Dedarah

Dedarah
Episode 29


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Aku datang ke sekolah sangat awal. Di kelas ini baru ada beberapa orang. Aku merogoh loker mejaku. Tidak ada lagi surat. Tadi malam, Darma memintaku untuk terus mengecek surat-surat yang datang padaku, karena mungkin saja orang itu mengirim surat lagi. Jika si pelaku mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja, seharusnya dia akan menjelaskan sesuatu yang lain. Kecuali satu hal, baik-baik saja yang dimaksud orang itu tidak seperti yang ada dipikiranku.


Ajeng sedang mengeluarkan isi kotak pensilnya. Ada beberapa alat tulis seperti pulpen, pensil, penghapus, dan rautan. Dia tampak senang memperhatikan itu. Saat Dewi datang, dia buru-buru memasukkannya kembali isi ke kotak pensilnya.


"Aku benar-benar senang," kata Dewi pada Ajeng. "Sebentar lagi, apa yang aku inginkan benar-benar terkabul."


"Wah, aku ikut senang."


Aku mengalihkan diriku dari mereka. Kembali pada buku di depanku. Aku sedang mencoba mengorek informasi lagi. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya orang yang telah membawa kutukan itu padaku.


Aku kaget saat mejaku tiba-tiba digebrak. Sari.


"Kamu pacaran sama Darma, kan?!" bentaknya.


Kuangkat kepalaku, memandangnya dengan kesal.


"Temanku melihatmu di kafe dengan Darma. Kalian berkencan bersama," kata Sari.


"Lalu, apa urusanmu?" tanyaku dengan malas.


"Seorang perempuan dibawa dengan mobil oleh laki-laki di malam hari, itu bukan hal sepele. Kalian punya hubungan serius, kan? Atau jangan-jangan, kau menjual dirimu padanya," ungkap Sari menyindir.


"Kami berdua pacaran atau tidak bukannya tidak ada urusan denganmu, toh kamu sudah ditolak olehnya. Menjual diri? Kau pikir semua perempuan sama sepertimu?"

__ADS_1


Wajah Sari memerah, dia marah. Tamparan mengantamku. "Aku mau dia! Sejak awal, aku mau Darma. Aku sudah menembaknya sembilan kali, tetapi aku belum menyerah. Lalu, tiba-tiba kau datang dan merebutnya dariku!"


Sari menyatakan cinta berkali-kali pada Darma? Apa itu alasan kenapa Darma tampak kasihan saat membahas Sari?


Aku tertawa. "Tamparanmu tidak sakit," ejekku. "Lebih baik, kau cari laki-laki lain. Karena Darma tidak akan pernah bisa kau miliki."


"Kalian berkelahi lagi?" suara Gilang. "Tidak pernah lelah, ya?"


Sari mulai menangis. "Kamu tidak tahu? Dari kecil, aku sudah menyukai Darma. Aku sedih karena dia selalu menolakku sehingga aku pacaran dengan laki-laki lain sebagai pelampiasan. Namun, kau dengan mudahnya bisa berkencan dengannya. Apa yang kau tawarkan padanya, keperawananmu?!" Sari berbicara dengan emosi menggebu-gebu.


"Jadi, kau menganggap jika Darma mau diiming-imingin dengan hal semacam itu?" tanyaku. "Pantas kau selalu ditolak. Kau sama sekali tidak menghargainya," entah kenapa saat aku mengatakan ini, aku juga merasa tertusuk. Aku juga pernah berpikiran buruk pada Darma. Namun, sekarang tidak.


"Apa maksudmu?" tanya Sari.


"Kau adalah orang yang tidak bisa menghargai diri, Sari. Kau tidak bisa menghargai orang lain, bahkan dirimu sendiri pun tidak kau hargai," ungkapku. "Berkacalah!"


Aku segera pergi meninggalkan Sari, di ambang pintu aku melihat Danu. Ekspresinya padaku cukup aneh. Sepertinya, dia telah mendengar semuanya.


 


"Gelang atau kalung gitu lucu kok, atau anting? Tas tangan, boneka, jam tangan. Apa ya yang paling pantas?" Naya mengoceh sendiri.


Mataku melihat kerumunan di dekat parkiran. Teriakan terdengar dari sana. "Ada apa itu?"


"Danu, dia berkelahi!" teriak beberapa siswa lain yang berlari melewati kami.


"Dengan siapa?"


"Darma!"


Aku segera menarik Naya. "Ayo ke sana!"

__ADS_1


Rasa panik langsung menerpaku. Aku menerobos kerumunan dan melihat Darma sedang dipukuli oleh Danu di tanah. Tidak ada yang melerai. Aku marah pada mereka yang menonton. Dengan sigap, aku mencoba menghentikan Danu.


"Berhenti!" kataku dengan keras. "Hentikan, Danu!"


Danu berhenti, berdiri, dan kemudian mundur selangkah.


"Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?" tanya Danu yang menunjuk ke arah Darma. "Kenapa?!"


Darma diam saja. Aku menolongnya untuk bangkit.


"Gara-gara dia?" Danu menunjukku.


Darma tetap diam. Lalu, Danu yang tampak begitu marah itu pergi tanpa kata-kata lain. Perlahan, yang lain ikut bubar.


"Dasar anak ******!" seru Naya pada Danu. "Anak itu memang sangat nakal. Bagaimana bisa dia memukuli Darma?"


"Ayo bawa Darma ke UKS," kataku.


Darma menggeleng.


"Kau terluka," kataku yang melihat darah menetes di pelipisnya.


"Saya tidak apa-apa," kata Darma yang masih sempat-sempatnya tersenyum padaku.


Aku segera membuka tasku, aku selalu sedia plester. Dengan sapu tanganku yang bersih, aku membersihkan darahnya secara perlahan. Lalu, aku menempelkan plester ke pelipisnya. Luka di bibirnya hanya kubersihkan saja.


"Kalian manis sekali," kata Naya.


Darma memberi kode padaku agar aku mendekat. Aku mengikuti kodenya. Dia berbisik di telingaku, "sekarang saya tahu motif Danu."


 

__ADS_1


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2