Dedarah

Dedarah
Episode 12


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


"Besok Jumat, ya?" tanya Ibu.


Aku mengangguk. "Itu artinya Ibu tidak perlu ke kota. Ruko tutup, kan?"


Dia mengiyakan.


"Bu, aku mau Nintendo! Belikan, ya" pinta Rajo.


"Kamu saja tidak pernah mau belajar membaca dengan kakakmu, bagaimana kalau kamu punya Nintendo?" kata Ibu. "Semakin malas nanti."


"Dia sudah bisa membaca," kataku.


"Sejak kapan?" Ibu tampak sangat kaget.


"Anaknya sudah bisa baca saja tidak tahu, Ibu macam apa," gumamku.

__ADS_1


Ibu melirik ke arahku, tidak senang.


"Oke, Ibu belikan Nintendo," kata Ibu yang membuat Rajo langsung berteriak kegirangan.


"Hore!"


"Kamu, mau apa?" tanya Ibu.


"Aku?"


"Kamu kan yang ajari Rajo," ujar Ibu yang tiba-tiba manis terhadapku.


"Piano," aku mengarang. Aku memang ingin piano, tetapi Ibu pasti tidak akan membelikannya karena harganya yang cukup mahal.


"Besok ke kota beli Nintendo?" tanya Rajo.


Ibu mengangguk.


"Hore!"


Aku terdiam. Ibu kenapa? Kenapa tiba-tiba mau membelikanku piano? Padahal, saat ada Ayah. Dia sangat pelit. Entahlah, mungkin dia merasa bersalah padaku dan ingin membuatku sedikit senang.


Setelah membaca buku, aku minum tablet yang dianjurkan Dokter Ndaru kemarin sebelum aku tidur. Mulai terbaring di tempat tidur, aku mematikan lampu. Namun, aku membiarkan jendela terbuka agar tetap ada cahaya yang masuk ke kamarku. Biasanya, aku tetap membiarkan lampu menyala. Aku tipe orang yang tidur dengan lampu menyala. Namun, kali ini aku ingin mematikannya untuk melawan rasa takutku.

__ADS_1


Aku jadi ingat waktu kecil saat Ibu selalu menyuruhku agar mematikan lampu saat tidur. Aku tidak mau, tetapi saat aku tidur dia mematikan lampunya. Saat itu, ada petir dan aku bangun di kamar yang gelap. Suara aneh terdengar, seperti raungan, suara yang berat dan mengerikan. Aku bersembunyi di bawah ranjang—aku terlalu pendek untuk bisa menekan saklar agar lampu menyala kala itu. Saat kilatan cahaya petir datang, aku melihat bayangannya. Sosok besar bertanduk, kuyakin itu adalah sosok yang sering kulihat di mimpiku. Iblis.


Menarik selimut, aku mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Rambutku seakan memiliki indra peraba. Perasaannya sulit diungkapkan. Aku merasa seakan ada ribuan jari kecil di kepalaku.


Saat aku membuka mata, aku langsung kaget. Rambutku melayang-layang. Dengan cepat, aku menyibak selimut, menuju ke meja rias. Benar-benar tidak bisa di terima logika. Rambutku bisa bergerak. Rambutku hidup, dalam artian lebih hidup dari normalnya.


Kuangkat tanganku, untuk menyentuh rambutku. Pelan-pelan, rambutku menyelimuti tanganku. Lalu, kembali terlepas. Walaupun ini mengerikan, tetapi ada rasa kagum yang aneh kurasakan sekarang.


Dari cermin, aku melihat sesuatu yang aneh. Mataku kulebarkan agar benar-benar tahu apa yang sedang kulihat. Rambut, ya rambut yang sangat panjang sedang menjalar dari bawah ranjang ke atas ranjangku. Rambut itu memilki kekuatan yang sama dengan rambutku, bisa bergerak.


Rasa kagumku melayang. Sekarang aku ketakutan. Karena rambut-rambut itu sedang menuju ke arahku. Dalam kondisi gemetaran, aku langsung berlari menuju pintu kamar.


"Aargh!" pekikku saat terjatuh.


Aku melihat sejumlah rambut tengah mengikat kakiku. Aku ingin melepaskannya, tetapi apa yang terjadi malah sebaliknya. Rambut itu menjalar ke tubuhku. Aku tertarik, terangkat, dan terlempar kembali ke atas ranjang.


Rambut hitam dengan panjang yang tak bisa terukur sudah mengikat seluruh tubuhku, dari kaki hingga leher. Aku mengatur napasku dalam keadaan takut setengah mati ini. Aku tidak mau serangan asma datang lagi. Dari ujung ranjang, sosok pemilik rambut muncul, tak bisa kulihat wajahnya karena tertutupi rambut. Aku membuka mataku lebar-lebar saat dia mengangkat satu tangannya, aku sampai tak sadar jika air mata sedang menetes. Tangan panjang yang begitu kurus itu mengarah ke wajahku. Perasaan sesak di dada mulai muncul saat kusadari dua jarinya—yang harusnya jari telunjuk dan jari tengah—berbentuk seperti gunting.


"De...da...rah...."


Suara serak itu terdengar saat rambutku yang tengah melayang-layang digunting. Darah menetes dari sana. Aku tak bisa berteriak ketika rasa sakit di rambutku begitu terasa. Serangan asma. Aku sesak napas!


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2