Dedarah

Dedarah
Episode 6


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama//FB: Andhyrama


○●○


"Ada apa?" tanya Naya.


Aku menggeleng.


"Aku tidak bisa konsentrasi nih. Aku masih memikirkan kejadian di perpustakaan," Naya kembali menggodaku.


Aku masih mencoba menenangkan diri, mataku tertuju ke arah Rajo.


"Rajo!" panggilku.


Anak enam tahun itu menoleh, tatapannya tampak bingung. "Kenapa Kak?"


"Ja-jangan dekat-dekat nontonnya," kataku yang kemudian dia angguki.


"Geregetan banget lihat kalian berdua saling berhadapan. Ah, aku sudah membayangkan kalau kalian berdua pacaran. Sari bakal semakin cemburu. Dari dulu kan Sari ngincar Darma. Semua cewek pasti cemburu deh!" kata-kata Naya tak kuanggap serius.


"Kita fokus ke PR, Nay," suruhku.


"Jangan-jangan surat itu dari Darma!" Naya yang tadinya tengkurap langsung duduk.


Aku mengerutkan dahi.


"Darma itu unik. Isi suratnya pasti aneh. Kamu tahu kan dia maniak kasus-kasus misteri? Mungkin saja dia ingin membuat suatu misteri yang akan menyeretmu. Entah bagaimana, dia akan memukaumu dengan kepiawaiannya itu. Kamu terperangkap dan jatuh cinta padanya. Kalian berdua pacaran. Itu kenapa dia kirim surat permintaan maaf terlebih dulu," jelas Naya yang seratus persen ngawur.


"Kalau dia unik, kamu tidak akan bisa menebaknya," kataku.


"Dia pernah membantu polisi menemukan pelaku pembunuhan! Bukannya itu keren? Kata temanku di kota, Darma sampai masuk koran lho! Lalu, dia pernah membantu menemukan anak kecil—mungkin seumuran Rajo yang tersesat di hutan, lalu dia pernah juga menemukan guci yang hilang beserta pelakunya!" Naya semakin menggebu-gebu.


"Terdengar seperti cerita detektif rekaan Agatha Christie," kataku yang mencoba tak peduli.

__ADS_1


"Pokoknya dia cowok paling keren di sekolah kita. Kamu harus bisa pacaran sama dia! Ayo dong bikin sahabatmu ini bangga!" Naya tampak memohon.


"Nay. Saat di perpustakaan itu, aku hanya menemukan buku aneh dan tiba-tiba dia mengambilnya sebelum sempat aku ambil," jelasku agar dia mengerti.


"Buku apa?" tanyanya.


"Biasanya kamu tidak peduli soal buku," sindirku.


"Aku ingin tahu buku yang dibaca sosok kayak Darma."


"Buku tentang penyembahan iblis," jawabku.


Naya tampak bergidik. "Dipikir-pikir, Darma seram juga ya. Suka buku kayak gitu."


"Dia kan suka kasus-kasus misteri, memangnya dari situ belum menyeramkan?" tanyaku seraya menyipitkan mata.


"Ah walaupun seram tetap keren," pendapat Naya tidak bisa diubah. "Lalu, kenapa kamu juga tertarik dengan buku itu?"


"Anu, itu... itu karena aneh saja. Masa, di perpustakaan kita ada buku kayak gitu," jawabku mengarang.


"Buku itu pasti sumbangan dari alumni," kata Naya yang kurespons dengan mengangkat bahu. "Jangan-jangan cowok ganteng kayak Darma juga," tambahnya yang kembali ngawur.


"Oke deh," jawabnya. "Aku minum dulu."


"Gimana tidak haus kalau dari tadi ngoceh terus," sindirku saat dia menghabiskan segelas sirup dalam sekali tegukan.


