
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Jalan menuju markas yang dimaksud Darma biasanya berlawanan arah dengan jalan menuju ke rumahku jika dimulai dari sekolah. Namun, jika kami kembali ke arah sekolah, jaraknya malah akan lebih jauh dibanding jalan memutar yang akan melewati jembatan. Bisa kusimpulkan jika markasnya ada di daerah yang sama dengan rumah Naya.
Markas yang Darma bilang ternyata adalah sebuah bagunan tidak terpakai yang letaknya dekat dengan padang rumput yang sampingnya ada kebun jagung. Bangunan ini pasti sebuah gardu sebelum diubah oleh Darma menjadi seperti rumah kecil dengan hanya satu ruangan di dalamnya.
"Pamanku dulu menggunakan tempat ini sebagai tempat istirahat saat sedang menggembala domba-dombanya," kata Darma yang sedang memasukkan kunci ke dalam gembok pintu.
__ADS_1
"Kak, aku lihat belalang melompat-lompat. Apa aku boleh menangkap mereka?" tanya Rajo menunjuk ke arah padang rumput.
Aku masih protektif dengan adikku. "Jangan!"
"Biarkan saja, lihat di sana juga ada anak-anak lain," ujar Darma.
Kuperhatikan dari kejauhan memang ada beberapa anak yang sepertinya juga sedang mencari belalang di antara rerumputan.
Aku melepas napas. "Jangan jauh-jauh, ya," kataku ke Rajo.
Kupikir akan ada banyak hal di dalam ruangan ini. Nyatanya, hanya ada meja dan kusi panjang—sepertinya biasa untuk tidur karena ada bantalnya. Namun, sepertinya bukan ini yang dimaksud sebagai markasnya, karena Darma membuka papan kayu besar di lantai dan ternyata ada lubang di sana, lubang yang menuju ke ruang di bawah tanah.
Darma menuruni tangga, tiba-tiba aku agak ragu. Aneh, aku tiba-tiba memikirkan kata-kata Gilang waktu itu. Namun, Darma tidak akan mungkin melakukan itu. Aku harus berpikiran positif. Kuputuskan untuk mengikutinya turun.
__ADS_1
Di bawah sana adalah kenyataan dari apa yang aku bayangkan. Ruangan itu, sebuah ruangan yang cukup luas dengan cahaya yang berasal dari bagian pojok atap yang berupa kaca. Di sana, ada papan-papan yang ditempeli banyak kertas, ada juga papan tulis kapur yang ditulisi oleh Darma, lemari berisi buku-buku, meja dengan alat-alat di atasnya, dan yang membuatku tercengang karena di sana ada ranjang dan kasurnya.
Rema akan diperkosa oleh pengirim surat itu.
Tidak ada bukti pasti jika Darma bukanlah pengirim surat itu—selain omongan Naya. Untaian tali tersambung-sambung di otakku. Sebuah skenario terbentuk. Darma mengirimiku surat itu sebagai tanda dimulainya misteri yang dia buat dengan kedok meminta maaf untuk apa yang akan dia lakukan, lalu dia membayar dukun untuk menyantetku—mengingat dia bicara soal santet. Ketika aku kehabisan akal untuk mengetahui siapa pengirim surat itu, aku akan meminta bantuan padanya. Sangat jelas saat dia memberikan sebuah sugesti bahwa dia memiliki banyak catatan tentang bagaimana dia memecahkan kasus dan membantu polisi.
Saya rasa kamu sudah dengar gosip-gosip itu.
Sugesti semacam itu tanpa sadar telah membuatku mengakuinya sebagai orang yang ahli dalam memecahkan misteri. Dia memunculkan wajahnya beberapa kali di depanku untuk membuatku ragu, membuatku akhirnya mau meminta tolong padanya—terlebih santetnya memang bukan main-main efeknya.
Jika teoriku benar, aku sedang terperangkap. Aku masuk ke lubang jebakannya. Seketika aku gemetaran. Melihatnya membuka kancing seragam pramukanya, menyisakan kaus putih tipisnya, aku semakin yakin. Dia membawaku ke sini agar aku mau tidur dengannya, di ranjang itu. Tidak salah lagi.
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!