
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Apa yang terjadi padaku? Selama bersepeda ke sekolah aku terus bertanya-tanya. Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Setelah penyakit asmaku yang tidak ada tanda-tanda kesembuhan bahkan tidak ada harapan akan sembuh, aku didatangi sebuah penyakit lain—aku masih ragu apakah ini adalah penyakit.
Ada lebih dari 180 juta orang di negeri ini, kenapa aku yang harus mengalaminya? Kenapa harus aku! Sebuah kemustahilan jika rambut bisa mengeluarkan darah. Namun, kemustahilan itu tidak berlaku padaku. Apa yang terjadi dalam diriku telah menentang kehendak alam. Ini benar-benar bukan sebuah penyakit. Ini kutukan!
Mimpi itu bukan mimpi biasa. Sosok yang tak bisa kulihat telah mengantarkan darah untukku. Sebuah manifestasi dari datangnya kutukan. Siapa sosok itu dan siapa orang yang mengirim kutukan ini? Kenapa begitu banyak misteri yang menghampirku? Ini seperti aku tidak diberikan waktu untuk menyelesaikan satu masalah sebelum masalah yang lain muncul.
Beginikah takdir berjalan? Tidak ada keadilan dari hukum Tuhan. Tuhan tidak adil! Kemarahan membuatku menghentikan sepeda, menaruhnya di pinggir jalanan yang menembus hutan ini. Aku menahan emosi, netraku tengah didobrak oleh air mata yang berharap keluar sesegera mungkin. Aku memilih berjongkok di balik batang pohon. Aku menangis di sana. Walau aku mencoba agar tidak terisak, nyatanya aku tetap terisak seperti seorang anak kecil. Tubuhku gemetaran. Aku takut, aku bingung, marah, dan tidak mengerti. Kenapa harus aku?
"Satu, dua, tiga...," suaranya lagi.
Menghentikan tangisan—sangat berat kulakukan. Aku segera bangkit untuk berdiri, mengusap tangisku saat menyadari tidak jauh dari tempatku berada, gadis aneh itu tengah memandangiku. Hani lagi-lagi bermain petak umpet sendirian. Itu membuatku bergegas kembali ke sepedaku, menaikinya, dan mengayuhnya dengan cepat.
Tanah agak basah karena hujan, membuatku harus memilih bagian yang tidak licin. Akan tetapi, aku sedikit mengabaikannya karena aku benar-benar ingin menjauh dari Hani. Lebih tepatnya, aku ingin menjauh dari kelemahanku. Aku tidak suka dilihat dalam kondisi lemah, menangis, sakit, dan tidak berdaya.
"Ada yang bisa menyelesaikan soal ini?" suara sreorang pria terdengar. "Rema?"
Naya menyenggolku dengan sikunya. Aku sadar dari lamunan, guruku sedang menunjuk soal yang ada di papan tulis hitam itu.
"Ayo bantu jelaskan pada teman-temanmu, Nak."
"Anu Pak. Dewi juga bisa," kataku yang sedang enggan untuk ke depan.
"Oh Dewi, ayo maju, Nak," pinta Pak Tio, guru fisika yang sudah tua itu.
Dewi tampak sangat senang dan antusias, itu tak mengubah perasaanku. Aku kembali melamun. Diam, memikirkan segala keanehan yang menimpaku.
"Nanti ke perpustakaan lagi, ya," bisik Naya.
__ADS_1
Aku tidak menjawab.
"Siapa tahu Darma ada di sana lagi," kata dia dengan ekspresi penuh harap.
Alih-alih menanggapi Naya, suara tawa yang lirih lebih mengusikku. Aku menoleh ke belakang. Di bangku paling pojok, ada Hani yang sedang tertawa. Dia menyadari kalau aku memandangnya.
Ada rasa tak nyaman saat aku menyaksikan Hani berpura-pura menangis—menutup matanya dengan satu tangan dan melakukan gerakan bibir seperti terisak. Melepas tangannya, dia memandangku lagi dan tertawa. Hani mengejekku dengan caranya yang membuatku geram.
Aku mengangkat tanganku. "Pak, saya izin ke kamar kecil."
