Dedarah

Dedarah
Episode 13


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Aku terdiam di ranjang, tanpa suara, tanpa melakukan apa pun. Aku hanya diam mematung. Meski Ibu menggedor pintu agar aku keluar untuk sarapan dan berangkat sekolah, aku bergeming. Saat dia dan Rajo berpamitan untuk ke kota, aku sama sekali tak menjawab. Tidak ada hal yang bisa kulakukan. Lebih tepatnya, tak ada hasrat apa pun.


Setelah sosok itu menghilang, aku sama sekali belum tidur lagi. Aku gemetaran sepanjang malam. Tak bisa tidur. Perasaanku dipenuhi bayang-bayang mengerikan, perasaan digerayangi ribuan helai rambut di seluruh tubuh. Ketakutanku akan kedatangannya lagi memenuhi pikiranku. Seluruh tubuhku lemas dan nyeri. Sampai sekarang pun, aku masih gemetaran. Mataku tampaknya sudah mulai kering karena menangis sepanjang malam tanpa suara.


Aku tidak akan berangkat sekolah hari ini, itu sudah kuputuskan. Aku menggigil saat memikirkan kembali apa yang telah terjadi padaku. Perlahan, mataku mulai kembali basah, aku menangis. Kali ini bukan karena takut, tetapi karena marah.


Aku turun dari ranjang, melempar bantal dan guling. Menarik seprei, aku membuangnya entah ke mana. Berpindah dari ranjang, aku mengacak-acak nakas. Menuju meja rias, aku mengobrak-abrik segalanya yang ada di sana.


Dalam pantulan cermin, aku melihat seorang gadis dengan wajahnya yang pucat dan memerah, rambut yang acak-acakan, dan mata yang sembab. Sesuatu yang sangat jauh dari cantik.


Mengatur napas dan memandang cermin dengan kemarahan yang meluap-luap. Aku telah bersumpah. Tidak akan kumaafkan! Orang yang telah memberiku kutukan ini, dia tidak akan mendapatkan ampunan dariku. Aku akan melakukan hal yang lebih kejam dari yang dia lakukan padaku. Siapa pun dia, aku sangat membencinya.


Hari Sabtu, aku kembali masuk sekolah. Setiap anak di kelas kuperhatikan dengan penuh kebencian. Satu di antara mereka telah membuatku seperti ini. Satu di antara mereka telah membuatku hampir gila. Satu di antara mereka menginginkanku mati.


"Aku putus lagi," Sari tampak sedih.


Lagi-lagi, dia memulai dramanya.

__ADS_1


"Dasar kucing, ganti pacar aja terus," sahut Danu yang duduk di meja.


"Satu ..," suara Hani di pojok ruangan terdengar.


"Emangnya kamu punya, Dan?" tanya Gilang.


Danu menggeleng. "Tidak. Ada masalah?"


Hendra mendekati Sari. "Sari, ini adalah perangko kebahagiaan. Sekali kau melihatnya, ma—"


"Pergi dari hadapanku a—"


"Iya, iya. Aku pergi."


"Ajeng, mana pulpenku yang kemarin kamu pinjam!" kata Dewi yang tampak marah.


"Aku tidak meminjamnya," jawab Ajeng mengelak.


Entah bagaimana, setiap detail kata-kata acak yang mereka ucapkan dapat masuk ke telingaku. Seluruhnya, Indra pendengaranku seakan sedang mengalami penguatan dengan mencoba mendapatkan seluruh kata yang diucapkan mulut-mulut di kelas ini.


"Lima...."


"Tidak berhak?" Danu tampak marah.


"Iya, jomlo tidak berhak bilang kayak gitu."

__ADS_1


"Sudah lama aku ingin menonjok muka songongmu itu, Lang."


"Santai, jangan sekarang."


"Tujuh ...."


"Kita duel?"


"Ayo, kapan?"


"Kalian malah debat, dengarkan aku yang mau curhat," Sari menyela.


"Sembilan ..., sepuluh."


"Tidak aja jalan lain, Rema...."


Suara siapa itu? Aku mencari-cari asal suara terakhir yang kudengar.


"Hei!" Naya mengagetkanku.


Aku menatapnya dengan masih dalam kondisi panik. Naya duduk di sebelahku, melihatku dengan pandangan yang aneh, lebih tepatnya bingung.


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2