Dedarah

Dedarah
Episode 30


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Hari Minggu, aku dijemput oleh Darma. Kami berencana untuk mengunjungi orang yang pernah memiliki kutukan yang sama sepertiku. Berbekal secarik alamat yang mungkin dia dapatkan dari kenalan polisinya itu, kami akan mencoba mencari alamat itu di kota. Setelah itu, aku juga akan mencari hadiah ulang tahun untuk Bu Nikma, dan sorenya aku akan ke GOR untuk berenang.


Aku memainkan tanganku, aku sedang gugup. Orang seperti apa yang akan kutemui? Apakah dia mau berbagi cara agar kutukanku terhenti? Tiba-tiba kusadari Darma sedang memandangku—bergantian dengan memandang ke depan saat menyetir.


"Kamu terlihat sangat gugup," kata dia.


Aku mengangguk. "Aku punya harapan besar dengan bertemu orang itu."


Siapa yang tidak ingin lolos dari sebuah kutukan mengerikan seperti yang aku alami? Rambut berdarah. Rambut yang hidup dan menyerangku. Dan sosok yang menginginkan darah. Atau mungkin bukan darah, tetapi Dedarah? Sosok itu mengucapkan kata Dedarah setiap akan menggunting rambutku. Aku masih penasaran dengan artinya.

__ADS_1


"Apa kita mau cari kado untuk Bu Nikma dulu?" tanya Darma. "Aku sembari bertanya pada orang tentang alamat ini."


Hari Jumat, aku dan Naya tidak jadi ke kota karena aku masih terus memikirkan Darma dan Danu. Malamnya, laki-laki yang ada di sampingku ini menelepon. Dia berterima kasih karena aku sudah sangat berani menghentikan Danu di saat yang lain hanya menontonnya. Di situ, aku mulai sadar kalau Darma tidak punya teman dekat. Mungkin dia sangat populer, tetapi apa yang dia rasakan mungkin tak jauh beda denganku. Semua lawan jenis naksir padanya, tetapi lawan jenis justru membencinya. Tiba-tiba, aku merasa terhubung karena perasaan itu.


Darma menjelaskan tentang bagaimana Danu bisa memukulnya. Ternyata, teoriku salah kaprah. Danu sama sekali tidak menyukaiku. Bahkan, mungkin dia salah satu orang yang paling membenciku. Dari dulu, Danu menyukai Sari. Dia terus memaksa Darma untuk mau menerima Sari—dengan surat-surat ancaman. Hari Jumat itu, Danu berada di puncaknya. Dia menunjukkan diri dan menghajar Darma.


Secara diam-diam, Danu telah berkorban banyak untuk Sari. Mungkin tidak hanya Darma yang diancam untuk mau memacari Sari. Namun, pacar-pacar Sari yang lain mungkin saja juga mendapat perlakukan sama dan akhirnya menerima Sari. Melihat begitu banyak pengorbanan Danu yang menginginkan Sari bahagia memberikan kesimpulan bahwa siapa pun musuh Sari, itu juga musuhnya.


Akulah orangnya. Aku adalah musuh terbesar Sari. Jika Danu pelakunya. Maka sudah jelas motifnya adalah untuk mencoba melenyapkanku. Dengan begitu, Sari akan kehilangan musuhnya. Jawaban kenapa Danu lebih memilih berkorban di belakang dan justru tidak mau mendapatkan Sari adalah ketidakpercayaan dirinya. Danu merasa dirinya miskin dan itu bukan tipe Sari. Maka dari itu, Danu hanya bisa meledek Sari. Aku merasa sangat kasihan dengan Danu. Aku sangat berharap jika Danu bukanlah pelakunya.


"Iya, kita ke ruko souvenir dulu saja," jawabku seraya mengangguk.


"Surat itu, tetap tidak kutemukan lagi," kataku.


Darma menoleh padaku. "Bagaimana dengan hari-hari setelah surat itu, apa kau selalu membuang surat yang datang?"


Aku menggeleng. "Tidak ada surat sejak hari itu."

__ADS_1


"Menurutmu itu aneh tidak?" tanya dia.


Aku mengangguk. Biasanya tetap akan ada surat yang datang padaku, entah itu hanya satu atau dua. Namun, sudah seminggu lebih, tak ada satu pun surat yang datang lagi. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Mungkinkah satu dari mereka?


"Naya atau Sari," kataku. "Naya mungkin mengambil surat-suratku. Sejak hari itu, dia seperti penasaran dengan surat yang datang kepadaku. Begitu juga dengan Sari. Dia bisa saja mengambilnya," jelasku.


Darma mengangguk, tetapi tampak ragu. "Cukup masuk akal. Namun, Naya, pastinya bilang padamu, kan? Kamu pernah bilang Naya marah dengan Ajeng tentang masalah penghapus yang dia kira diambil oleh Ajeng. Dari hal itu, seharusnya Naya tidak melakukan hal serupa seperti yang dia duga Ajeng lakukan. Naya tidak akan mengambil surat itu tanpa sepengetahuanmu."


Aku menyetujui apa yang dikatakan Darma. Naya sahabatku tidak akan melakukan itu. "Bagaimana dengan Sari?"


"Kau ingin bertemu dengannya setelah bertemu orang itu?" tanyanya.


Aku mengerutkan dahi. "Kita berdua?"


"Iya."


"Ba-baiklah, ayo," jawabku meski masih ragu.

__ADS_1


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2