Dedarah

Dedarah
Episode 7


__ADS_3

Dedarah


a novel by Andhyrama


IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//


○●○


Rajo tidak bicara sama sekali di meja makan. Diam-diam, dia mencuri pandang ke arahku, tetapi saat aku melihatnya, dia buru-buru mengalihkan perhatian. Dia pasti masih memikirkan perkataanku.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Ibu setelah menyelesaikan makan malam yang semuanya aku sendiri yang buat.


Ibuku punya Rambut yang lurus sepertiku, tetapi dia sedang ubah modelnya menjadi seperti Cristine Panjaitan—rambut bergelombang sepanjang bahu. Wajahnya cantik dan dia tetap terlihat muda walau usianya hampir kepala empat.


"Seperti biasa," kataku yang sedang tidak ada selera untuk bicara.


"Ibu sedang mencari rumah di kota," kata dia.


"Aku suka rumah ini," kataku yang tidak ingin pindah.


"Rumah tua ini?" sindir Ibu yang kemudian memandangi sekitar dengan agak jijik.

__ADS_1


"Jika Ibu pindah karena tidak ingin teringat tentang Ayah di rumah ini, kurasa itu bukan keputusan bijak," kritikku yang kemudian menuangkan air putih dari teko ke gelas.


"Ibu sedang mencari rumah yang jauh lebih bagus. Kamu mau kan tinggal di perumahan? Ibu juga akan memilihkan sekolah terbaik untuk Rajo. Kamu juga bisa pindah ke sekolah yang lebih baik, kan?" Ibu sedang mencoba meluluhkanku agar mau pindah.


"Memangnya Ibu punya uang? Toko di kota memangnya begitu menghasilkan, ya?" sindirku.


"Itu bukan masalah yang perlu kamu khawatirkan," kata ibuku yang tampak santai. Ia mengambil apel di meja dan mulai memakannya.


"Silakan aja Ibu pindah, aku masih mau di sini," ujarku.


"Ibu akan mengubah pemikiranmu," kata dia.


"Justru saat di kota, Ibu bisa memantaunya," kata dia seraya mengelus Rajo yang masih belum selesai menghabiskan isi piringnya.


"Terserah Ibu," kataku yang kemudian berdiri. "Kamarku bocor, kirim orang untuk membenarkannya," tambahku saat berjalan di lorong.


"Tidak ada kamar bocor lagi jika ada di rumah baru," kata dia yang membuatku menoleh kembali ke belakang.


Aku terbaring di ranjangku. Aku sudah menggeser ranjangku agar tidak berada di bawah bagian langit-langit yang bocor. Di lantai, sudah kusiapkan baskom untuk menampung air yang mungkin akan kembali menetes saat hujan.


Hari ini sungguh melelahkan. Banyak hal yang terjadi. Pikiranku benar-benar tidak karuan. Kutolehkan wajahku ke arah nakas, inhalerku ada di sana, di samping gunting besi. Aku kembali bergidik mengingat kata-kata Rajo, termasuk mengingat sosok mirip Rajo yang membuatku terus bertanya-tanya apakah itu nyata atau hanya halusinasiku.

__ADS_1


Menutup mata, aku ingin melupakan segala kejadian hari ini. Aku ingin menemukan mimpi indah yang selama ini sulit kutemui. Bunyi tetesan air terdengar, aku membuka mata dan menyadari bahwa hujan kembali turun—masih gerimis. Memandang langit-langit, aku belum menemukan bagian yang basah.


"Rema," panggil seseroang, itu Ibu. "Ibu tahu kamu belum tidur."


Aku mengangkat tubuhku dan duduk dengan kaki menapak ke lantai kayu. Dia ada di balik pintu kamar yang kututup.


"Ibu tahu kenapa kamu tidak mau pindah. Kamu masih sayang ayahmu. Dia memang selalu mengatakan jika rumah ini akan dipenuhi kebahagiaan, rumah ini akan selalu menjadi tempat yang kita rindukan, dan rumah ini akan selalu jadi milik kita.


Kamu benar. Ibu memang tidak sanggup menjaga Rajo sendiri tanpamu. Ibu juga tidak bisa melupakan ayahmu. Segala kenangan bersamanya selalu tumpang tindih saat Ibu ada di rumah ini. Itu sangat berat, Rema. Semoga kamu mengerti," ungkap Ibu yang kemudian mulai terisak, dia menangis—walau suaranya tersamarkan oleh suara gerimis.


Aku berdiri, membuka pintu. Aku diam mematung karena sama sekali tidak ada Ibu di sana. Gemetan, itu hal yang langsung kurasakan saat menyadari tidak ada siapa pun di lorong. Suara televisi terdengar, ada yang sedang menonton di ruang tengah. Mencoba menenangkan diri dari apa yang sebelumnya terjadi, perlahan aku melangkah di lorong remang ini—cahaya hanya berasal dari lampu kamarku.


Tidak ada siapa pun. Layar televisi pun hanya menampilkan bintik-bintik yang terus bergerak, tidak ada siaran. Aku mematikannya dengan cepat. Suara decitan terdengar, aku mundur beberapa langkah agar aku benar-benar berada di tengah ruangan—posisi yang memungkinkanku dapat melihat dua sisi lorong.


Lorong ke kamarku sama sekali tidak ada apa-apa, tetapi aku tidak bisa memastikan lorong menuju dapur. Di sana sangat gelap. Tidak ada kamar yang menyala membuatku tak bisa melihat apa-apa di sana. Cahaya di ruang tengah pun sangat remang berasal dari lampu di beranda rumah.


Suara decitan terdengar lagi. Aku memposisikan diriku menghadap lorong gelap itu, pelan-pelan mundur ke lorong kamarku. Seseorang sedang melangkah ke arahku. Ibu?


○●○


Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2