Kulangkahkan kaki, keluar dari kelas, untuk mengindari Hani. Lagi pula, aku tidak fokus mengikuti mata pelajaran sama sekali. Aku butuh sendiri. Seharusnya, aku tidak perlu ke sekolah hari ini. Itu yang akan dilakukan gadis lain jika mereka tiba-tiba mendapatkan kutukan aneh.
"Hei Rema," aku menoleh saat ada yang memanggilku. Itu Ajeng.
"Ada apa?" tanyaku yang mencoba bersikap sebiasa mungkin.
"Kamu aneh," kata dia.
Aku mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Nanti juga sadar sendiri," kata dia yang kemudian pergi—sepertinya dia juga ingin ke kamar kecil.
"Ah ada Rema, kebetulan sekali." Tiba-tiba, Bu Nikma sudah ada di depanku, tersenyum.
Aku menganggukkan kepala tanda mengormat. "Iya, Bu?"
"Nanti kita libur dulu ya latihannya. Ini ada soal-soal untukmu, kerjakan di rumah saja," kata dia seraya memberikanku beberapa lembar kertas.
Kuterima kertas itu. "Baik Bu."
"Kamu pucat sekali," kata dia seraya mencoba menyentuh rambutku—untuk dielus.
Aku buru-buru mengindar. "Hanya sedikit kelelahan, Bu."
Wajah Bu Nikma tampak tersinggung karena aku menolak untuk disentuh rambutnya. Akan tetapi, dia tetap tersenyum dan kemudian pamit untuk pergi.
__ADS_1
Kuperhatikan kertas yang ada di tanganku, kumpulan soal-soal untuk olimpiade—hal yang tadinya sangat membuatku antusias. Menoleh ke arah halaman lagi, Darma masih berlari ketika yang lain tampaknya sudah lelah dan memilih berjalan.
Muncul pertanyaan tentang segala hal yang dikatakan Naya tentang Darma. Benarkah dia sangat menyukai misteri?
Saat jam istirahat, aku dan Naya makan bersama di kelas. Kami berdua memang selalu membawa bekal. Aku kurang percaya dengan makanan yang ada di kantin sehingga aku sangat jarang membeli makan di sana. Lagi pula, aku juga tidak suka dengan pandangan orang-orang terhadapku.
"Hei kalian berdua!" kata Hendra yang memiliki tubuh gempal itu menunjukkan sebuah pigura kecil dengan perangko merah bergambar seorang pria di dalamnya pada kami.
"Jangan pamer lagi," ujar Naya. "Kami tidak pernah tertarik dengan pe—"
"Ini adalah perangko pertama di Indonesia, Ned Indie. Pria ini adalah Raja Belanda, Willlem III. Kalian tidak akan menyangka jika perangko ini diterbikan tahun 1864," terangnya dengan semangat. "Perangko ini benar-benar sangat langka. Seluruh filatelis di Indonesia mencari perangko yang punya kode N-1 ini. Jangan heran jika harganya bisa sampai jutaan rupiah. Kalian tidak akan pernah berkesempatan memiliki barang seperti ini," ungkapnya yang kemudian pergi.
"Kami tidak peduli!" teriak Naya pada Hendra yang sudah pergi—mencari korban lain untuk dipameri perangko itu.
Setelah selesai makan, aku merapikan kotak bekalku dan menaruhnya ke tas. Tanpa aku sadari, Naya sedang memperhatikanku.
"Ada potongan daun di rambutmu," kata dia yang seperti ingin mengambilkannya untukku.
Aku segera mundur untuk menghindar. "Jangan," kataku.
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa." Aku menghadap ke depan, enggan bicara pada Naya.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu," kata dia. "Apa Darma mengirim surat lagi?"
Tiba-tiba aku teringat surat itu.
"Mana, aku mau lihat suratnya!"
Aku sadar, surat itu bukan surat cinta yang biasa kudapatkan. Itu surat dari seseorang yang mungkin saja tahu tentang kutukan—aku telah memutuskan menyebut penyakit baruku ini dengan kutukan—yang kudapatkan.
Kau mungkin akan merasa sangat takut, sedih, dan marah. Namun, kau akan akan baik-baik saja.
Tidak salah lagi. Pengirim surat itu adalah pelakunya. Orang yang mengirimiku kutukan ini. Tidak salah lagi, pelakunya ada di sekolah ini!
__ADS_1
○●○
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!