Dedarah

Dedarah
Episode 24


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


"Tumben kamu pakai baju itu," kata Ibu saat melihat aku memakai pakaian yang dibelikannya waktu itu. Sebuah pakaian hitam dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih.


Naya sangat cerewet soal bagaimana penampilanku untuk bertemu Darma malam ini. Aku sampai ganti baju lebih dari lima kali untuk memilih mana yang terbaik. Alhasil, aku memakai pakaian ini. Dengan jelana jins ketat, aku juga memakai jaket jins dengan warna senada. Memakai sepatu hitam dengan rambut dikucir kuda.


Tadinya, ide mengucir kuda rambutku mungkin akan membuatku sakit karena aku tahu bahwa rambutku hidup—dalam artian dapat bergerak sendiri—walau hanya di malam itu. Namun, ternyata tidak. Rambutku justru lebih aman jika dikucir kuda seperti ini.


"Kamu mau keluar, ya?" tanya Ibu seraya merapikan piring di meja dapur.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Dengan siapa?"


"Teman."


"Dengan Kak Darma, ya?" tanya Rajo yang tentu saja mendengar obrolanku dengan Naya.


"Siapa Darma?"


"Teman sekolah," jawabku.


"Kamu pergi dengan laki-laki? Ke mana?" tanya Ibu yang seperti heran.


"Tidak boleh?" tanyaku ke Ibu.


"Bukan begitu," kata dia. "Tidak masalah kalau kamu punya pacar."


"Dia bukan pacarku."

__ADS_1


Ibu tersenyum ke arahku, senyumannya seperti ingin mengatakan jika aku tidak perlu malu mengakui kalau Darma itu pacarku. Namun, dia salah sangka. Jika dia tahu aku bertemu Darma untuk membahas kutukan dan pemujaan iblis, aku tak tahu apa yang akan terjadi.


"Sebentar lagi dia sampai," kataku yang melihat jam tangan—aku disuruh Naya untuk memakai jam tangan agar aku selalu ingat waktu.


"Ibu khawatir karena ini malam Jumat," kata dia.


Suara mobil yang mendekat terdengar.


"Itu dia," kataku. "Aku akan baik-baik saja." Aku berdiri dan kemudian melangkah pergi dari dapur.


Setelah mengambil tas tangan yang berisi inhaler, dompet, dan buku merah itu aku menuju beranda. Sebuah mobil sudah terparkir di depan sana. Darma berdiri di samping mobil. Dia memakai jaket kulit hitam dan celana jins. Aku menelan ludahku karena dia terlihat sedikit berbeda. Tampan bukan kata yang tepat, karena dia selalu seperti itu. Aku belum menemukan kata yang cocok—lupakan.


Darma mengangkat tangannya dan tersenyum. Lalu, aku menyadari sesuatu. Kata-kata yang dikatakan Ibu tadi. Malam Jumat. Itu artinya malam saat aku bertemu dengan sosok itu. Apa dia akan kembali? Tidak. Aku bersama Darma. Jika pun dia datang lagi, dia akan datang selepas aku pulang. Sebelum itu, aku akan bersiap-siap.


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


Sampai bab, ini gimana nih perasaan kalian? Ada bagian yang kalian favoritkan, nggak?


Aku harap kalian suka sama cerita ini. Horornya emang nggak terlalu banyak, karena lebih ke proses terungkapnya misteri sih. Jadi, nanti horornya bakal pelan-pelan muncul. Semoga tetap bisa dinikmati, ya! Selamat membaca, ya! Jangan lupa berikan vote kalau suka! Thank you!


__ADS_2