Dedarah

Dedarah
Episode 5


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama


○●○


Kami berdua bersepeda di jalanan pinggir sungai—lebih tepatnya irigasi yang mengalirkan air ke sawah-sawah. Di tanggul yang cukup tinggi dibuat jalan beraspal yang cukup enak dilalui.


"Lupakan kata-kataku tadi pagi soal Danu. Pokoknya Darma sejuta kali lipat lebih baik. Kamu harus sama dia, Rema! Kesempatan yang luar biasa, kan? Cewek paling cantik berpacaran dengan cowok paling ganteng. Kalian akan dibicarakan setiap hari!" oceh Naya yang begitu antusias.


Apa yang dikatakan Naya terdengar sangat menggelikan. Kalau saja dia bukan gadis yang dapat meluapkan kemarahannya dengan menampar Sari begitu kerasnya untuk membelaku, mungkin aku tidak akan mau berteman dengannya.


Selama Naya mengoceh, aku melambatkan kayuhan sepedaku. Naya berada dua sampai tiga meter di depanku. Aku pun bisa santai memandangi aliran irigasi di samping kiri atau pepohonan di samping kanan.


Buku di perpustakaan itu masih cukup mengusikku. Jika saja Darma tidak muncul secara tiba-tiba dan mengambil buku itu untuk dirinya, aku pasti sudah membawa pulang buku itu sekarang. Mungkin hal ini ada baiknya juga. Mimpiku semalam, soal orang-orang berpakaian putih yang menyembah patung iblis telah mempengaruhiku. Buku seperti itu tidak terlalu penting kecuali jika mimpi itu baru sekali kualami. Nyatanya, mimpi tentang iblis sudah beberapa kali aku dapatkan. Aku perlu buku itu.

__ADS_1


Jika mengingat mimpi-mimpi itu, aku merasa ada aliran aneh yang menjalar di tubuhku. Gemetar. Sosok hitam besar bertanduk dengan sayap dan mata merahnya itu masih terngiang. Sosok yang sama selalu muncul dalam mimpi-mimpi serupa. Apakah sosok iblis memang berwujud seperti dirinya? Atau aku sendiri yang menciptakan sosok itu di dalam mimpi?


"Rema! Ayo balapan!" teriak Naya yang kemudian mengayuh pedalnya lebih kuat—dia mencuri start.


Aku tidak segera mengikuti Naya, aku masih ingin bersepeda dengan santai. Kembali memandangi irigasi yang tenang, aku beralih ke pepohonan. Aku mengerem mendadak saat kulihat seorang gadis tengah menaiki sebuah pohon yang cukup tinggi. Seragam yang sama denganku, rambut panjang kumalnya, siapa lagi kalau bukan si Hani. Dia duduk di batang pohon dan menatapku.


Aku menahan napas saat dengan sengaja dia mengangkat tangannya ke mulut, melakukan gerakan seperti tengah menghirup sesuatu. Aku begidik. Hani, dia sedang mengancamku? Dengan cepat, kukayuh pedalku untuk menjauhi anak aneh itu.


○●○


Naya mampir ke rumahku untuk mengerjakan PR bersama. Alih-alih di kamar, kami memilih menggelar karpet di ruang tengah. Adikku sedang menonton televisi tak jauh dari kami berada. Dia tampak tenang.


"Aku ambilkan minum dulu, ya," kataku yang kemudian berdiri.


"Sama camilan sekalian, Ma," balas Naya yang sedang membaca buku catatanku.


"Oke, coba aku cari," jawabku yang kemudian menuju dapur.

__ADS_1


Rumahku walau seluruhnya terbuat dari kayu, memiliki cukup banyak ruang. Di lantai satu, ada beranda luas dan parkiran mobil di sampingnya. Memasuki pintu dengan dua daun, ada ruang tamu, ke dalam lagi ada ruang tengah yang paling luas. Ruang tengah menghubunkan dua lorong. Lorong di sisi barat ada kamarku, kamar tamu, gudang, dan tangga naik ke lantai dua. Di sisi timur ada kamar Rajo, kamar Ibu, dapur, ruangan besar tempat sumur dan dua kamar kecil berada. Di lantai dua, ada kamar Ayah, ruang kerjanya, dan ruang untuk sholat. Kami bertiga sangat jarang naik ke lantai dua sejak kematian Ayah enam bulan lalu.


Untuk menuju ke dapur, aku harus melewati lorong yang samping kanan ada kamar Ibu dan kamar Rajo dan samping kiriku ada ruangan luas berisi sumur, tempat untuk mencuci, dan dua kamar mandi. Dapurku cukup luas, ada banyak sekali peralatan memasak. Semua makanan juga ditaruh di lemari-lemari. Mengambil nampan, aku menaruh dua gelas dan mengambil teko berisi air putih dan botol sirup. Ada dua buah plastik isi keripik singkong di lemari, kuambil satu.


Saat berjalan di lorong, aku dikagetkan dengan Rajo yang tiba-tiba lari ke arahku.


"Rajo!" pekikku saat dia menabrakku di lorong.


Nampan yang kupegang hampir jatuh, satu gelas jatuh dan pecah. Aku begitu kesal meilihat pecahan kaca itu. Namun, aku tahan rasa kesalku. Aku menoleh ke belakang, Rajo ada di dapur. Aku akan merapikan gelasnya nanti, kuantarkan nampan ini dulu ke Naya.


"Aku mau ambil gelas lagi," kataku saat menaruh nampan ke lantai dekat karpet.


"Untuk Rajo?" tanya Naya dengan santai.


Tiba-tiba tanganku merinding. Di depan mataku masih ada dua gelas di nampan itu. Semakin terkejut, Rajo masih duduk diam menonton televisi. Kuperhatikan lorong dengan gemetaran. Aku berhalusinasi. Aku kecapaian.


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2