
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
"Mengenai metodemu mencari tulisan yang mirip dengan surat yang kamu dapat, itu bukan metode yang harus dipikirkan pertama kali." Darma menunjukku, mengambil penghapus di meja dan menghapus tulisan di papan tulis. "Apa yang harus kita lakukan pertama kali untuk mencari pelakunya, yaitu menemukan apa motif di balik perbuatannya." Dia menuliskan kata motif di bagian atas papan tulis. "Jadi, ayo kita buat daftar orang-orang yang menurutmu punya motif untuk itu."
"Mo-motif, ya?"
"Rema, kamu kenapa?" Darma tampak bingung.
Aku harus berada di dekat tangga bambu ini, tidak boleh jauh. Jika posisi dia yang lebih dekat dengan tangga ini, dengan mudah dia bisa menjatuhkan tangga dan kemudian mulai melancarkan aksinya.
"Apa kamu melihat sesuatu di ruangan ini? Sosok yang muncul karena paranoid itu?" tanya Darma yang tampak bingung dengan ekspresiku.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya memikirkan hal lain, hal yang mengerikan, tetapi bukan soal hantu," kataku yang kemudian tertawa canggung.
"Saya melihat keraguan dalam matamu. Saya sungguh-sungguh ingin membantu. Saya bisa batalkan tentang syarat yang saya minta. Sebenarnya, saya hanya mengetes seberapa besar kamu ingin dibantu. Saat kamu mengiyakan syarat itu, saya langsung sadar jika masalahmu benar-benar serius.
Setiap pelaku kejahatan yang merugikan orang lain haruslah mendapatkan balasan. Ini penting agar tidak ada kejahatan serupa lagi. Kejatahan dengan menggunakan ilmu hitam adalah kejahatan besar. Sesuatu yang dianggap takhayul, tetapi sebenarnya adalah hal yang serius. Saya merasa tertantang untuk dapat memecahkan masalah ini. Saya tidak bisa menjalankannya sendiri. Saya butuh kamu untuk memberitahu apa pun yang kamu tahu. Saya minta kamu untuk percaya saya, Rema," ungkapnya.
Aku menelan ludah. Kurasa aku benar-benar ***** mencurigainya akan melakukan hal yang sangat keji itu. Orang di depanku ini punya pandangan tentang kejahatan yang harus mendapatkan balasan. Apa orang seperti itu akan melakukan kejahatan juga? Namun, keraguan masih ada di benakku. Aku tidak tahu apakah dia seorang monster atau seorang malaikat.
Tidak apa-apa. Asal dia ganteng dan kaya.
Aku teringat kata-kata Sari. Darma memiliki dua kriteria yang dikatakan Sari. Tidak akan ada yang bisa membantah tentang fakta bahwa Darma memiliki wajah yang tampan. Aku tahu, ayah Darma adalah seorang saudagar sukses. Darma anak orang kaya yang cukup terpandang, tidak heran jika dia bisa dipercayai oleh polisi untuk membantu.
Kejahatannya tidak akan terendus karena mereka semua mau melakukan itu atas dasar suka. Memikirkan jika Darma yang tampak sangat ramah, bicara dengan sopan, tampak baik dengan anak kecil adalah seorang penjahat kelamin membuatku merinding.
"Apa kamu mau percaya pada saya, Rema?" Darma bertanya lagi.
"A-aku," aku melirik ke arah ranjang.
__ADS_1
Darma menyadarinya, dia menoleh ke arah ranjang. Lalu, dia tersenyum aneh ke arahku. "Jangan-jangan kamu memikirkan hal itu karena ada ranjang di ruangan ini," ujarnya. "Ini adalah ranjang untuk merenung. Jadi, saat saya terbaring di ranjang ini, saya akan merenungkan banyak hal, menemukan ide, dan mungkin saja menemukan petunjuk, dan jawaban. Tidak pernah ada perempuan masuk ke ruangan ini. Kamu yang pertama."
"Lihat di sana," Darma menunjuk ke arah sebuah pigura. Foto seorang perempuan paruh baya.
"Apa itu ibumu?" tanyaku yang masih dalam keadaan gemetar.
"Ya. Matanya menuju ke arah sini. Jika saya melakukan hal buruk di sini, saya akan merasa bahwa ibu saya mengetahuinya."
Aku masih diam.
"Ayo kita bicara di luar saja jika kamu tidak nyaman di sini," Darma mengambil buku catatan di tasnya, dan mengambil satu buku yang ada di lemari. Kemudian dia menuju ke arah tangga di sebelahku.
"Aku keluar dulu," kataku yang masih memikirkan teori gilaku.
Saat Darma mengikutiku keluar dari bangunan ini membuatku merasa sedikit bersalah.
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!