
Dedarah
a novel by Andhyrama
IG: @andhyrama// Twitter: @andhyrama// Shopee: Andhyrama//
○●○
Berada di mobil bersama Darma membuatku sedikit gugup. Dia yang menyetir dengan fokus juga tampaknya juga gugup. Kami berdua masih sama-sama canggung. Bahkan, kami belum bicara selama lebih dari lima menit sejak Darma mulai menyetir. Aku menoleh ke arahnya, ragu ingin memulai obrolan.
"Ka—" kami saling bertatapan dan bicara bersamaan.
"Kau dulu," kataku yang langsung melempar pandangan untuk menutupi rasa malu.
"Kamu kelihatan beda dari biasanya," kata dia.
"Itu saja?" tanyaku.
"Saya sedang berlatih," ujarnya. "Perempuan biasanya suka dibilang berbeda dari biasanya."
Aku tertawa karena ekspresinya yang masih gugup. "Kau sudah tujuh belas, kan?"
Dia mengangguk. "Tentu saja. Kamu kapan?"
"Apa kau sedang mencoba mengetahui tanggal lahirku?" tanyaku.
Dia tersenyum kecil. "Tidak boleh ya?"
"Juli, tanggal empat," jawabku.
__ADS_1
"Seperti tanggal kemerdekaan Amerika," kata dia.
"Andai aku bisa request untuk lahir tanggal 17 Agustus ke ibuku," jawabku.
Dia tertawa, lalu dia menyalakan radio. Mencoba mencari saluran.
"Biar aku yang cari, kau fokus menyetir saja," kataku.
"Saya sangat yakin, kalau aku bisa menyelesikan masalahmu," kata dia. "Awalnya saya ragu, tetapi saat mendapatkan bukti bahwa kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami hal serupa. Saya rasa kita akan mendapatkan banyak hal baru setelah ini," ungkapnya.
Aku berhenti mencari saluran setelah mendengar lagu Terlalu Manis dari Slank.
Di malam yang dingin dan gelap sepi
Benakku melayang pada kisah kita
Terlalu manis untuk dilupakan
Tinggallah mimpi
Agak aneh rasanya mendengar lagu romantis bersama seorang laki-laki yang bukan siapa-siapa. Status Darma hanyalah seorang detektif—jika dia tidak keberatan disebut begitu, kuyakin tidak—yang ingin memecahkan kasus yang menimpaku. Namun, aku harus ingat kalau aku harus membayar perjuangannya.
"Kamu suka Slank?" tanyanya.
"Lumayan," jawabku. "Di masa depan mereka pasti akan menjadi legenda."
"Sudah," jawabnya. "Sepuluh tahun karir mereka sudah membuktikan itu."
Aku tersenyum, mengangguki.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja, kan?" dia bertanya lagi seperti khawatir.
"Iya. Aku baik-baik saja," jawabku. "Aku bukan penakut. Maksudku, ya aku kadang memang takut, paranoid seperti yang kau bilang. Namun, aku tidak akan lari dari masalah ini. Aku akan menghadapinya. Aku ingin guntingku kembali."
Dia kembali menghadap ke depan, fokus menyetir di jalanan yang sangat sepi ini. "Kamu ingin member saya tenggat waktu?"
Tenggat waktu? Itu cukup masuk akal. Aku tidak mungkin membuatnya menelusuri kasus ini selamanya. Banyak kasus yang bertahun-tahun tidak pernah selesai. Pembunuhan, pencurian, penculikan, hal-hal kriminal semacam itu tidak selalu bisa dikupas dengan tuntas. Sama halnya dengan kasus ini. Kutukan. Ini sangat sulit untuk dilacak.
"Sebulan?" tanyaku. "Apa itu waktu yang pantas? Maksudku, kasus ini memang sulit. Siapa yang mengutukku mungkin tidak akan bisa ditemukan. Lagi pula, aku tidak punya uang semisal kau mau mengerjakannya jauh lebih lama. Tapi janji tetaplah janji, aku akan tetap menjadi pacarmu jika kau berhasil menyesaikannya," kataku.
"Be-benarkah kamu masih mau?" tanyanya dengan agak canggung.
Aku mengangguk.
"Baiklah," ujarnya. "Saya rasa sebulan adalah waktu yang cukup. Namun, fokus saya bukan untuk menemukan pelakunya."
Aku menoleh padanya saat dia mengatakan itu. Bukan pelakunya? Apa maksudnya?
"Fokus saya adalah bagaimana caranya kamu bisa sembuh dari kutukan itu," kata dia.
Aku nyaris tidak percaya dengan kata-katanya. Dia benar. Seharusnya itu adalah fokusnya. Bagaimana caranya lepas dari kutukan ini, bukan bagaimana aku bisa menemukan pelakunya dan membalas dendam.
Terlalu manis untuk dilupakan
Walau kita memang tak saling cinta
Tak kan terjadi ....
○●○
__ADS_1
Bagaimana episode ini? Jangan lupa berikan komentarnya, ya!