Dedarah

Dedarah
Episode 33


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Darma benar-benar menungguiku sampai aku selesai latihan berenang. Dia ada di samping mobilnya sembari merokok. Aku tidak suka laki-laki yang merokok, tetapi aku tidak akan menentangnya hanya karena hal itu. Kurasa dia merokok hanya untuk mengusir bosan dan dia tidak pernah terlihat merokok di sekolah—ada banyak siswa yang selalu merokok di warung samping sekolah.


"Aku duluan ya," kata Byru yang kemudian berjalan ke arah lain—kami keluar bersama.


"Hati-hati," jawabku yang melambai kecil ke pemuda tinggi itu.


Saat aku kembali memandang Darma, dia sudah membuang rokoknya. Dia melambaikan tangan ke arahku sembari tersenyum.


"Maaf ya, kau jadi menunggu lama," kataku.


Dia menggeleng. "Tidak apa-apa," jawabnya yang pandangan justru mengarah ke sesuatu di belakangku.


"Lihat apa?" tanyaku yang ikut menoleh ke belakang. Darma memperhatikan Byru.


Kami kembali saling tatap muka.


"Temanmu?" pertanyaan Darma membuatku menahan senyum. Apa dia cemburu?

__ADS_1


"Iya, dia yang selalu mengajariku berenang," jawabku jujur.


"Oh," kata dia. "Saya juga bisa mengajarimu berenang," jawabnya.


"Bagaimana kalau kau ajari aku main bulu tangkis saja?" tanyaku.


Ekspresinya langsung antusias. "Boleh, ayo kapan?"


"Nanti kita bicarakan lagi," kataku, "ayo bukakan mobilnya."


"Ah siap, Tuan Putri," ujarnya sembari membuka pintu mobil untukku.


Aku hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan seperti itu.


Darma adalah orang yang menenangkanku di rumah sakit tadi. Dia yang membuatku tidak larut dalam ketakutan. Aku bersyukur karena ada pemuda ini di sampingku. Dia bahkan rela menungguiku cukup lama. Rasanya akan begitu bersalah jika kelak aku tidak membalas budi atas jeri payahnya.


 


"Kalian berdua?" Sari tampak sangat bingung karena ada aku dan Darma di beranda rumahnya. Ekspresinya langsung berubah kesal.


"Sari," panggil Darma pelan. "Boleh kita mengobrol?"


Sari menoleh ke arahku. Dia tampak marah. "Asal jangan ada dia," katanya.


Darma ikut menoleh ke arahku, tersenyum. "Serahkan pada saya. Kamu tunggu di mobil saja ya," kata dia seraya memberikanku kunci mobilnya.

__ADS_1


Aku tidak punya jawaban, akhirnya aku putuskan menunggu Darma mengobrol dengan Sari. Kurasa itu lebih baik. Namun, aku merasa begitu was-was. Ada rasa enggan saat meninggalkan mereka berdua di sana. Apa aku cemburu? Aku buru-buru menggeleng.


Menunggu di dalam mobil, aku menyalakan radio. Aku memilih-milih saluran. Lalu menemukan sebuah saluran yang menarik, sebuah acara wawancara dengan mantan penganut sekte sesat.


"Bagaimana sekte sesaat yang Anda masuki, pada siapa kalian menyembah?"


"Sekte ini sangat rahasia, bahkan nama sektenya saja saya tidak tahu. Kami melakukan penyembahan pada raja iblis. Tempat penyembahan selalu diganti-ganti, itu membuat kami sulit diendus keberadaannya."


"Terdengar sangat privasi, ya. Apa yang Anda peroleh setelah memasuki sekte itu?"


"Aku tidak memperoleh apa-apa. Justru aku kehilangan sesuatu yang sangat penting—kebebasan. Raja Iblis akan memberikan apa saja yang kami mau asal dengan pertukaran yang sepadan. Aku sempat bernegosiasi dengan iblis melalui perantara, meminta untuk diberikan kekayaan yang melimpah. Namun, saat dia meminta nyawa adikku sebagai imbalan, aku langsung menolak. Aku ingin keluar dari sekte itu, tetapi benar-benar sangat sulit.


Aku terus diancam dan dihantui, sampai sekarang pun masih. Namun, aku berani menceritakan ini karena aku tidak mau ada orang lain yang terjerumus ke lembah hitam sepertiku. Jika kita ingin hasil, kita harus berkerja keras. Jangan mencari jalan pintas yang justru akan membuat kita tersesat."


Aku langsung ingat tentang buku merah itu. Aku rasa, aku masih menyimpannya di tas tanganku. Aku segera mengambil tas tanganku yang ada di dalam tas gendongku—aku membawanya untuk memasukkan pakaian dan perlengkapan mandi untuk latihan renang. Kutemukan tas tanganku dan buku merah itu masih ada di dalamnya.


Aku segera membuka-buka halaman buku ini. Kutelusuri tentang bagaimana seorang anggota sekte sesat bisa bebas. Di dalam sini dijelaskan jika seorang anggota sekte yang memilih keluar memang akan terus diteror, bahkan ada yang sampai dibunuh—seolah-olah mati secara wajar. Aku tidak bisa mempercayai buku ini seratus persen, tetapi kalau memang benar begitu, aku semakin ngeri dengan topik yang sedang ingin kugali ini.


Saat melihat dari jendela mobil, Darma sedang berjalan ke mari, aku langsung menutup buku dan mengganti saluran radio.


 


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2