Dedarah

Dedarah
Episode 36


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Kami berdua ada di ruangan ini, markas bawah tanah milik Darma. Seperti sebelumnya, dia membuka seragamnya menyisakan kaus tipis. Sekarang, pikiranku tidak seburuk yang lalu. Di sini memang cukup panas, Darma pasti gerah.


"Dari apa yang tertulis di sini, sudah jelas maksud dia adalah kutukan itu bisa dihentikan hanya dengan satu cara," ungkap Darma. "Memindahkannya ke orang lain."


"Apa?" responsku tidak percaya. "Bagaimana bisa aku melakukan itu? Membuat orang lain merasakan hal yang sama sepertiku. Itu tidak mungkin, kan?


Darma mengangguk, ekspresinya kurang senang. "Berikan pada saya," kata dia yang kemudian tersenyum.


"Tidak!" tolakku dengan keras. "Jangan bercanda, ya."


Dia menggeleng. "Orang itu akan mengirimu surat lagi, mungkin suratnya akan lebih tersembunyi. Bisa diselipkan di bukumu, tasmu, atau di kotak pensilmu, atau bahkan disembunyikan di bagian rumahmu. Kita tidak tahu dia akan menaruhnya di mana. Namun, jika kau menemukan caranya. Berikan saja kutukan itu padaku."


Aku menggeleng, tentu saja aku tidak mau. Bagaimana mungkin aku membuat orang yang sudah berkorban waktu dan tenaga untuk menyelesaikan masalahku menanggung beban seperti yang aku rasakan?

__ADS_1


"Apa pun alasanmu, aku tidak mau memberikan itu padamu," kataku dengan tegas. "Lebih baik, kita berikan saja pada pelakunya."


Darma mengangguk, lalu duduk di ranjangnya. "Saya sangat yakin jika saya akan menemukan pelakunya. Walaupun begitu, waktunya tidak pasti. Lain halnya dengan surat lanjutannya, itu pasti akan datang padamu. Saya tidak bisa melihatmu seperti malam itu lagi, saya tidak tega. Lebih baik, saat kamu menemukan surat itu dan tahu bagaimana cara memindahkannya, tolong pindahkan padaku saja."


"Apa ini artinya laki-laki akan melakukan apa saja untuk perempuan yang disukainya?" tanyaku yang benar-benar ingin tahu. "Jika iya. Aku tidak akan suka pada laki-laki!"


"Ta—" kata-kata Darma aku potong.


"Tidak bisa," kataku. "Lebih baik aku menanggung ini selamanya daripada memberikannya padamu."


"Kenapa?" tanya dia. "Aku yakin aku sangat kuat. Aku bisa menanggungnya."


"Kau ini bisa mengerti tidak sih!" keluhku yang kemudian naik ke tangga dan segera keluar dari bangunan itu. Aku sudah tidak kuat melihat kelakuan Darma yang memohon agar kutukan ini dipindahkan saja padanya.


 


 


Malam ini, aku di rumah sendirian. Ibu mengajak Rajo untuk pergi ke rumah Bibi di daerah dekat pantai. Mereka di sana dua hari. Itu bagus, Rajo butuh lebih banyak berada di luar rumah agar tidak melulu bermain game. Di samping itu, Ibu jadi punya waktu lebih bersama Rajo.


Setelah menonton televisi, aku bersiap untuk tidur. Aku menuju sumur, menimba air untuk dimasukkan ke dalam sebuah gentong. Gentong besar itu terhubung ke pipa dan mengalirkan air ke dua kamar mandi dan satu pipa untuk tempat cuci baju—Naya biasa wudhu di sini.

__ADS_1


Setiap melihat ke dalam sumur, aku agak takut. Ada insiden yang masih terus teringat di kepalaku. Entah itu mimpi atau benar-benar kenyataan. Walau aku merasa bahwa hal itu benar-benar terjadi, tetapi tidak ada yang bisa membuktikan. Jadi, aku selalu menganggap itu hanyalah mimpi seperti mimpi-mimpiku tentang iblis di hari-hari setelah itu.


Masih memandang ke dalam sumur, memperhatikan air yang bergoyang seusai kuambil menggunakan timba. Aku mengingat kembali kejadian itu. Malam saat adikku lahir. Saat Ibu tidur bersama dengan Rajo di kamar itu—kamar yang sekarang menjadi milik Rajo. Ayah tidur di sofa ruang tengah, dia siap siaga jika Ibu menginginkan sesuatu.


Waktu itu, aku yang masih berusia sepuluh tahun ingin ke kamar mandi. Aku takut, tetapi aku tak mau membangunkan Ayah yang sangat kelelahan. Jadi, aku memilih berjalan sendiri ke sini. Air dari gentong sudah habis, aku pun harus menimba. Karena aku begitu merinding kala itu, aku sampai menumpahkan air. Aku harus menimba lagi. Saat aku kembali untuk menaruh ember ke dalam sumur, aku mendengarnya. Suara berat yang mengerikan. Suara itu menggema, memanggil sesuatu, aku mendengar nama Kufa, itu yang kuingat. Asal suara itu dari dalam sumur.


Aku kecil menengok ke dalam sumur dan melihat sosok itu tengah merangkak keluar. Sosok hitam bertanduk dengan mata yang merah. Aku tidak mengingat lagi, sampai di situ. Aku rasa aku pingsan, tetapi aku terbangun di kamar. Kukira Ayah yang membawaku ke kamar, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Jadi, aku menyimpulkan bahwa itu hanyalah mimpi.


Sekarang pun, aku sedikit merinding menatap ke sumur. Karena sejak saat itu, sosok itu berkali-kali muncul dalam mimpiku. Mencoba melupakan kejadian itu, aku menuju pintu masuk ke lorong. Namun, tiba-tiba ada suara raungan. Seketika, sekujur tubuhku langsung dingin. Seperti sebuah sengatan merasuk melakui tengkukku.


Dari arah sumur. Kuyakin itu. Suara raungan yang berat dan menggema. Aku ingin menengok ke belakang, tetapi leherku seperti kaku, dan kakiku terlalu lemas untuk berani melangkah ke depan.


"Ya ayuha alkufaar," suara lirih terdengar sangat rendah dan berat.


Sontak, aku langsung berlari ke lorong dan menuju ke ruang tengah. Aku ketakutan, aku tidak bisa sendirian di sini. Aku menelepon Darma. Aku tahu ini hal bodoh hingga aku menganggunya malam-malam begini, tetapi aku benar-benar panik.


"Da-darma, kau bisa ke mari?" tanyaku yang dengan gelisah menoleh ke lorong menuju ke sumur itu.


Kututup gagang teleponnya setelah Darma mengatakan bahwa dia akan ke mari. Selama itu, yang bisa kulakukan adalah menunggu di beranda rumah.


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2