Dedarah

Dedarah
Episode 18


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Akhirnya, kami di sini. Di pinggir padang rumput, duduk di atas rumput dan memandangi anak-anak yang sedang berlarian mencari belalang. Angin sepoi-sepoi membuatku menjadi tenang. Kekhawatiranku pada Rajo hilang saat melihatnya membaur dengan yang lain.


"Bisa kita mulai," kata Darma.


Aku mengangguk. Di sini, aku merasa lebih pikiranku lebih jernih.


"Aku akan mulai dari Dewi...."


Ada beberapa orang yang memiliki motif untuk mencelakakanku di kelas. Tentu saja Dewi adalah salah satu orang yang dapat—paling—dicurigai. Aku adalah rivalnya. Tanpaku, dia akan menjadi ranking satu di kelas. Tanpa aku, mungkin juga dia yang akan terpilih untuk mengikuti berbagai lomba akademik.


Sari memiliki motif yang jelas jika dialah tersangkanya. Aku selalu dia anggap sebagai musuh. Jika kasus Dewi soal kepintaran, Sari adalah soal kecantikan. Sari selalu memganggap dirinya paling cantik, tetapi banyak orang tidak setuju karena ada aku—yang harus kuakui memang lebih sering mendapat pujian soal fisikku dibanding Sari. Tanpa aku, dia akan semakin yakin pada posisi kembang sekolah yang dibuatnya sendiri itu.


Orang-orang semacam Gilang, Danu, Ajeng, dan Hendra sangat kecil kemungkinannya untuk melakukan hal semacam itu. Gilang mungkin merasa dirinya sombong—itu membuatnya bangga—karena berada di kasta tinggi sebagai anak orang kaya. Namun, kesombongannya tampaknya tak terlalu dianggap oleh yang lain, karena yang lain selalu menganggapku lebih sombong. Adakah orang yang menyantet hanya karena hal seperti itu? Karena ingin dianggap paling sombong?


Jika pelakunya Danu, mungkin motifnya untuk memilikiku. Banyak hal yang mengindikasikan bahwa Danu suka padaku, seperti mengolok Sari saat dia mengataiku, mengakui kelebihanku dibanding yang lain, atau menyelamatkanku saat aku hampir pingsan. Mungkin, dia juga tahu kalau aku menderita asma—aku tidak yakin. Waktu itu, di UKS aku menggunakan inhalerku, aku tidak tahu apakah Danu masih di sana atau sudah pergi. Fakta bahwa tidak ada yang tahu lagi soal penyakitku adalah kemungkinan bahwa Danu menyimpannya baik-baik. Walau dia anak yang nakal dan suka berkelahi, bukan berarti dia berani mengungkapkan rasa suka pada perempuan. Aku tidak pernah mendengar dia memiliki pacar. Jadi, semakin jelas bahwa ada kemungkinan bahwa dia suka padaku. Mungkin skenarionya adalah mengulang apa yang pernah dia lakukan padaku—menolongku. Dia akan menjadi penolong dan mencabut kutukan itu dan aku akan suka padanya. Terdengar aneh bahkan mirip dengan Darma yang ingin aku menjadi pacarnya—walau dia sudah jelaskan bahwa dia hanya mengetes urgensi dari masalahku.

__ADS_1


Orang seperti Ajeng yang punya kebiasaan mengambil barang-barang kecil rasanya sulit menemukan motif darinya. Apakah aku punya barang yang sangat ingin dia diambil? Jika pun ada, dia tidak perlu mengirim kutukan. Lain lagi Hendra, satu-satunya motif yang paling mungkin baginya untuk mencelakaiku adalah soal perangko. Apa aku memiliki perangko langka yang dia inginkan? Di rumahku memang ada beberapa perangko, tetapi aku tidak yakin ada yang bernilai mahal hingga Hendra mau mengirimiku kutukan untuk mengambil perangko itu. Lagi pula, dari mana dia tahu jenis-jenis perangko yang kumiliki? Oh ya, aku ingat ada tugas soal kliping. Aku menempelkan perangko-perangko dalam klipingku, lalu kami memajangnya, dan aku mendapatkan nilai terbaik dari tugas itu. Adakah perangko yang ingin dimiliki Hendra di kliping yang sudah kembali ke tanganku itu?


