
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Darma sudah mendengar semua ceritaku. Dia menatapku, seperti masih mencoba memahami cerita yang kukatakan dengan cepat tadi. Lalu, dia memutar, melihat ke atas, dan kembali menghadap ke arahku.
"Kau mungkin saja sedang paranoid," kata Darma. Ternyata dia sama saja. "Maksudku saat kau melihat adikmu melakukan hal berbahaya: menyeberang, melompat dari pohon. Lalu, masalah kutukanmu, bisa saya bilang ini semacam santet. Seseorang ingin melukaimu dengan menggunakan ilmu hitam.
Apa yang saya katakan ini disebut sebagai hipotesis. Jawaban sementara yang muncul dari praduga. Jawaban saya kemungkinan akan berkembang setelah kita mulai meneliti masalah ini," ungkapnya yang ternyata cukup meyakinkan.
"Bantu aku," kataku. "Aku memang tahu, kita tidak banyak bicara, bahkan kita tidak pernah saling memanggil—kecuali kau mungkin. Namun, kurasa aku sedang berharap padamu."
Aku menjadi sosok seperti ini—memohon dan mengharapkan orang lain—karena ada rasa dendam dan amarah yang ingin segera kuluapkan pada siapa pun yang telah mengutukku. Segala reputasi Darma yang sering dibicarakan orang membuatku punya harapan dia bisa membantuku. Aku tidak mungkin minta bantuan ke ibuku, atau orang dewasa lainnya.
"Saya cukup mengerti kondisimu. Rema yang sombong dan selalu mengusir saya sekarang sedang mencoba meminta bantuan. Tenang. Sebagai seorang gentleman, saya akan membantu," kata dia yang mulai menyebalkan. "Dengan satu syarat."
"Apa?" Aku tidak suka berbasa-basi.
"Jadilah pacar saya," jawabnya seraya tersenyum penuh kemenangan.
Jika masalahnya tidak seberat ini, mungkin aku akan segera menendangnya, dan meludahinya. Namun, kurasa ada peluang muncul di sini. Biarkan saja dia mengharapkan itu—menjadi pacarku—agar dia punya semangat lebih. "Aku akan mau jadi pacarmu, jika pelakunya sudah tertangkap."
__ADS_1
"Deal!" Darma mengajakku berjabat tangan.
Aku mengangkat tanganku dengan malas.
"Ayo, keluar dari hutan ini." Dia memandang sekitar. "Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan jika ada orang lain memergoki kita," ujarnya yang kemudian mulai berjalan.
"Arah keluar lewat sini," kataku seraya menunjuk jalan yang benar.
"Maaf," kata dia yang kemudian melangkah ke jalan yang kutunjukkan.
Darma ingin mengajakku ke markasnya. Aku tidak tahu apa yang dia sebut markas, mungkin rumahnya atau bangunan lain yang dia gunakan untuk menghabiskan waktu. Namun, aku bersikeras untuk mengecek Rajo di rumahku. Aku tidak bisa tenang jika aku belum melihat Rajo—yang asli—baik-baik saja.
"Kamu tidak memainkan nintendomu?" tanyaku.
"Nanti lagi," kata dia.
"Kakak mau pergi, kamu tetap di rumah ya," kataku.
Dia menoleh ke arahku. "Aku ikut!"
"Jangan," tanggapku seraya menoleh ke jendela depan. Aku tidak bisa melihat Darma dari sini.
__ADS_1
"Aku ikut! Aku mau ikut!" Dia buru-buru memasuk-masukan mainannya kembali ke dalam kotak.
Karena melihatnya ingin sekali ikut denganku, sepertinya tidak ada masalah jika aku bawa dia. Aku pun menaruh tas di kamarku dan mengganti pakaian sebelum ke luar menemui Darma lagi.
"Ini adikmu?"
Aku mengangguk.
Rajo mengajak Darma bersalam. "Namaku Rajo, Kak. Dahlan Putra Rajo."
Darma kemudian mengelus pelan kepala Rajo. "Nama Kakak, Darma. Darma Dwi Atmaja," katanya yang kemudian berjongkok di depan Rajo, menatap adikku dengan pandangan yang ramah. "Kau tahu arti namamu?"
Rajo menggeleng.
"Kau adalah pangeran yang akan membawakan berita untuk orang-orang di sekitarmu," ujar Darma.
"Seperti pembawa berita di televisi?"
Darma terkekeh. "Tidak. Berita itu mungkin sesuatu yang penting, yang besar, dan sangat berguna."
"Mungkin aku belum mengerti sekarang, tetapi kalau sudah besar aku pasti mengerti," kata Rajo.
"Anak pintar." Darma kembali berdiri. "Ayo, kita berangkat."
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!