
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
"Kemarin kenapa kamu tidak masuk?" tanya Naya yang tampak khawatir. "Kemarin, aku mau ke rumahmu, tapi tidak jadi karena aku ingat kalau aku ada janji dengan ibuku untuk mengantar makanan ke rumah nen—"
Aku menyela. "Istirahat. Kemarin aku hanya butuh istirahat."
"Kamu dialpa untuk pertama kali," kata Naya yang khawatir.
"Bagus. Pengalaman," sahutku.
Naya menggeleng, dia seperti tidak mengerti dengan perkataanku. Atau mungkin, dia merasa bahwa Rema yang ada di depannya adalah Rema yang berbeda dengan yang dia kenal seharusnya.
"Aku ingin kamu bertemu dengannya," kataku.
"Aku? Bertemu dengan siapa?"
"Ke orang yang yang selalu kamu harapkan untuk aku temui," jawabku dengan malas.
"Darma!" Naya hampir menjerit kegirangan. Dia sadar dan mulai berbisik, "untuk apa kamu memintaku menemuinya? Apa ada yang harus kusampaikan padanya?"
"Bilang saja ke dia, kalau saat pulang sekolah, tolong ikuti aku," kataku.
__ADS_1
"Itu saja?"
Aku mengangguk.
"Siap!"
"Kalian benar. Masih banyak cowok. Lagi pula, tidak ada cowok yang tidak bisa kudapatkan," Sari percaya diri.
Gilang terkekeh. "Kali ini siapa lagi?"
"Darma."
"Siapa, Sar?" sahut Danu. "Masih mau coba lagi?"
Sari berdiri. "Aku akan berpacaran dengan Darma. Lihat saja, bagaimana caraku untuk bisa mendapatkannya."
Dadaku terasa panas. Kini, aku menatap ke arah Sari dengan penuh kemarahan.
Kutarik sepedaku, menaikinya, dan mulai mengayuh. Kuperhatikan diam-diam, dia juga ikut mengayuh. Aku keluar dari gerbang sekolah dengan mencoba senormal mungkin. Aku meminta Naya agar mangatakan pada Darma untuk mengikutiku agar aku dan dia bisa bicara di jalanan tengah hutan. Aku tidak ingin dilihat oleh siapa pun.
Berada di pertigaan, aku langsung memilih jalan ke kanan—jalan ke kiri menuju ke arah jalan pinggir sungai. Jika aku bersama Naya, dia akan selalu memilih jalan di pinggir sungai. Naya penakut. Aku lebih memilih jalan yang cepat daripada jalan yang lambat, walau itu mengharuskanku menghadapi kesunyian jalanan di tengah hutan.
Masih ada satu atau dua orang yang juga melewati jalan ini. Aku akan menunggu hingga aku merasa jika hanya ada aku dan Darm di jalan ini. Mengayuh sepeda dengan kesempatan sedang, aku memperkirakan akan berhenti di mana—aku sangat hafal jalan ini.
Aku mengerem. Kaget.
Gemetaran langsung muncul dari tengguk dan menjalar ke seluruh tubuh. Aku terkejut karena seorang anak kecil berlari melaluiku. Rajo! Dia berjalan masuk ke hutan. Rema, dia bukan Rajo, dia bukan adikmu! Walau pikiranku terus memberikan sugesti seperti itu, tetapi tetap saja aku menjatuhkan sepedaku dan berlari mengikuti Rajo—atau siapa pun sosok yang menyerupai adikku itu.
__ADS_1
Aku berlari. Aku panik bukan main. "Rajo!"
Dia bergerak dengan sangat cepat. Aku benar-benar, kehilangannya.
Suara cekikikan.
Aku yakin arah mana yang tepat. Aku kembali berlari, ke arah yang aku percayai. Di mana dia? Kembali berhenti karena aku tetap tak menemukannya, aku mengatur napas, mencoba untuk tidak panik. Mataku mulai panas, aku sangat panik.
Aku begitu merinding saat melihat Rajo ada di atas pohon yang tinggi, tengah berdiri menginjak salah satu ranting yang kuat dengan posisi membelakangiku. Aku menggeleng saat tahu apa yang akan dia lakukan. Rajo melepaskan pegangannya dari batang pohon. Lalu, dia melompat.
"Rajo!" teriakku ingin menghentikannya.
"Rema!" Seseorang menarikku, tepat sebelum aku berlari menuju pohon itu.
"Lepaskan aku!" suruhku pada Darma sembari memberontak.
Aku berlari ke pohon itu. Tidak ada Rajo. Dia melompat ke bawah, tetapi tidak ada tubuhnya di mana pun. Sesak, aku mencoba mengatur napasku. Aku menangis. Gemetaran, merinding, ketakutan membuatku tak bisa berkata-kata.
"Apa yang terjadi?" Darma mendekat.
"A-aku, adikku ...," aku terbata-bata.
Darma mengangkat tangannya, mengelus pelan lenganku. "Tenang, Rema," ujarnya pelan.
"Aku dikutuk," suaraku hampir habis.
Dia mendekat ke arahku, entah apa yang kulakukan, aku memeluknya. Aku ingin menghilangkan gemetaran di sekujur tubuhku ini. Aku memeluk orang yang beberapa hari lalu sangat kubenci—bahkan sangat asing. Sudah bisa kuduga, sosok itu ada di sini. Dia selalu berkeliaran di sekitarku. Dan sekarang, dia sedang melihatku dari kejauhan. Hani menjadi saksi aku dan Darma tengah berpelukan. Setelah itu, dia berlari pergi.
__ADS_1
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!