Akhirnya, kami benar-benar menggarap PR. Banyak soal yang Naya tanyakan padaku, sebenarnya hampir semua soal. Saat semua soal sudah dikerjakan, Naya menonton televisi sembari memakan camilan keripik singkong.


"Kak, apa aku boleh keluar?" tanya Rajo yang sepertinya mulai bosan menonton televisi.


"Ke mana?" tanyaku.


"Beli jajan," jawabnya.


"Jangan mampir-mampir ya," kataku yang kemudian dia anggkuki.


Rajo berdiri dan berlari ke kamarnya, sepertinya dia ingin mengambil uang. Sementara itu, Naya menoleh ke arah almari jam yang sudah menunjukkan pukul setengah empat.

__ADS_1


"Aku sholat Ashar dulu, ya," kata Naya yang setelah kuangguki kemudian berdiri untuk menuju ke tempat sumur berada.


Aku memilih merapikan buku-buku dan mengembalikan nampan isi teko dan gelas-gelas ini ke dapur. Di lorong, di balik pintu, aku mengintip Naya yang sedang wudhu. Dia selalu rajin beribadah.


Saat di dapur, aku sedikit heran karena ada salah satu pintu lemari yang terbuka. Aku tidak pernah meninggalkan lemari terbuka begitu saja. Saat aku ingin menutupnya, aku dibuat tercengang karena plastik keripik yang satu seharusnya ada di sini. Aku kembali merinding saat mengingat kejadian sebelumnya, Rajo—atau sosok yang menyerupainya—menabrakku di lorong dan menuju dapur.


"Mukenanya ada di lantai dua, kan?" tanya Naya.


"Iya, aku tidak pernah memindahkannya dari sana," jawabku yang kemudian melongok ke lorong. Kulihat Naya sudah berjalan menuju tangga ke lantai dua.


Setelah mencuci gelas dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Aku melangkah kelorong yang memang agak gelap ini. Mungkin karena sudah sore. Bunyi-bunyi kecil terdengar, seperti seseorang sedang makan seuatu yang renyah. Keripik? Aku segera menuju ke kamar Rajo. Suara itu dari sana.


Kubuka pintu kamar dengan hati-hati. Aku benar-benar merinding. Suara kunyahan itu masih terdengar. Kuintip apa yang ada di dalam kamar adikku itu. Pelan-pelan kudorong pintu ke dalam dan melangkah dengan ragu. Sosok kaki yang bergelantungan di ranjang terlihat.


"Kak Rema!"


Aku kaget saat menoleh ke ruang tengah, Rajo sedang membawa makanan ringan—


kurasa itu Chuba—sembari memperhatikanku dengan bingung. Aku yakin kalau keringat dingin sedang mengucur di pelipisku. Kubuka kamar Rajo dan tidak ada siapa pun di sana. Dengan cepat, aku menghampiri adikku, menunduk, dan menggenggam kedua lengan atasnya.


"Jawab pertanyaan Kakak dengan jujur!" pintaku pada Rajo yang kini tampak kebingungan. "Siapa yang kamu ajak bicara tadi pagi? Siapa yang bermain gunting tadi pagi?"


"Aku bicara pada mobil-mobilan," jawabnya dengan santai. "Gunting itu, Kak Rema yang memainkannya."


Aku menunjuk ke arah kamarnya. Tidak. Aku sedang kelelahan. Aku berdiri, dan memegangi kepalaku. Apa yang kulihat tidaklah nyata.


"Kamu melihatnya? Apa kamu melihat Kakak mengambil gunting?" tanyaku.


"Tidak."


"Kenapa kamu bisa bilang itu ulah Kakak?!" aku agak membentak.


"Ada apa, Ma?" tanya Naya yang baru saja turun dari tangga.


Aku melangkah, meninggalkan Rajo yang tampaknya ketakutan karena kubentak. "Aku ingin istirahat, hati-hati pulangnya," kataku ke Naya sebelum masuk ke kamar.


○●○

__ADS_1


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!


__ADS_2