Dedarah

Dedarah
Episode 21


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


"Penghapus baruku hilang!" Naya berseru kesal. Dia menggeledah tasnya, mencari-cari dengan panik.


"Mungkin jatuh," kataku yang mulai membuka kotak bekal.


Naya berhenti mencari, dia menoleh ke arah salah satu meja. Aku yakin dia tengah memperhatikan meja Ajeng dan Dewi. Keduanya sedang ke kantin.


"Aku akan menggeledah tas Ajeng," kata dia yang kemudian berdiri.


"Jangan," bisikku sembari melihat sekeliling, ada beberapa anak yang masih ada di kelas ini, semuanya sedang sibuk sendiri.


"Kamu ingat pulpenmu? Atau penggarisku waktu itu? Semua dicuri oleh Ajeng," kata Naya yang tampak marah.


"Maksudku, nanti saja kalau dia sudah kembali," ucapku. "Bicarakan baik-baik dengannya."


Naya menggeleng. "Aku akan menggeledahnya sekarang!" Dia berjalan ke arah tas di kursi Ajeng, mengambilnya, dan membukanya. "Ketemu!" Naya menunjukkan penghapus berbentuk kepala Doraemon itu.


"Apa yang sedang kau lakukan dengan tas Ajeng?" tanya Dewi yang tiba-tiba muncul.


"Mengambil barang milikku yang dia curi," jawab Naya santai.


"Itu penghapus punya Ajeng, dia tidak mencurinya," kata Dewi.


"Dewi. Kita sama-sama tahu kalau ada barang kita yang hilang pelakunya pasti Ajeng," jawab Naya dengan enteng.

__ADS_1


"Tapi, aku yang menemaninya membeli itu," kata Dewi tampak yakin.


Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah itu. Kuperhatikan anak-anak lain sepertinya tengah memperhatikan Naya dan Dewi yang terus berdebat. Lalu, pandanganku berhenti di meja paling pojok, meja Hani.


Dia sedang menggambar sesuatu. Aku berdiri untuk bisa melihat apa yang sedang dia gambar. Lalu, aku melihat penghapus itu. Penghapus bentuk kepala Doraemon. Aku pun memberanikan diri untuk mendekat ke arahnya.


"Dari mana kau dapatkan itu?" tanyaku dengan lirih.


Hani masih terus mengambar. Dia sedang menggambar sebuah pohon. Lalu, aku mengulangi pertanyaanku, tetapi dia tetap tidak menoleh. Aku sebenarnya ingin mengatakan tentang beberapa hal yang dia lihat dan hal-hal yang dia lakukan. Namun, saat aku melihat darah menetes ke buku gambarnya. Aku membatalkannya.


Hani membersihkan darah di hidungnya dengan tangannya, lalu dia menoleh padaku. Dia tampak sangat pucat, mungkin dia sedang sakit. "Aku menemukannya."


"I-itu milik Naya," kataku yang ingin segera pergi saat melihat hidungnya kembali meneteskan darah. "Boleh aku mengambilnya?"


Dia mengangguk.


Aku pun segera mengambil penghapus itu dan segera menjauh dari Hani. Aku ingin memberitahu yang lain kalau Hani sakit, tetapi aku menyadari sesuatu. Aku tidak mau orang tahu tentang asmaku. Mungkin Hani juga. Jadi, kupendam saja tentang apa yang aku lihat barusan.


"Lihat, yang mencurinya justru sahabatmu sendiri," kata Dewi seraya melirik ke arahku.


"Aku menemukannya di lantai," kataku berbohong—aku sengaja tidak ingin mengatakan bahwa Hani yang menemukannya. Menurutku, Naya bisa marah ke Hani.


Naya menaruh kembali penghapus milik Ajeng. "Kali ini memang Ajeng tidak mencuri, tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa sahabatmu itu suka mencuri," ujarnya yang kemudian kembali ke kursinya.


Hendra begitu girang. Dia berdiri di depan kelas pada hari Rabu. "Perangko terbaru yang berhasil ayahku dapatkan pasti akan membuat kalian terce—"


"Bisakah kau duduk dan berhenti bicara soal perangko?" kata Gilang. "Rasanya aku mulai muak."


"Biarkan dia," kata Danu. "Lagi pula, tidak ada yang mendengarnya. Kenapa harus dilarang?"


"Diam," ujar Gilang pada Danu yang tampak cengengesan.

__ADS_1


"Aku punya beberapa mobil terparkir di rumah, koleksi beberapa jam tangan pun harganya akan membuat kalian tercengang. Tidak hanya itu, keluargaku punya empat rumah mewah dan liburanku selalu ke luar negeri. Aku bukan hanya bisa membeli perangkomu, Hendra. Kau dan seluruh keluargamu juga bisa aku beli," kata Gilang dengan sombongnya.


"Gilang, seberapa banyak harta yang ingin kau pamerkan. Sikap sombongmu tidak akan seberkelas Rema," kata Danu yang kemudian membuat semua anak di kelas menoleh ke arahku.


Gilang menoleh ke arahku. Aku memandangnya dengan tatapan biasa—mungkin orang lain akan mengatakan aku dingin jika menatap seperti ini. "Dikagumi semua laki-laki, tak ada perempuan yang tidak iri dengannya, dan seluruh guru memuji-mujinya," ujarnya. "Rema pantas untuk bersikap sombong." Aku mengerutkan dahi. Gilang hanya mengatakan itu? Memaklumi jika aku bersikap sombong?


"Tapi apa dia bisa menikmati apa yang aku nikmati?" tanya Gilang. "Menjadi orang terkaya di daerah ini?"


"Lalu, apa kamu bisa menyelesaikan sepuluh soal rumit matematika dalam waktu singkat, menghafal tabel kimia, atau menjelaskan teori-teori fisika di depan kelas tanpa melihat buku?" Naya yang tampaknya geram mulai menyahuti Gilang.


"Kau benar Naya. Aku tidak bisa," kata Gilang.


"Dengan apa yang dia miliki, bukannya dia bisa menikah dengan pria yang sangat kaya?" tanya Danu dengan suara getir.


"Benar. Bahkan dengan kepintarannya mungkin dia bisa membunuh orang tanpa ketahuan. Dia akan mencari pria tua yang kaya raya, menikahinya, lalu membunuhnya. Dengan begitu, dia akan kaya mendadak," ujar Gilang yang tertawa. "Namun, tetap saja aku akan lebih kaya."


Aku berdiri. "Gilang. Kau pikir, jika kau kaya itu menempatkanmu di atas yang lain? Padahal, apa yang kau lakukan hanya meminta-minta pada orang tuamu. Menyedihkan jika kau membanggakan itu," kataku.


Danu tertawa mendengar kata-kataku.


"Apa yang sedang kalian ributkan?" Sari baru masuk ke kelas. Dia melirik ke arahku. "Rema? Tidak ada topik lain, ya?"


"Lalu, kami harus membicarakanmu?" tanya Danu.


Hendra masih berada di depan kelas. "Aku lanjutkan tentang perangko mi—"


Gilang masih memperhatikanku dengan pandangan kurang suka.


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2