
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Tentu saja masih ada cahaya dari bulan sabit di langit atau dari lampu-lampu mobil, tetapi segalanya tetap sangat remang. Hanya sedikit hal yang kulihat secara jelas. Itu membuatku panik. Sosok itu bisa ada di mana saja. Dia bisa bersembunyi di gang-gang sempit, dia bisa memanjat bangunan, bisa merangkak di jalanan. Hal itu membuatku semakin takut, gemetaran, dan merinding.
"Kau mau pulang?" tanya Darma.
Aku mengangguk.
"Ayo," ajaknya seraya menarikku menuju mobilnya.
Kami berjalan cukup cepat hingga beberapa kali aku menabrak orang yang lalu lalang. Semua orang tampak kecewa, malam yang mereka nikmati tiba-tiba menjadi seperti ini. Namun, beberapa masih ada yang tetap santai, memainkan gitar dan bernyanyi. Namun, hal-hal itu tak mengubah perasaanku yang tengah ketakutan—sangat.
"Jangan takut," kata Darma, "ingat jika saya ada bersamamu."
"Aku tidak akan takut jika kau ...," kataku yang tiba-tiba kuhentikan.
Dia berhenti, membalikkan badan dan berhadapan denganku. "Jika apa?"
__ADS_1
Aku mengatur napas, agak susah untuk mengeluarkannya. Namun, ini bukan serangan asma. Aku masih bisa bernapas. Aku menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Aku tidak akan takut jika kau bisa melihatnya."
Darma mengangguk-angguk tanda mengerti maksudku. Fakta bahwa dia tidak bisa melihat wujud itu adalah hal yang membuatnya punya kelemahan untuk melindungiku. Darma mencoba membuatku untuk tenang. Dia menatapku dan tersenyum. "Saya memang tak akan bisa melihatnya, tapi kamu bisa. Katakan apa yang perlu saya lakukan. Melawannya, menendangnya—saya tidak pernah menendang wanita. Namun, hantu sepertinya bisa diperkecualikan."
Aku tertawa dalam rasa panik. "Jangan membuatku tertawa pada situasi seperti ini."
Dia kembali tersenyum, lalu tangannya ingin menyentuh rambutku. Aku mundur untuk menghindarinya. Namun, kami berdua sama-sama terkejut saat melihat dari remang-remangnya cahaya bahwa beberapa helai rambutku tampak melayang dan menyentuh telapak tangannya.
"Dia semakin dekat," kataku dengan suara yang mulai serak.
Darma tak menanyakan apa-apa setelah apa yang dilihatnya. Kami pun berjalan cepat menuju ke parkiran. Aku mengatur napasku, sembari melihat sekeliling. Aku benar-benar was-was. Aku yakin, dia ada di suatu tempat. Emosiku sedikit terguncang saat bunyi klakson terdengar. Aku merasa sedang dikejar-kejar oleh sesuatu yang belum bisa kulihat.
Kami sampai di parkiran, Darma mengeluarkan kunci dan saat itu juga dia melepas genggaman tangannya dariku. Lalu kurasakan sesuatu yang aneh di tengkukku. Beberapa helai rambut sepertinya tengah bergerak-gerak di sana. Sontak, aku mencoba menyentuh belakang leherku. Rambutku kembali hidup. Aku melepaskan ikat rambutku karena ada rasa sakit yang sedikit terasa dari rambut yang terikat.
"Ayo masuk," kata Darma yang sudah membukakan pintu di depanku.
Tidak. Aku mundur, perlahan. Dari bawah mobil Darma, muncul untaian rambut yang merangkak menuju ke arah kakiku. Aku menunjuk ke arah rambut-rambut itu pada Darma, tetapi dia tampak bingung. Lalu, aku membalik dan memilih berlari.
"Rema!" teriak Darma yang sepertinya mulai mengejarku.
Aku benar-benar ketakutan. Aku menerobos orang-orang, untuk menghindari sosok itu. Aku tidak mau melihat ke belakang, dia pasti ada di sana. Apa yang dia inginkan dariku? Mengingat malam Jumat lalu, yang diinginkan darinya adalah menggunting rambutku dan mengambil darahnya. Namun, aku tidak akan memberikan itu. Aku harus menentangnya.
Saat berada di tikungan, aku memilih gang yang sepi. Berlari secepat yang aku bisa, aku berusaha tak menghiraukan orang-orang. Namun, saat tanpa sadar aku menoleh ke belakang, aku tersandung dan jatuh. Di belakangku, aku melihat dia. Sosok itu berjalan dengan rambutnya, tubuhnya melayang di atas rambut-rambut panjangnya. Salah satu tangan mengarah ke arahku—tangan berbentuk gunting itu.
__ADS_1
Aku mengatur napas. Tegang. Aku bangkit, mencoba berlari lagi. Mataku terasa sangat panas, aku mulai menangis. Tiba-tiba, mataku ditutup oleh rambutku sendiri. Aku tak bisa melihat apa pun. Di saat yang sama, kakiku terlilit. Aku kembali jatuh dan tas tanganku terlepas. Tubuhku kini dililit lagi. Bagian rambutku yang lain membungkam mulutku. Aku tidak bisa berteriak. Aku sesak napas.
Kini, aku merasa terangkat. Rambutku enyah dari mata, memaksaku untuk melihat apa yang ada di depanku sekarang ini. Sosok itu tepat ada di hadapan mataku. Sebuah tangan dengan jari berbentuk gunting mendekati wajahku.
"Rema!"
"De...
Suara Darma memanggil terdengar. Aku menggerak-gerakkan tubuhku, mencoba untuk melawan dan melepaskan diri.
"Rema, kamu di mana?!"
"Da... rah."
Ujung rambutku mengajukan diri untuk dipotong oleh jari itu. Darah mengucur. Rasanya benar-benar sakit. Lalu, saat aku ingin menutup mata, rambut-rambut lain menarik kelopak mataku agar tetap terbuka. Aku melihat rambut yang menutupi wajah sosok di depanku perlahan minggir, sebuah mulut terlihat. Lidah terjulur dan darah yang mengucur dari rambutku menetes ke lidah itu. Saat tetesan darah berhenti. Dia melepaskanku. Aku terjatuh, dan dia pergi.
Sesak. Aku merangkak ingin meraih tas tanganku yang tergeletak. Aku tak bisa bernapas sama sekali. Dengan tangan gemetaran, aku berhasil meraih tasku, mengambil inhaler dan segera menghirupnya.
"Rema!" Darma menemukanku.
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!
__ADS_1