Dedarah

Dedarah
Episode 2


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama


○●○


Aku kembali menggunakan inhalerku.


Cekikikan sosok yang melompat-lombat di ranjangku masih terdengar. Dia sepertinya berhenti melompat. Bunyi lain terdengar, sesuatu seperti tengah digunting. Sosok di atas ranjang sedang melakukan sesuatu. Saat kutolehkan pandanganku ke samping. Aku melihat rambut berterbaran di lantai. Aku tak mampu bicara apa pun. Dadaku kembali sesak, tubuhku melemah dan lemas.


Sosok itu tertawa, menggunting rambut dengan senang. Kulihat sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang keluar dari rambut-rambut di lantai, cairan yang pekat. Cairan itu mengalir ke pipiku yang menempel di lantai. Mataku membelalak saat melihat darah.


Tetesan air membangunkanku. Kulihat langit-langit di kamarku menitikkan air. Bantalku basah. Bocor lagi. Aku bangun, duduk di ranjang dan merenung. Melihat inhaler di nakas masih berdiri normal membuatku mengingat mimpi-mimpi itu.


Orang-orang memuja iblis, sosok anak kecil memainkan gunting untuk mencukur rambut yang kemudian mengeluarkan darah? Dua mimpi yang sangat acak, tetapi apa ada hubungannya?


Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, kulakukan berkali-kali sebelum kudengar suara cekikikan. Adikku sudah bangun. Kutolehkan pandanganku ke jendela, gerimis. Kembali menatap ke atas, tetesan air masih muncul dari langit-langit kayu itu.

__ADS_1


"Kamu yakin dia akan muncul?"


"Kapan?"


"Kamu sangat menantikannya?"


"Rajo, dengan siapa kamu bicara?" tanyaku.


Aku keluar dari kamarku untuk mengecek Rajo. Dia sedang bermain mobil-mobilan di lantai—sendirian.


Rajo menoleh padaku. Anak manis dengan mata besarnya yang polos itu tersenyum, lalu menggeleng. Mataku langsung menemukan gunting besi yang tergeletak di lantai dekat dengan tempat rajo duduk. Aku pun berjalan ke sana dan mengambil gunting itu.


"Bukan aku yang memainkannya," Rajo menjawab tanpa menoleh ke arahku—dia masih memainkan mobil-mobilannya.


Aku menyipitkan mata. "Lalu siapa?"


"Ka Rema, Kakak sendiri."


Aku memperhatikan gunting di tanganku. Lalu, aku menoleh ke arah Rajo. Anak itu berbohong.

__ADS_1


○●○


Aku mengendari sepedaku dengan pelan. Aku melewati jalanan yang cukup terjal untuk sampai ke sekolah, melewati jalan yang samping-sampingnya adalah hutan. Untungnya, sekolahku tidak terlalu jauh. Aku hanya perlu bersepeda selama dua puluh menit. Jika aku bersekolah di kota, aku harus bersepeda lebih dari satu jam.


Saat melewati jalanan hutan, aku selalu merasakan ada yang sedang mengawasiku di balik pepohonan. Sebenarnya ada jalan alternatif selain jalan penuh bebatuan ini. Jalan di pinggir sungai. Namun, aku harus memutar cukup jauh. Aku bisa kehilangan banyak waktu. Lagi pula, merasa diawasi hanyalah pemikiran yang kubuat sendiri, tak ada orang yang bersembunyi di hutan untuk mengintai gadis SMA yang sedang berangkat sekolah. Bagaimana jika yang mengawasiku bukanlah manusia? Aku menggeleng, tertawa kecil karena pikiranku mulai kacau.


Selain suara tasku yang bergoyang-goyang di keranjang depan. Aku bisa mendengar suara-suara serangga di tengah hutan ini. Aku suka mendengar suara serangga. Biasanya, aku akan turun dari sepeda dan menuntunnya agar lebih jelas mendengar suara-suara itu. Aku pun melakukannya lagi sekarang. Aku merasa dapat bernapas dengan begitu normal di pagi hari. Udara di sini sangatlah segar.


"Dua, tiga, empat...," aku mendengar suara perempuan.


Aku diam, tubuhku tiba-tiba merinding saat melihat sosok gadis dengan seragam sama sepertiku sedang berada di dekat pohon. Dia seperti sedang berjaga dalam permainan petak umpet, menutup mata dengan kedua tangan yang ditempelkan ke batang pohon.


"Aku akan menemukan kalian," ujarnya saat selesai menghitung sampai sepuluh.


Dia menyadari kehadiranku. Kami berdua saling bertatapan. Aku tahu dia, Hani, teman kelasku. Memandangnya dengan wajah sedatar mungkin. Aku kembali mendorong sepedaku pergi. Gadis dengan rambut panjang yang tampak kumal itu harus kujauhi, dia sangat aneh.


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2