
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
"Kamu mau membantuku, kan?" tanyaku pada Naya.
Kami ada di perpuskataan setelah pulang—perpustakaan tetap buka sampai pukul tiga. Naya masih memandangiku, dia bergidik. Dia masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.
"Boleh aku melihatnya?" tanya dia. "Maksudku, ayo gunting satu helai rambutmu. Bukannya aku tidak percaya, tapi..., ini sesuatu yang sulit diterima akal sehat, kan?"
Aku menggeleng. "Tidak. Kamu cukup percaya padaku." Aku menatapnya dalam-dalam.
"Oke, kayaknya kamu betul-betul serius," kata dia yang kemudian mengangguk ragu.
"Jadi, rencananya. Kita sempitkan dulu pelakunya. Mereka adalah salah satu anak di kelas kita. Pertama, kita harus mengumpulkan semua tulisan mereka, apa ada yang sesuai dengan tulisan di surat itu," kataku. "Kedu—"
"Tulisan tangan kan bisa dimanipulasi," sela Naya.
"Dengarkan aku dulu!"
__ADS_1
"Baik."
"Kedua, jika tidak ada yang mirip. Kita harus mencari saksi mata. Sabtu sepulang sekolah atau Senin pagi adalah kemungkinan seseorang bisa memasukkan surat itu ke dalam loker mejaku," ungkapku.
"Aku tahu siapa saja yang berangkat lebih awal dariku di Senin pagi. Gilang, Dewi, Sari, dan Ajeng," terangku. "Namun, aku tidak ingat siapa anak-anak yang pulang setelahku di hari Sabtu."
"Hari Sabtu, kamu ada di perpustakaan untuk berlatih demi olimpiademu sampai jam pulang, kan?" Naya tampak mencoba mengingat.
"Benar! Aku sudah membawa tas, jadi aku tidak sempat ke kelas dulu."
"Jadi, ini kerjamu. Mengingat siapa yang belum pulang setelah kamu keluar kelas."
Naya menggeleng. "Kurasa semuanya. Aku yang paling cepat keluar kelas, Ma."
"Kalau begitu tidak ada saksi. Kita kerjakan saja langkah pertamanya," kata dia.
Aku mengangguk. "Kita harus bisa memecahkan ini."
"Baiklah, siapa pun pelakunya, harus kita beri pelajaran!" sahutnya yang kini mulai antusias.
"Sepertinya kalian sedang mencoba memecahkan suatu masalah, ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depan kami.
Darma.
__ADS_1
Naya tampak girang. "Wah kebetulan, kami ingin memecahkan suatu mis—"
Aku membungkam mulut Naya. "Ini urusan gadis-gadis. Jika kau merasa jantan, tolong menjauh."
"Baiklah. Saya ada di sana jika butuh sesuatu," kata dia seraya menyengir dan menunjuk ke satu arah. Dia kemudian membalik dan sepertinya menuju ke arah lemari-lemari buku—arah yang sebelumnya dia tunjuk.
"Dia bisa memecahkan masalahmu," bisik Naya. "Kuyakin ini rumit. Kita berdua tidak akan bisa," lanjutnya yang berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya dia katakan.
"Kamu jangan bodoh," ujarku. "Dia bisa jadi pelakunya!"
Naya menggeleng ngeri. Ekspresinya tampak menyadari sesuatu. "Sebelumnya, aku yakin betul dia yang mengirim surat itu padamu. Namun, setelah apa yang terjadi. Aku berubah pikiran. Bukan dia. Aku akan membuat dia membantumu, aku akan buktikan kalau dia bukan pelakunya. Aku akan mencari tulisan tangannya!"
"Tidak," kataku. "Aku hanya ingin masalah ini hanya kita berdua yang tahu."
"Ta—"
"Aku dikutuk, Naya! Kamu tidakmengerti juga," kataku yang kemudian berdiri dan meninggalkannya sendiri. Aku ingin menangis—lagi.
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!
Terima kasih yang udah baca cerita ini ya, semoga kalian terhibur! Banyak teka-teki tersenyumbi di sini, jadi harus hati-hati pas baca. Bakal ada kejutan juga di akhir, tungguin terus ya!
__ADS_1