Dedarah

Dedarah
Episode 19


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Hari Minggu adalah hari libur yang kuisi dengan kegiatan di kota. Aku ikut dalam sebuah komunitas renang untuk remaja. Komunitas itu selalu mengadakan latihan berenang bersama di kolam renang yang ada di gelanggang olahraga. Tidak ada biaya yang dipunggut untuk ikut komunitas ini. Syarat masuknya hanyalah dengan menulis sebuah tujuan kenapa kami ingin masuk ke dalam komunitas itu.


Tujuanku yang ingin melatih pernapasan agar asmaku tidak sering kambuh pun diterima. Aku sudah menjadi bagian dari komunitas ini sejak tiga bulan yang lalu. Biasanya, kami berenang dari jam dua siang hingga jam empat. Awalnya aku ingin berhenti sejak kutukan itu datang. Namun, karena aku memakai penutup kepala saat berenang, kemungkinan rambutku akan tetap aman.


Walaupun sudah tiga bulan bergabung dalam komunitas ini, tidak ada anggota lain yang dekat denganku. Memang, ada beberapa anggota laki-laki yang kadang memulai obrolan denganku, tetapi mereka selalu tak aku acuhkan. Kecuali satu orang, Byru.


Dia tidak seperti remaja laki-laki lain yang sudah jelas hanya tertarik pada rupaku. Byru tampaknya hanya peduli denganku karena penyakit asma yang kuderita—semua anggota komunitas ini tahu. Jadi, beberapa kali dia membantuku berenang saat pelatih kami sedang membantu yang lain.


Berada di dalam air membuatku merasakan hal yang berbeda. Aku seperti sedang menyerahkan tubuhku pada air, menyatu dengannya seakan air adalah bagian dari tubuhku. Aku menikmati berenang, menggerakkan tangan dan kaki. Ini benar-benar melatih pernapasanku agar lebih kuat.


Duduk di pinggir kolam dengan handuk yang menyelimuti punggungku. Aku memperhatikan kolam yang masih diisi belasan anggota komunitas. Ini adalah kolam renang di dalam ruangan, jadi, pencahayaan berasal dari jendela di bagian atas tribune.


Byru keluar dari kolam renang dengan santai, menyugar rambutnya yang basah. Ia mendapati aku tengah memperhatikannya. Lalu, dia tersenyum ke arahku. Aku mengangguk canggung, membalas senyumnya.


"Apa kamu merasa ada perkembangan?" tanyanya yang duduk di ujung kursi panjang—menjaga jarak terhadapku.

__ADS_1


"Kurasa, iya. Aku paling buruk di antara semuanya. Namun, aku merasa mulai bisa beberapa gaya," kataku. "Tidak hanya gaya batu saat pertama kali bergabung di sini." Aku terkekeh.


"Itu bagus," kata dia yang memandangiku. "Kamu tidak keramas dan mengeringkan rambutmu dulu?"


Aku mengindari itu. Keramas akan membuat rambutku rontok saat aku menggosoknya. Aku meminimalisir menyentuh rambut sejak kutukan itu tiba. Memang saat bangun tidur, akan selalu ada rambut yang rontok di bantalku. Namun, tidak banyak darah yang keluar dan aku sama sekali tidak sadar karena saat aku bangun darahnya sudah mengering di kepalaku. Jadi aku hanya perlu membilas rambutku dengan hati-hati untuk membersihkan darah-darah kering itu setiap pagi.


"Nanti di rumah saja, aku lupa membawa sampo," kataku beralasan.


"Oh seperti itu," kata dia yang kemudian berdiri. "Aku duluan, ya."


Aku mengangguk.


"Hei Rema! Sama aku saja, jangan sama Byru! Dia punya gadis lain," bisik anak laki-laki yang aku lupa namanya itu sedang berada di pinggir kolam dan menggodaku.


 


 


Saat sampai di depan rumah, aku melihat mobil boks dan mobil Toyota Absolute Corona berwarna putih milik ibuku. Ibu pulang sore? Aku segera menaruh sepedaku ke tempat biasa—di sebuah garasi kecil di samping rumah.


Di beranda rumah, Ibu sedang bicara dengan seorang pria. Dia memberi uang pada pria itu dan mengucapkan terima kasih, lalu pria itu turun dari beranda dan menuju ke mobil boks yang kulihat sudah diisi pria lain di belakang kemudinya. Aku naik ke beranda.


"Siapa dia?" tanyaku.

__ADS_1


"Ayo masuk!" ajaknya yang kemudian membalikkan tubuh dan melangkah menuju ke dalam rumah.


Tanpa Ibu menjawab pertanyaanku tadi, aku sudah tahu jika pria tadi adalah petugas pengiriman. Yang membawakan piano hitam ini. Aku segera menyentuh piano ini, masih sangat mengkilap.


"Terima kasih," kataku ke Ibu.


Dia hanya mengangguk. "Malam ini sepertinya Ibu akan pergi, mungkin besok malam baru pulang. Kamu jaga rumah, ya."


"Mau ke mana?" tanyaku.


"Ada urusan," kata dia yang tidak ingin memberitahukannya.


Aku kembali menoleh ke arah piano, duduk di depannya—sudah disediakan kursi. Mencoba menekan tuts satu per satu. Bunyinya cukup keras, dari lantai dua pun pasti kedengaran. Aku menyuka ini.


"Rajo! Ibu pergi dulu ya," kata Ibu ke Rajo yang sedang bermain Nintendo.


"Bawa oleh-oleh kalau pulang," sahut Rajo yang hanya menoleh tak lebih dari dua detik.


Ibu tersenyum padaku dan kemudian keluar rumah. Ini bukan kali pertama dia menginap di tempat lain. Jadi, aku tidak terlalu mempersalahkan.


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2