Dedarah

Dedarah
Episode 35


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Sari mendekatiku, dia memberikanku tumpukan surat. Dia sama sekali tidak mengatakan apa pun. Ekspresinya tampak kurang senang. Aku sendiri juga tidak bisa memberikan respons apa-apa padanya. Aku tidak bisa menyalahkannya karena dia mengambil surat-surat ini. Aku pernah bilang bahwa surat-surat itu untuknya dengan cara yang sangat tidak sopan—melemparkannya. Bagi orang lain, aku pasti sangat menyebalkan.


Selagi belum ada Naya, aku mulai membuka surat ini satu per satu.


Kak Rema, aku Tia adik kelasmu. Aku ingin sekali bisa jadi teman Kakak, aku ingin belajar bersama Kakak di perpustakaan. Aku sering lihat Kakak belajar di sana. Aku pengin jadi anak berprestasi kayak Kak Rema. Aku malu kalau bertegur sapa lebih dulu, jadi aku kirim surat ini lewat teman kelas Kakak.


Aku tersenyum kecil membaca surat ini.


Rema, aku suka kamu. Tapi, aku bukan hanya suka dengan parasmu. Aku suka sifatmu yang rajin dan konsisten. Maksudku, kau selalu rajin dan dapat mempertahankan nilaimu yang bagus. Aku melihat di masa depan, kau pasti juga akan mempertahankan kekasihmu hingga dia tak akan meninggalkanmu.


Surat ini sedikit lucu. Aku membayangkan di masa depan, aku akan menjadi sangat protektif pada pasanganku. Namun, tiba-tiba muncul bayangan Darma di benakku. Aku segera menggeleng.


Rema, aku ingin minta maaf. Aku tidak datang ke pemakanam ayahmu dulu. Ayahku dan ayahmu bersahabat baik. Ayahmu adalah sosok yang sangat inspiratif, dia menginspirasiku untuk melakukan apa yang aku suka, bermusik. Ayahmu sangat hebat. Aku tidak heran kau sangat berprestasi karena kau punya ayah yang mengagumkan.

__ADS_1


Aku terdiam. Siapa pengirim surat ini? Sebenarnya identitasnya tidak terlalu penting. Yang penting adalah ada orang yang mengingat ayahku. Mengingat betapa positifnya Ayah. Aku sudah lama kehilangannya, rasa sedih memang masih ada, tetapi aku sudah cukup kuat sekarang.


Untuk Dahlia, Dahlia Putri Rema. Gadis cantik yang juga cerdas.


Surat ini! Pelakunya. Dia benar-benar mengirimiku surat lagi.


Kau pasti sudah bertemu dengan Mayang. Sosok dengan rambut yang sangat panjang itu namanya Mayang. Dia akan datang setiap malam Jumat untuk meminta darah dari tujuh helai rambutmu. Berikan saja apa yang dia mau, jangan melawan, itu akan membuatmu baik-baik saja. Namun, jika kau menolak. Dia bisa sangat marah.


Tenang, kau tidak akan melakukan itu selamanya. Ada malam yang sakral saat kau bisa menghentikan itu semua. Kau hanya perlu mencari orang lain yang akan menerimanya. Itu membutuhkan suatu ritual yang mudah, tetapi karena ritual itu cukup rahasia. Aku menyimpannya di suatu tempat, kau akan menemukannya nanti.


"Aku ikut baca suratmu dong, Ma," suara Naya.


Tanganku yang bergetar saat memegang surat ini pun langsung buru-buru merapikan semua tumpukan surat di meja dan memasukkannya ke laci. "Tidak, kamu tidak boleh membacanya."


"Tidak apa-apa," kataku yang kemudian tertawa getir. "Aku hanya malu."


Dia ikut tertawa. Seakan melupakan masalah surat, dia menanyakan hal lain, "bagaimana kemarin kencannya dengan Darma?" Naya begitu antusias hingga menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Itu bukan kencan," elakku. "Kami melakukan penyelidikan," lanjutku berbisik.


"Tapi kamu menikmati waktu bersamanya, kan?" tanya Naya dengan senyuman aneh.

__ADS_1


Aku mengangkat bahu. "Bagaimana, ya," aku menggantungkan jawaban agar Naya terus penasaran.


Naya langsung mengoyang-goyangkan tubuhku agar aku menceritakan waktuku bersama Darma. Sahabatku ini memang selalu ingin tahu. Namun, tidak akan kukatakan. Kurasa, waktuku bersama Darma itu semacam privasi. Akan tetapi, Naya pasti tidak akan menyerah.


"Sahabatmu ini kan hanya ingin tahu," kata dia seperti pura-pura ngambek. "Pasti ada hal yang kalian lakukan ya? Hal yang rahasia," lanjutnya yang kembali menampilkan senyum menjengkelkannya.


Tiba-tiba, semua anak yang berdiri dan bergurau kembali duduk di tempat masing-masing, ternyata guru kami sudah datang. Bu Nikma masuk dengan aura yang positif, dia terlihat sangat senang.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Nikma dengan semangat.


"Pagi, Bu!" jawab kami.


"Bu Nikma mau menikah tahu," bisik Naya.


"Yang benar?" tanyaku ikut berbisik.


"Iya, beberapa hari lalu dia dilamar," jawab Naya yang membuatku ikut senang.


Setelah pelajaran ini, aku akan memberikan kadoku padanya. Aku juga akan mengucapkan selamat. Mendengar guru yang paling dekat denganku akan menikah membuatku merasa sangat gembira. Saking gembiranya, aku sampai hampir lupa tentang surat itu. Akan tetapi, untuk masalah surat itu, aku sudah bertekad akan ke markas Darma sepulang sekolah, aku harus membahasnya habis-habisan.


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2