Naya sahabat dekatku. Rasanya dia adalah orang yang tidak mungkin melakukan itu padaku. Namun, mengingat Darma memintaku mendeskripsikan motif-motif yang mungkin dari orang-orang terdekatku, aku memasukkan namanya. Jika harus kukatakan apa motif yang mungkin untuknya mengirimiku kutukan, satu-satunya yang terlintas dibenakku adalah agar aku mati. Aku pernah mengatakan pada Naya jika asmaku tidak akan pernah sembuh kecuali aku mati. Naya sangat peduli padaku, mungkin dia berpikir jika aku mati siksaanku akan penyakit asmaku akan hilang.


Terakhir, Hani. Dia adalah sosok paling aneh di kelas. Jika aku harus memikirkan motif yang mungkin untuk dirinya menjadi seorang pelaku adalah untuk membuatku berteman dengannya. Jika kutukanku diketahui orang-orang, aku akan dikucilkan. Aku akan dianggap aneh dan terabaikan, sama persis seperti Hani yang sama sekali tidak dipedulikan oleh siapa pun.


Aku menceritakan itu pada Darma, tetapi aku menghilangkan masalah penyakit asmaku. Jadi, aku mengubah motif Naya. Sahabatku itu punya motif agar aku bertemu ayahku ketika aku mati. Karena setelah ayahku mati, Naya selalu menganggapku berubah. Namun, itu seperti motif yang terlalu mengada-ada. Naya tidak akan pernah melakukan itu.


"Kepintaran, kecantikan, kesombongan, rasa suka, barang kecil, perangko, kematian, dan pertemanan," Darma sepertinya sedang memikirkan motif-motif itu—dia sudah mencatatnya di bukunya.


"Siapa yang paling mungkin melakukan itu padaku?" tanyaku. "Motif mana yang paling masuk akal?"


"Apakah Ajeng sering mengambil barang milik orang lain tanpa ketahuan?" Darma balik bertanya.


"Ya. Dia sangat ahli dalam mencuri. Mungkin dia hanya klepto. Dia ketahuan kalau kita menggledah tasnya, tetapi sama sekali tidak pernah ketahuan saat dia menjalankan aksinya," terangku. "Apa kau curiga dengan Ajeng? Dia justru paling tidak mungkin, kan?" jawabku yang diakhiri dengan ekspresi tidak percaya.


"Tapi motifnya?"


"Pelakunya sebenarnya mungkin bukan Ajeng, dia bisa bekerja sama dengan siapa saja," ungkap Darma.


"Orang suruhan, ada yang menyuruhnya ...," gumamku seraya mengangguk-angguk.


"Saya hanya mengambil penarikan sementara. Jawaban atas masalahmu masih cukup jauh. Saya akan segera melakukan penyelidikan," kata dia. "Apa kamu mau berbagi nomor telepon rumah?"

__ADS_1


Aku mengangguk. Aku menarik buku dan pensilnya, kutulis nomor telepon rumahku di salah satu halaman. "Kau laki-laki pertama di sekolah yang tahu nomor telepon rumahku," jawabku.


"Bagaimana dengan Pak Farhan? Kepala sekolah pasti tahu nomor rumah semua keluarga murid, kan?" tanya Darma.


"Siswa laki-laki pertama," ulangku dengan kesal.


Dia tersenyum, mungkin dia bangga. "Saya akan selalu memberikan kabar atas perkembangan penelitian ini. Saya juga akan menelepon jika membutuhkan data lain lagi."


"Baiklah."


"Ini buku yang kemarin ingin kamu pinjam dari perpustakaan, bukan?" Darma menunjukkan buku merah itu.


Sejarah Pemujaan Iblis


Aku menerima buku itu. Namun, rasanya begitu aneh memegang buku semacam ini. Aku akan membacanya di rumah.


"Tidak terasa sudah petang ya, kamu harus pulang agar sampai rumah sebelum gelap," kata Darma.


Aku mengangguk, lalu berdiri. "Rajo, ayo pulang!"


Adikku kemudian berlari, menunjukkan beberapa belalang yang ada di dalam plastik. "Aku dapat delapan."


Kami berdua pulang, meninggalkan Darma di depan markasnya. Tadinya, aku ingin meminta maaf karena pikiran-pikiran burukku tentangnya. Namun, itu justru akan membuatnya semakin tidak nyaman. Jadi kusimpan saja.

__ADS_1


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2