Dedarah

Dedarah
Episode 27


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Kami buru-buru pergi dari kafe itu setelah membayar. Aku benar-benar panik sekarang. Darma terlihat kebingungan dengan tingkahku. Alih-alih pulang, aku justru memintanya untuk menuju ke kota. Aku tidak mau pulang dulu. Aku belum siap menghadapinya.


"Apa yang kau lihat tadi?" tanyanya.


"Di-dia," jawabku yang masih panik dan gemetaran. "Sosok itu. Wanita dengan rambut yang sangat panjang dan tangannya yang seperti gunting. Dia ada di langit-langit, rambutnya menyebar hampir ke seluruh arah. Dia sedang merangkak di sana," jelasku dengan menggebu-gebu.


Darma tampak ngeri, dia mencoba fokus menyetir sembari memikirkan respons atas penjelasanku. "Sekarang, kamu mau ke mana?" tanyanya.


"Ke tempat yang ramai dan terang," kataku. "Dia muncul saat tadi mati lampu, dan saat lampu kembali menyala, dia menghilang. Dia pasti takut cahaya."


"Baiklah, saya rasa tahu harus ke mana," kata dia. "Tempat yang akan selalu terang sepanjang malam."


Tiba-tiba, aku ingat buku merah itu, kuambil dari tas tanganku dan membuka halaman yang membahas tentang penyihir. "Ini yang ingin kubicaraan, tentang dia. Aku yakin jika dia adalah penyihir. Penyihir yang sudah mati dan kekuatannya tetap hidup. Kutukan itu bukan terletak dari rambutku yang bisa berdarah, tetapi tentang aku yang akan menjadi tumbal penyihir itu," jelasku yang lagi-lagi dengan menggebu. Aku masih sangat panik.


"Siapa pun dia, saya akan mencari tahu," ujarnya. "Tenangkan dirimu. Ada air mineral di loker, minumlah," suruhnya yang aku angguki.


Darma benar-benar bersikap layaknya seorang laki-laki. Dia tidak banyak bertanya ataupun menyalahkanku atas kepanikanku. Dia justru mencoba menenangkanku, dan menuruti kemauanku. Orang lain mungkin akan menganggapku sudah gila.


"Mengenai orang itu. Orang yang pernah memiliki masalah sepertimu. Kita bisa menemuinya hari Minggu," kata Darma yang tadi memang belum sempat membicarakan orang itu. "Aku sudah mendapatkan izin untuk mewawancarainya."

__ADS_1


Aku fokus pada kata pernah. Itu berarti dia sudah sembuh. "Bagaimana dia bisa sembuh?"


"Itu yang akan kita tanyakan. Bagaimana dia bisa sembuh dan bagaimana dia bisa bebas dari sosok itu," kata Darma.


Benar juga. Jika orang itu pernah memiliki rambut yang berdarah, itu juga berarti dia pernah diteror oleh sosok yang sama sepertiku. Darma membuatku kagum. Tidak hanya karena dia bersikap sebagaimana laki-laki yang harus bersikap menurut persepsiku, tetapi dia juga sangat pintar. Dia punya koneksi dengan kepolisian, tokoh-tokoh yang berpengaruh di daerah ini, dan itu cukup berguna untuk mencari informasi apa pun. Dia seperti sebuah mesin pencari.


Darma membawaku ke daerah kota yang cukup ramai, sebuah jalanan yang sangat terkenal di kota. Banyak anak muda yang berjalan di trotoar, sepanjang jalan banyak toko, dan suara musik yang menyenangkan. Darma memarkirkan mobilnya di bahu jalan tempat deretan mobil-mobil lain berjajar rapi.


"Kita jalan-jalan di sini saja, ya," kata dia seraya tersenyum—mencoba menenangkanku.


Aku mengangguk.


"Ayo," ajaknya sembari menjulurkan tangannya padaku.


Dengan ragu, aku menerimanya. Dia memandangku seakan memberitahu jika aku harus kuat dan percaya padanya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memang harus percaya pada pemuda yang kini kugenggam tangannya ini.


Kami berjalan bersama, di trotoar jalan. Aku mulai tersenyum kala melihat orang-orang yang tampak sedang bersenda gurau, tertawa, bermain gitar, dan bercengkerama dengan teman-teman mereka. Mereka seperti tengah melupakan berbagai masalah dan menikmati kehidupan santai di jalanan ini.


"Kamu ingin ke sana?" tanyanya sambil menunjuk ke arah sebuah toko piringan hitam.


Aku mengangguk. "Ayo."


Kami berdua pun melangkah ke sana. Aku dan Darma memilih-milih piringan dan membahas tentang musik. Dari legenda seperti The Beatles, hingga penyanyi yang sedang hits sekarang seperti Mariah Carey, Whitney Houston, atau band seperti Aerosmith dan Nirvana. Dia sepertinya sangat menyukai musik. Itu membuatku mengingat Ayah.


Ayah sangat suka dengan musik, bukan hanya suka, mungkin di darahnya mengalir jiwa music yang tinggi. Andai saja dia sukses dengan karir bermusiknya, mungkin segalanya akan berubah. Namun, dia hanya berakhir menjadi pemain instrumen di acara-acara yang tidak tentu digelar.


"Ini soundtrack-nya The Bodyguard," kata dia yang menunjuk piringan hitam dengan kover bergambar Whitney Houston.

__ADS_1


"Kau pasti suka ini," kataku seraya menunjuk piringan dengan kover gambar seorang bayi yang sedang berenang dan sepertinya tengah dipancing dengan selembar uang dolar.


"With the lights out, it's let dangerous. Here we are now, entertain us," dia menyanyi dengan gaya seperti Kurt Cobain dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tidak mirip," ejekku seraya tertawa.


"Saya sudah punya," jawabnya dengan bangga.


"Lalu, apa yang belum kau punya? Ini, Dangerous?" kataku menunjuk piringan hitam dari album milik Michael Jackson.


"Sudah." Dia mengangguk. "Koleksiku cukup banyak," tambahnya seraya memandangku.


Aku sedikit gugup karena dia lebih banyak menatapku daripada memilih-milih piringan hitam di sini. Aku dengan sengaja terus mencoba menghindari kontak mata antara kami berdua. Menurutku, ini terlalu cepat. Mungkin, Darma punya keyakinan besar bahwa dia akan menyelesaikan masalahku dan aku akan menebus janjiku. Namun, dalam waktu sebulan? Apakah itu mungkin untuknya? Ada sesuatu di dalam hatiku yang menginginkan dia untuk berhasil, bukan karena aku ingin sembuh, tetapi karena janji itu. Aneh.


"Pemadaman lagi?"


"Apa!"


"Ah, ini tidak seru."


"Kemarin juga kayak gini."


"Da-Darma, Darma," panggilku yang kemudian menjadi sangat panik karena tiba-tiba mati lampu. Tidak hanya di ruko ini, saat aku melihat ke luar pun sama saja. Semua lampu mati. Jalanan menjadi gelap.


"Tenanglah," kata dia.


"Dia, dia akan segera datang," kataku dengan gemetar. "Ayo pergi," ajakku yang kemudian menariknya keluar dari ruko.

__ADS_1


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2