
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
"Lama menunggu, ya?" tanyanya saat sudah duduk di jok kemudi.
Aku menggeleng. Dia memperhatikan buku yang kupangku.
"Aku belum mengembalikannya ke perpustakaan," kataku dengan canggung.
"Itu buku milik saya," jawabnya.
Aku mengerutkan kening.
Dia menyengir. "Maafkan saya tidak bilang dari awal. Saya sengaja menaruh buku itu di salah satu rak buku untuk menjebakmu. Saat di perpustakaan, saya lihat kamu sedang mencari-cari buku, lalu saya punya ide untuk menarik perhatianmu. Saya menaruh buku itu diam-diam. Ternyata kamu berhasil dijebak," jelasnya. "Sosok seperti Rema suka juga buku seperti itu."
Aku menonjok pelan lengannya. "Awas saja kau!"
"Laki-laki akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian perempuan yang dia suka, kan?" tanya dia seraya menoleh ke arahku.
__ADS_1
Aku langsung mengalihkan pandanganku dari sorot matanya.
Tanpa bicara lagi, Darma mulai melajukan mobilnya.
Darma bilang kalau Sari menyimpan surat-surat milikku di lacinya. Besok, Sari akan memberikannya padaku. Aku tidak tahu bagaimana caranya Darma bisa membujuk Sari untuk melakukan itu. Namun, hanya itu yang dia katakan sepanjang perjalanan mengantarku pulang. Kini, Darma tampak lesu. Apakah ada obrolan dengan Sari yang berdampak besar padanya.
"Kau ti-tidak apa-apa?" tanyaku.
Dia menoleh padaku, tersenyum dan mengangguk. "Kamu tidak perlu khawatir. Rahasiamu tidak saya beberkan pada Sari. Saya meminta surat itu baik-baik. Besok dia pasti akan memberikannya padamu," ujarnya dengann yakin. "Saya juga pasti akan terus mencoba mencari waktu untuk mengobrol dengan Bu Nina. Sekarang, masalah itu bukan hanya masalahmu. Aku juga punya tanggung jawab di pundakku."
"Jika kamu merasa telah membebaniku, buang saja perasaan itu," ungkap Darma seperti tahu apa yang sedang kupikirkan. "Saya menikmati ini. Justru, saya berterima kasih karena kamu mempercayakan ini pada saya. Saya tidak akan mengecewakan."
Mataku tiba-tiba memanas, seperti aku ingin menangis. Akan tetapi, aku urungkan. Aku hanya mengangguk. "Siapa yang merasa membebanimu, sok tahu!"
Dia tertawa kecil. "Kan saya bilang jika."
Aku tidak menjawab lagi. Saat sampai di depan rumahku, dia menghentikan mobilnya, lalu menoleh ke arahku. "Istirahat yang cukup ya," kata dia.
Aku mengangguk. "Terima kasih untuk hari ini, Darma," kataku yang dijawab dengan anggukan dan senyum olehnya. Aku pun membuka pintu mobil dan keluar.
__ADS_1
Melihatnya pergi membawa perasaan aneh di dadaku, seakan ada hal yang baru saja lepas dariku. Tidak bisa kupungkiri jika aku merasakan hal yang berbeda saat bersama Darma. Entahlah, mungkin hanya karena perasaan itu—merasa membebaninya.
Rajo tetap saja memainkan Nintendonya tanpa berhenti. Aku menyuruhnya mandi, tetapi dia tidak bergerak dari depan televisi. Aku yang sudah selesai berpakaian seusai mandi pun menuju ke ruang tengah dengan cukup kesal.
"Rajo. Cepat mandi! Kalau tidak mau, Kakak matikan televisinya," kataku yang sama sekali tidak digubris olehnya.
Karena kesal, aku mematikan televisinya. Rajo langsung menatapku dengan marah. "Mandi!" omelku.
Dia berdiri, lalu berlari ke lorong.
Sekarang, aku harus menyiapkan makan sebelum Ibu pulang. Belum saja aku melangkah ke dapur, suara mobil Ibu sudah terdengar. Aku memilih untuk menuju ke pintu depan dan membukanya.
"Ibu beli makan di kota, Kak Rema tidak usah masak," kata Rajo yang baru saja keluar dari mobil.
"Tadi, Ibu bawa Rajo ke ruko. Adikmu itu cukup membantu ternyata," kata Ibu yang juga baru keluar dari mobil. "Kamu, kenapa? Kok pucat seperti itu?"
"Kak Rema kok kayak mau nangis?" tanya Rajo. "Ayo masuk! Kita makan!" kata dia dengan senang langsung masuk ke dalam membawa plastik besar berisi makanan.
Ibu berdiri di depanku. "Kamu kecapaian, ya?" kata Ibu seraya mengusap lenganku.
Aku langsung memeluknya. "Bu, a-aku, aku takut."
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!