya akan semakin melambung hingga milyaran. Ya, walaupun akan ada inflasi."


Aku sangat terkejut. Tadinya, Hendra sangatlah tidak mungkin untuk mengirimiku kutukan semacam ini. Namun, setelah tahu betapa berharganya perangko yang kumiliki. Hal itu semakin masuk akal. Hendra tidak ingin mengulangi kesalahan ayahnya yang mencuri dan ketahuan. Dia menggunakan cara yang lebih ekstrem. Mengutukku. Namun, apa yang akan dia lakukan setelah ini? Kurasa dia akan memberitahuku jika dia yang mengirim kutukan, mungkin dengan cara mengirimiku surat. Lalu, dia akan memberikan penawaran berupa pencabutan kutukan jika aku memberikan prangkoku padanya.


"Simpan perangko itu baik-baik. Jangan sampai hilang," kata Darma dengan serius.


"Tidak akan hilang." Aku mengangguk mantap.

__ADS_1


"Danu Rangga Bina. Dia tidak punya catatan aneh. Aku masih mencoba menggali lagi. Lalu Naya Malnika. Keluarga Naya sangat islami, aku tidak menemukan keanehan apa pun dari keluarganya. Namun, fakta bahwa dia paling tahu segala hal tentangmu mungkin bisa menjadi bumerang. Saya yakin kamu sangat menyayanginya, tetapi tetaplah menaruh curiga padanya. Itu tidak akan jadi masalah. Tetap waspada," ungkapnya yang kemudian melihat catatannya lagi.


Pada saat itu, pelayan datang dan membawakan pesanan kami.


"Ajeng Puspita," kata dia. "Seperti yang kubilang sebelumnya. Ajeng memang sepertinya membantu pelaku utama jika dia memang terlibat. Karena saat kutelusiri asal-usulnya, tidak ada yang mengindikasikan bahwa dia akan melakukan hal buruk terhadapmu. Akan tetapi, dia bisa membantu pelaku utama. Karena ibunya sedang menderita penyakit kanker yang sudah cukup kritis. Ibunya butuh pengobatan yang tidak murah."


"Hendra dan Gilang cukup kaya untuk bisa membantu pengobatan ibu Ajeng. Sayangnya, menurutku kurang masuk akal jika Ajeng hanya mengambil barangku dan dia mendapatkan uang banyak untuk pekerjaan yang kurasa sepele itu. Bagaimana jika Ajeng adalah pelaku tunggal? Dia bermaksud memorotiku? Akan tetapi, kau benar. Dia pasti akan memoroti orang-orang yang sudah jelas kaya."


"Tapi apa yang kamu katakana juga bisa benar. Namun, saya tetap pada teori saya tentang dia sebagai orang suruhan. Jika teori saya memang benar, barang yang Ajeng curi berarti sangat susah diambil. Saya mendata beberapa barang yang mungkin, seperti tujuh helai rambut, foto potret, pakaian, atau hal-hal pribadi lainnya."


"Sari Bila Atmaka," dia membaca nama Sari dengan nada yang aneh, seperti malas atau seperti memikirkan sesuatu yang tengah terjadi—tentu saja aku bisa menduganya. "Dia hanya tinggal dengan neneknya, neneknya cukup kaya. Apa yang saya lihat dari sosoknya adalah rasa kesepian. Namun, dia tetap bisa menjadi pelaku. Lalu, saya mencoba menyelidiki neneknya. Nenek Sari ternyata merupakan sepupu dari salah satu dukun ternama. Jika Sari berniat jahat padamu, dia sepertinya punya jalan ke sana."


"Darma. Sepertinya aku harus jujur. Aku melihatmu dengan Sari. Dia menembakmu, kan?" tanyaku.


Darma mengangguk. "Ada beberapa gadis yang mengatakan suka pada saya, tapi saya sangat menghargai keberanian mereka, termasuk Sari."


"Dia menyedihkan. Aku memang kesal padanya—sangat kesal. Namun, lebih dari itu, aku kasihan. Dia anak yatim piatu. Kurasa menjadi cantik dan bersenang-senang dengan pacar adalah pelampiasan dari kesepiannya," ungkapku. "Aku senang karena ada Rajo, mungkin aku juga akan kesepian tanpa dia."


Saat aku menoleh ke jendela. Ada desiran yang seperti menimpa leherku. Aku merinding karena dari kejauhanaku melihat Rajo tengah berdiri di sana. Itu hal yang tidak mungkin. Mengetahui fakta bahwa dia berdiri di luar dan memandangku, membuatku langsung mengalihkan pandangan. Aku menunduk, mengatur napasku. Dia tidak nyata, dia tidak nyata.


"Ada apa? Apa yang kamu lihat?" tanya Darma dengan nada yang khawatir.


Aku mengangkat kepalaku lagi, mencoba memandangnya. "Aku ke kamar kecil dulu, ya," izinku yang kemudian berdiri.


Tiba-tiba, semua lampu mati. Beberapa orang berteriak, termasuk aku. Namun, aku tidak berteriak pada kegelapan. Akan tetapi, pada apa yang aku lihat di langit-langit.

__ADS_1


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2