
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
"I-ibu," panggilku.
Dia tak menjawab. Hanya suara decitan pelan yang membalasa panggilanku. Tidak mungkin itu Ibu. Dia tidak akan menakut-nakutiku seperti ini. Siapa orang itu? Apakah pencuri? Aku menelan ludahku. Orang? Mungkin saja bukan. Siapa pun itu, suara decitan berasal dari langkah kaki yang menekan lantai kayu.
Tubuhku seperti tengah digoncang, gemetaran hebat melandaku. Keringat dingin kurasakan mulai turun. Aku ingin berlari, tetapi itu sungguh tidak bisa kulakukan. Kakiku terasa sangat berat. Yang bisa kulakukan adalah melangkah mundur secara perlahan—memaksa kakiku untuk terangkat.
"Rema," suara yang sangat lirih terdengar bersamaan dengan hilangnya suara decitan.
"Si-siapa kau?" tanyaku pada sosok yang kuyakin sedang berdiri di lorong gelap itu.
Tidak ada jawaban.
__ADS_1
Aku diam, sekarang aku benar-benar tidak bisa bergerak. Sesuatu mengalir pelan dari arah lorong gelap itu. Darah. Warna yang pekat dan bau yang anyir. Darah itu mengalir ke arahku, melemaskan kakiku. Aku jatuh terduduk. Mataku membelalak saat aliran darah itu muncul bak terjangan ombak. Mengenaiku, aku bermandikan darah. Aku tidak bisa bernapas, darah dalam jumlah tak terhingga hampir menenggelamkanku. Tidak. Aku sudah tenggelam. Jantungku tertekan, aku sama sekali tak bisa bernapas.
Suara petir terdengar begitu keras.
Aku membuka mata dalam kondisi tak bisa mengeluarkan napas. Dengan panik, aku meraba-raba nakas. Kutemukan inhalerku, mengocoknya dengan gemetaran, lalu menghirupnya sekuat tenaga menggunakan mulut. Aku kembali mengatur napas, pelan-pelan aku dapat kembali bernapas.
"Kak Rema! Kak Rema!" Pintu kamarku digedor-gedor.
Aku yang masih dalam kondisi mengatur napas dengan keringat bercuruan tak bisa berpikir logis. Aku tidak percaya sosok di balik pintu itu adalah Rajo.
Dia masih menggedor pintu. Keras, semakin keras.
"A-aku, aku takut petir," kata dia.
Aku belum menjawab, pikiranku masih tak karuan setelah mimpi mengerikan itu.
"Ayo, kembali ke kamarmu," kataku.
"Aku tidur dengan Kak Rema, ya," kata dia.
__ADS_1
Aku mengangguk.
Rajo terbaring di ranjangku, memeluk guling. Aku duduk selonjor di sampingnya, menggunakan bantal sebagai sandaran. Aku tidak bisa tidur lagi.
Tubuhku benar-benar nyeri. Terutama di bagian punggung. Apa aku kecapaian, ya? Air mengguyur tubuhku, membuatku merasa segar. Darah, ada darah yang bercampur dengan air saat aku mandi. Kepalaku berdarah. Mungkin aku menggosoknya terlalu keras.
Setelah selesai mandi, aku segera bersiap berpakaian. Sebelum memakai seragam, aku biasanya duduk di meja riasku. Aku memandangi cermin. Mengambil sisir, lalu aku merapikan rambutku pelan-pelan.
Rambut adalah bagian tubuh yang paling aku rawat baik-baik. Aku suka dengan model rambutku yang digerai dengan poninya. Ini seperti sudah menjadi ciri khas penampilanku. Walau banyak juga di sekolah yang rambutnya mirip denganku, tetapi aku tetap tidak ingin mengganti gaya rambutku agar beda dari yang lain. Menurutku, berusaha beda dari yang lain hanya akan membuat kita selalu tidak puas.
Poniku sudah terlalu panjang. Mungkin aku harus memotongnya sedikit. Menoleh ke nakas yang ada di samping ranjang, aku bangkit dan mengambil gunting yang ada di sana. Aku menimbang-nimbang seberapa panjang aku harus memotong poniku, setengah senti kurasa cukup.
Mengukurnya dengan sisir, aku segera tahu bagian mana yang musti kupotong. Akiu sergera memposisikan gunting dengan sempurna di bawah sisir. Dengan ini, aku mulai mencukur poniku.
"Ah!" teriakku.
Aku kaget. Jantungku seperti ditekan sangat keras. Sangat terkejut. Aku merasakan sakit yang benar-benar sakit di ujung rambutku. Melihat ke cermin, aku dibuat tak percaya. Darah menetes dari ujung rambutku yang digunting. Dan nahasnya, ini bukan mimpi. Ini benar-benar nyata. Rambutku berdarah!
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!